Bamusi: NKRI Sajadah Kita, Jangan Dirusak HTI

Sunnaholomi Halakrispen 02 November 2018 16:56 WIB
Pembakaran Bendera HTI
Bamusi: NKRI Sajadah Kita, Jangan Dirusak HTI
Massa PA 212 melakukan aksi untuk kedua kalinya sebagai reaksi pembakaran bendera HTI. Foto: Medcom.id/Sunnaholomi
Jakarta: Sekretaris Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) PDI Perjuangan Nasyirul Falah Amru meminta masyarakat jeli menilai aksi bela tauhid yang berlangsung siang tadi. Aksi itu dinilai kental dengan kepentingan politik. 

Menurut dia, aksi yang digagas Persaudaraan Alumni (PA) 212 itu tak beretika dan mengganggu. Nasyirul menilai aksi itu ditunggangi para politikus yang ambisius meraih kekuasaan dengan segala cara.

“Masyarakat jangan terhasut. Para pendiri bangsa sudah menggali Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa. Pancasila mengakui dan menempatkan Ketuhanan yang Maha Esa sebagai prinsip pertama." 


"Jadi, agama menjadi landasan moral, etika, dan tuntunan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Bukan sebaliknya, menjadi alat kekuasaan politik,” kata Gus Falah, sapaan Nasyirul, melalui keterangan tertulis, Jumat, 2 November 2018.

Gus Falah menyayangkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pemerintah masih bebas beraktivitas. Kondisinya semakin memprihatinkan karena kelompok ini disebut dekat dengan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, pasangan capres-cawapres Pemilu 2019.

Salah satu bukti kedekatan HTI dengan Prabowo-Sandiaga, kata dia, adalah saat politikus PKS, Mardani Ali Sera, menyampaikan gerakan ganti presiden dan ganti sistem. Mardani menyerukan hal itu bersama eks Juru Bicara HTI Ismail Yusanto. 

"Video Mardani dan Ismail viral di media sosial hingga berujung dilaporkan ke kepolisian," kata dia.
 
Jika dibiarkan, ia khawatir Indonesia menjadi kacau seperti di Suriah. "Aparat TNI dan Polri tak boleh lengah menghadapi gerakan yang nyata-nyata mengarah pada perpecahan bangsa. Jangan bawa HTI dan ISIS ke Indonesia.”

“NKRI adalah sajadah kita, kewajiban kita melestarikan sesuai ajaran para ulama,” kata Bendahara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut.

Gus Falah mengatakan masyarakat jangan terhasut mengikuti aksi bela agama atau bela kalimat tauhid yang dimanfaatkan untuk tujuan politik. “Aksi bela tauhid itu dengan tahlilan, muliakan Rasulullah SAW dengan manakiban, mauludan,” katanya.

Menghormati habib

Sebagai masyarakat nahdliyin, Gus Falah mengaku sangat menghormati habib. Oleh karena itu, dia berharap habib berperan aktif menahan berkembangnya ideologi radikal dengan menyampaikan pesan persatuan dan keteduhan.

“Kami sangat memuliakan habib. Kami ciumi tangannya, kami baca pesan leluhurnya. Habib yang kami muliakan ini jangan sampai mengajak masyarakat ke dalam HTI,” kata Gus Falah.

Untuk kedua kalinya, massa PA 212 melakukan aksi siang tadi. Aksi serupa sebelumnya dilakukan pada 26 Oktober. Aksi ini merespons pembakaran bendera HTI yang disebut dilakukan kader Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) di Garut, Jawa Barat.

Aksi ini awalnya akan digelar di depan Istana Negara. Namun, polisi menghalau. Mereka akhirnya hanya melakukan aksi di sekitar Patung Kuda, Jakarta Pusat. 

"Kenapa kita hanya sampai di sini (Patung Kuda). Apa yang ditakutkan? Benderanya? Lafalnya? Padahal bendera ini adalah bendera Nabi Muhammad yang menyatukan umat Islam," ujar salah satu orator aksi.

Pedemo menolak simpulan polisi yang menyatakan bendera yang dibakar oknum Banser adalah bendera HTI. "Yang dibakar ini bendera tauhid. Bukan bendera HTI. Aksi ini sebagai bentuk penyadaran semua pihak," ujarnya.





(UWA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id