ILUSTRASI: Sejumlah simpatisan mengibarkan bendera PDI Perjuangan saat kampanye di Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (29/3)/ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
ILUSTRASI: Sejumlah simpatisan mengibarkan bendera PDI Perjuangan saat kampanye di Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (29/3)/ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

FOKUS

Komitmen dan Tantangan PDI Perjuangan di Usia 44 Tahun

Sobih AW Adnan • 10 Januari 2017 19:58
medcom.id, Jakarta: Dibubuhi kata 'Perjuangan', partai politik hasil fusi kelompok nasionalis pada 1973 ini jadi tampak anyar. Pada 1999, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan mulai meramaikan percaturan politik Indonesia berbekal pengalaman sejak puluhan tahun silam.
 
“PDI Perjuangan adalah partai ideologis, dengan ideologi Pancasila 1 Juni 1945,” kata Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri saat pidato politik dalam rangka HUT ke-44 PDI Perjuangan, di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Selasa (10/1/2017).
 
Dengan usia nyaris separuh abad, PDI Perjuangan relatif konsisten menghadap kiblat pergerakannya. Ajaran Marhaenisme, menjunjung tinggi Pancasila dan prinsip kebinekaan masih menjadi platform andalan.
 
Dalam pidato politik ulang tahun partai yang dipimpinnya, Megawati setidaknya menekankan pada dua perkara yang dianggapnya penting. Pertama, perlunya kehati-hatian dalam mengambil keputusan politik.
 
Kedua, kader PDI Perjuangan, kata perempuan yang karib disapa Mbak Mega itu, wajib menjadi ‘Banteng Sejati’ pembela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
“Kepada kader Partai (PDI Perjuangan) di seluruh Indonesia, saya instruksikan jadilah ‘Banteng Sejati’ di dalam membela keberagaman dan kebinnekaan,” ujar Megawati.
 
Baca: Mega Minta Kader PDIP Mengedepankan Politik Beradab
 
Usia partai dan kematangan kader
 
Di hari besarnya, PDI Perjuangan mengangkat tema “Rumah Kebangsaan untuk Indonesia Raya”. Menurut Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, pokok pikiran itu diambil sebagai jawaban atas kondisi politik di Indonesia saat ini.
 
Ada sejumlah pihak yang mencoba mengingkari prinsip Bhineka Tunggal Ika, “Setiap warga negara adalah sama. Kader PDI Perjuangan dilarang membeda-bedakan status sosial, suku, agama, dan berbagai bentuk keyakinan lainnya," ujar Hasto , di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Selasa (10/1/2017).
 
Tidak hanya menjadi partai politik. Dengan menjunjung tinggi Pancasila PDI Perjuangan berjanji memberikan pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara.
 
Peneliti bidang politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro,  mengatakan  kematangan usia partai sudah semestinya melahirkan kader-kader yang mumpuni.
 
“Di usianya yang matang, PDI Perjuangan harus meningkatkan suksesi internal demi melahirkan kader yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Zuhro kepada metrotvnews.com, Selasa (10/1/2017).
 
Komitmen dan Tantangan PDI Perjuangan di Usia 44 Tahun
 
Hari ini, usia yang matang dari sebuah partai tidak secara otomatis menghadirkan kader yang mumpuni. Apa yang dialami PDI Perjuangan hari ini, kata Zuhroh, tak terlalu berbeda dengan keumuman partai-partai politik lainnya. Yakni memiliki persoalan dari sisi kaderisasi.
 
“Partai politik adalah rumah demokrasi. Harus bisa menghadirkan kader-kader yang bisa diandalkan dalam kontestasi. Kenyataannya, dari 101 pasangan calon Pilkada 2017 yang diajukan PDI Perjuangan tidak seluruhnya merupakan kader,” kata Zuhro.
 
Baca: 101 Pasangan Calon dari PDIP untuk Pilkada 2017  
 
Regenerasi jangan berhenti
 
Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDI Perjuangan di Semarang, Megawati kembali terpilih sebagai Ketua Umum periode 2015-2020. Dalam riwayat partai, Megawati menggenapi kepemimpinannya selama empat kali.
 
Menurut Zuhro, keberadaan Megawati dalam tampuk kepemimpinan PDI Perjuangan boleh dianggap keunggulan, bisa juga dinilai sebagai persoalan tersendiri.
 
“PDI Perjuangan terlalu menonjolkan peran Megawati, ditambah ada bayang-bayang Bung Karno (Soekarno),” kata Zuhro.
 
Regenerasi mau tidak mau menjadi bahan yang mesti dipersiapkan PDI Perjuangan. Kecenderungan bergantung pada satu figur dalam partai politik hari ini, kata Zuhro, bisa mengurangi nilai kematangan partai.
 
“Harus selekas mungkin. Istilahnya, jangan sampai datang hari jatuh pikir,” kata Zuhro.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADM)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>