Sejumlah pedagang membawa hewan ternak sapi mereka yang akan dijual di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Sejumlah pedagang membawa hewan ternak sapi mereka yang akan dijual di Pasar Hewan Sunggingan, Boyolali, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Idul Adha

Jangan Salahkan Penjual Jika Harga Sapi Kurban Mahal

Coki Lubis • 09 September 2016 22:39
medcom.id, Jakarta: Tradisi menunaikan ibadah kurban atau menyembelih hewan ternak dan membagikan dagingnya pada perayaan Idul Adha menjadi momentum yang meramaikan pasar ternak tiap tahun. Menariknya, aktivitas yang satu ini lepas dari logika pasar secara umum. Bila biasanya harga pasaran sapi hidup Rp55 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram, untuk sapi kurban harganya bisa mencapai Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Apakah ini bentuk eksploitasi pembeli oleh penjual?
 
Pakar peternakan dari Universitas Padjajaran, Rochadi Tawaf, mengatakan bahwa aktivitas pasar hewan kurban tidak bisa disamakan dengan pasar daging komersial. Karena penilaiannya juga berbeda. "Ini adalah bisnis ritual hewan kurban," ujar Rochadi kepada metrotvnews.com, Jumat (9/9/2016).
 
Sejatinya, penilaian konsumen terhadap hewan kurban yang akan dibeli sangat spesifik. Konsumen bukan membeli dagingnya, melainkan kelayakan fisik hewan yang akan dikorbankan sebagaimana yang telah disyaratkan. Semakin tinggi nilai kelayakannya, maka bisa semakin mahal harganya. Antara lain seperti aspek kegagahan, kemulusan, dan keindahan hewan kurban yang sepenuhnya mencerminkan selera pembeli itu sendiri. Artinya, merupakan penilaian subyektif masing-masing pembeli.

Menurut Rochadi, yang muncul dalam proses keputusan membeli hewan ternak ini adalah bentuk-bentuk dorongan spiritual seseorang, pengabdian terhadap Tuhan dan agama. Perintah berkurban pun diangkat dari kisah Nabi Ibrahim yang menerima wahyu agar menyembelih putranya, Ismail. Nilai ini yang diajarkan dalam ibadah berkorban, ketika keimanan seseorang sudah mendorongnya untuk mengorbankan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Ibrahim menjadi teladan tentang wujud ketakwaan seorang hamba yang amat patuh dan taat dalam melaksanakan perintah Tuhannya.
 
Artinya, lanjut Rochadi, yang dinilai adalah keikhlasan seseorang yang akan berkorban, memilih ternak yang bagus secara fisik. Mereka membeli yang terbaik di matanya, sesuai kemampuan masing-masing.
 
"Ya, berarti penjual tidak salah. Maka sulit juga bila dibilang ini eksploitasi," kata Rochadi.
 
Tradisi lain kebanyakan masyarakat saat hari raya adalah memasak dan menyuguhkan daging dalam santapan bersama keluarga. Tentu hal ini meningkatkan permintaan daging sapi di pasar. Alhasil, fenomena kenaikan harga daging pun menjadi ritual setiap perayaan Idul Adha.
 
Saat ini, harga daging sapi di pasaran berkisar Rp120 ribu per kilogram. Angka tersebut bertolak belakang dengan harapan Presiden Jokowi, yakni maksimal Rp80 ribu per kilogram.
 
Sebut saja di Aceh yang melestarikan tradisi Meugang, masyarakat memasak daging di rumah, setelah itu membawanya ke mesjid untuk makan bersama tetangga dan warga yang lain. Jelas ini meningkatkan permintaan terhadap daging. Dalam Meugang, setiap kepala keluarga akan membawa satu sampai dua kilogram daging untuk dikonsumsi bersama keluarga.
 
Tradisi ini memaksa pemerintah Aceh perlu menyiapkan pasokan daging yang cukup untuk pasar agar harga tidak melambung. Saat ini, harga daging di Aceh mencapai Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram.
 
Dalam pemenuhannya, pemerintah daerah memerlukan bantuan pemerintah pusat. Bagi Menteri Pertanian Amran Sulaiman, solusinya adalah impor daging beku yang harganya bisa lebih murah di pasar, berkisar Rp80 ribu sampai Rp100 ribu.
 
Sayangnya, solusi ini dinilai tidak berpengaruh besar. Di pasar, ternyata masyarakat Aceh masih lebih memilih daging segar. Artinya, pasar masih didominasi daging segar yang harganya bisa mencapai Rp130 ribu per kilogram itu. Simak ulasan dalam video berikut ini: Jelang Idul Adha, Harga Daging di Aceh Mulai Naik
 
Khusus Idul Adha, sebenarnya permintaan daging di pasar tidak setinggi Idul Fitri. Jadi, menurut Rochadi, langkah pemerintah mengimpor daging beku untuk menambah pasokan di pasar kurang tepat. "Bukannya saat Idul Adha masyarakat justru dapat menikmati daging gratis?," katanya.
 
Menurut dia, dalam upaya mengendalikan harga lewat mekanisme supply dan demand, pemerintah seharusnya mengimpor sapi siap potong. Karena permintaannya meningkat seiring ritual berkorban. "Saat Idul Adha orang dapat menikmati daging dengan harga nol perak kok," ujar Rochidi.
 
Pemerintah melalui Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) akan kembali mengimpor daging kerbau sebanyak 70 ribu ton hingga akhir tahun ini. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengintervensi pasar dengan memberi alternatif daging lain yang lebih murah dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat.
 
Memahami peribahasa kerbau punya susu sapi dapat nama menjadi agak relevan dalam situasi ini. Faktanya, daging kerbau yang diimpor, sampai pasar namanya daging sapi.
 
"Ya, bila itu ditulis daging kerbau, kira-kira ada yang mau beli tidak? Ini juga persoalan," kata Rochadi.
 
Impor daging beku yang dilakukan pemerintah adalah daging sapi dan kerbau. Kondisinya, masyarakat menganggap setiap daging yang dijual adalah daging sapi, tentu ini menguntungkan bagi pedagang.
 
Rochadi mengkhawatirkan, daging kerbau yang dibeli seharga Rp65ribu itu bisa dijual Rp100 ribu di pasar. "Kalau begini baru pembodohan masyarakat, yang untung pedagang lagi, yang rugi pemerintah lagi. Harga tetap mahal," kata Rochidi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADM)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>