Juru bicara vaksinasi covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Juru bicara vaksinasi covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Kemenkes Sebut Kemungkinan Hepatitis Akut Menjadi Pandemi Kecil

Antara • 20 Mei 2022 01:07
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut kemungkinan penyakit hepatitis akut menjadi pandemi relatif kecil. Sebab, perkembangan dan kecepatan pembahan kasus masih minim.
 
"Kalau kita lihat perkembangan kasus, kecepatan penambahan kasus, ini hepatitis akut misterius kalau berkembang seperti situasi pandemi rasanya kecil sekali," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, di Jakarta, Kamis, 19 Mei 2022.
 
Menurut dia, situasi hepatitis akut yang terjadi di dunia saat ini tidak mengancam. Bahkan penyebarannya tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
 
"Tapi tetap perlu kita waspadai karena WHO menyatakan sebagai penyakit yang berpotensi mencapai kejadian yang luar biasa," ucap dia.
 
Dalam epidemiologi, kata Nadia, tahapan-tahapan penyakit dimulai dari peningkatan kasus, kejadian luar biasa, wabah, endemi dan pandemi. Sementara itu, organisasi kesehatan dunia (WHO) baru sebatas meminta negara untuk berhati-hati.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau covid-19 kan sampainya pandemi. Kalau ini (hepatitis akut) WHO cuma mengatakan hati-hati nanti bisa terjadi kejadian luar biasa," ujarnya.
 
Nadia menyampaikan gejala hepatitis akut mirip dengan gejala hepatitis A yang penularannya melalui makanan. Namun, belum ada fakta ilmiah mengenai identifikasi virus dan pengobatan penyakit hepatitis misterius.
 
"Kita tidak tahu sebab penyakitnya, virusnya, mau obati pakai obat apa juga belum tahu, faktor risikonya belum tahu, bagaimana secara pasti menularnya seperti apa," katanya.
 
Baca: Kemenkes Pastikan Tidak Tutup Sekolak karena Hepatitis Akut
 
Masyarakat diimbau tetap menerapkan gaya hidup bersih dengan rajin mencuci tangan, tidak makan sembarangan, tidak berbagi alat makan dengan orang lain. Nadia mengatakan dari data kasus di Indonesia yang dimiliki Kemenkes, tujuh dari 14 kasus hepatitis akut terjadi pada usia di bawah lima tahun.
 
Kemudian, terdapat tiga orang dengan usia 11-16 tahun, dan empat orang berusia 5-10 tahun. "Risiko anak di bawah lima tahun lebih besar. Jadi kami merasa tidak perlu melakukan evaluasi pembelajaran tatap muka (PTM)," ucapnya.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif