medcom.id, Jakarta: Beberapa pihak mempertanyakan tak berfungsinya Emergency Locater Transmitter (ELT) di pesawat AirAsia QZ8501.
Ketua Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi menuturkan tak bereaksinya ELT saat pesawat mengalami kecelakaan adalah hal yang biasa terjadi.
Dia mencontohkan pesawat ELT Air France A330 yang jatuh di Samudra Atlantik pada 2009 lalu juga tidak mengirim sinyal. "ELT tidak berbunyi banyak terjadi," kata Tatang kepada Metro TV, Senin (29/12/2014).
Tatang menjelaskan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan ELT tak berfungsi. "ELT yang dilengkapkan pada pesawat itu bisa terlepas dan berbenturan dengan benda lain sehingga menglami kerusakan. Kasus ini biasa kami hadapi," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Federasi Pilot Indonesia Capt Ali Nahdi mengatakan setiap pesawat yang teregistrasi di Indonesia wajib menyamakan frekuensi Emergency Locater Transmitter (ELT) dengan Badan SAR Nasional (Basarnas).
Sehingga jika pesawat mengalami kecelakaan, misalnya jatuh ke laut atau berbenturan di udara, sinyal dari ELT itu langsung terdeteksi oleh Basarnas.
"Saya tidak tahu apa (ELT nya) sudah dikoordinasikan dengan Basarnas. Yang pasti, transmitter itu akan hidurp setelah pesawat masuk ke air atau berbenturan," katanya.
medcom.id, Jakarta: Beberapa pihak mempertanyakan tak berfungsinya Emergency Locater Transmitter (ELT) di pesawat AirAsia QZ8501.
Ketua Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi menuturkan tak bereaksinya ELT saat pesawat mengalami kecelakaan adalah hal yang biasa terjadi.
Dia mencontohkan pesawat ELT Air France A330 yang jatuh di Samudra Atlantik pada 2009 lalu juga tidak mengirim sinyal. "ELT tidak berbunyi banyak terjadi," kata Tatang kepada Metro TV, Senin (29/12/2014).
Tatang menjelaskan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan ELT tak berfungsi. "ELT yang dilengkapkan pada pesawat itu bisa terlepas dan berbenturan dengan benda lain sehingga menglami kerusakan. Kasus ini biasa kami hadapi," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Presiden Federasi Pilot Indonesia Capt Ali Nahdi mengatakan setiap pesawat yang teregistrasi di Indonesia wajib menyamakan frekuensi Emergency Locater Transmitter (ELT) dengan Badan SAR Nasional (Basarnas).
Sehingga jika pesawat mengalami kecelakaan, misalnya jatuh ke laut atau berbenturan di udara, sinyal dari ELT itu langsung terdeteksi oleh Basarnas.
"Saya tidak tahu apa (ELT nya) sudah dikoordinasikan dengan Basarnas. Yang pasti, transmitter itu akan hidurp setelah pesawat masuk ke air atau berbenturan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KRI)