Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Bambang Widiyatmoko memegang contoh LTS. Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Bambang Widiyatmoko memegang contoh LTS. Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Laser Tsunami Sensor Diklaim Lebih Baik dari Buoy

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Kautsar Widya Prabowo • 02 Januari 2019 19:10
Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengklaim laser tsunami sensor (LTS) memiliki perbandingan yang lebih baik dari sistem buoy milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Biaya perawatan buoy dianggap lebih murah.
 
Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Bambang Widiyatmoko menjelaskan berdasarkan informasi yang beredar untuk perbaikan bouy memerlukan anggaran Rp5 miliar. Sedangkan anggaran perawatan tiga buoy di Selat Sunda mencapai Rp15 miliar.
 
"Perawatan (LTS) kalau lasernya mati, Rp30-40 juta, lebih murah," kata Bambang di Gedung LIPI, Jakarta Selatan, Rabu, 2 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bambang menjelaskan LTS mengirimkan cahaya dari darat ke titik sensor LTS di tengah laut. Cahaya itu dikirimkan kembali ke pos pemantau. Cahaya atau laser tersebut ditempatkan dalam kabel fiber optik yang berada di dasar laut.
 
"Ketika terjadi pergerakan air laut yang tidak biasa atau ada tekanan yang berubah, sensor deteksi akan membelokkan cahaya yang akan menjadi tanda peringatan bahaya ke pos pemantau," jelasnya.
 
LTS dinilai lebih aman daripada buoy karena sistemnya berada di dalam laut. Buoy, kata dia, kerap rusak karena komponennya dicuri oknum tak bertanggung jawab.
 
Belum lagi buoy memerlukan power supply atau baterai yang diletakkan di dasar laut dengan kedalaman 200 meter. Tidak semua teknisi dapat bekerja dalam kedalaman tersebut.
 
"LTS tidak perlu power supply di tengah laut, semua komponen sensor di dasar laut aman dari pencurian atau terbawa arus dan biaya perawatan kecil," tuturnya.
 
Kendati demikian, tidak dipungkiri LTS memiliki kekurangan pada biaya yang cukup besar untuk pemasangan kabel fiber optik. Untuk harga kabel fiber optik bawah laut mencapai USD5 per meter, dengan panjang 20 kilometer. Kurang lebih membutuhkan dana Rp 1,5 miliar.
 
Besarnya biaya tersebut dapat diminimalisir dengan meletakkan kabel fiber optik dari pulau-pulau terluar. Sehingga jarak yang dihasilkan lebih pendek.
 
"Di Indonesia ada keuntungan yang ada, pulau kecil bisa digunakan, jadi tidak perlu jauh-jauh sehingga lebih mudah, dalam pemasangan," pungkasnya.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif