Ilustrasi kondisi jalan akibat tsunami di Selat Sunda--Istimewa
Ilustrasi kondisi jalan akibat tsunami di Selat Sunda--Istimewa

Badan Geologi Bedah Penyebab Tsunami Selat Sunda

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Cahya Mulyana • 23 Desember 2018 10:50
Jakarta: Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Suhendar menegaskan pihaknya masih melakukan analisa menyangkut penyebab tsunami di Selat Sunda. Namun, sebelum kejadian terjadi letusan Gunung Anak Krakatau.

"Pada 22 Desember, seperti biasa hari-hari sebelumnya gunung Anak Krakatau terjadi letusan. Pukul 21.03 WIB tadi malam terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami," terang Rudi, Minggu, 23 Desember 2018.

Menurut dia penyebab tsunami masih didalami, termasuk kaitannya aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau. Terlebih terdapat alasan yang perlu dipastikan lebih lanjut untuk mendapatkan informasi utuh menyangkut penyebab tsunami.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Hal itu adalah saat tremor-tremor tertinggi yang selama ini terjadi sejak bulan Juni 2018 tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut, bahkan hingga tsunami. Material lontaran saat letusan-letusan yang jatuh sekitar tubuh gunung api masih yang bersifat lepas dan sudah turun saat letusan ketika itu," paparnya. Untuk menimbulkan tsunami sebesar itu, kata dia, perlu ada runtuhan yang cukup besar yang masuk ke dalam kolom air laut. Kemudian untuk merontokan bagian tubuh gunung Anak Krakatau yang longsor ke bagian laut diperlukan energi yang cukup besar, ini tidak terdeksi oleh seismograph di pos pengamat.

"Oleh karena itu, kami masih perlu data-data untuk dikorelasikan antara letusan gunungapi dengan tsunami,"pungkasnya.

Baca: 43 Orang Tewas Diterjang Tsunami Selat Sunda

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BKMG) menduga, tsunami Selat Sunda dipicu longsornya bawah laut. Itu karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Tsunami bukan dipicu oleh gempa bumi, tidak terdeteksi adanya aktivitas tektonik," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Jakarta, Minggu, 3 Desember 2018.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban tewas mencapai 43 orang, paling banyak di Kabupaten Pandeglang.

"Tercatat 43 orang meninggal dunia, 584 luka luka, dua orang hilang dan ratusan rumah rusak berat," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Breaking News Metro TV,  Minggu 23 Desember 2018.

Di Kabupaten Padeglang saat ini tercatat sudah 33 orang meninggal dunia, 491 orang luka-luka, serta 400 dan 9 hotel, termasuk 10 kapal rusak berat. Sedangkan, di Lampung Selatan, 7 orang dinyatakan meninggal dunia, 89 orang dirawat di rumah sakit karena luka dan 30 unit rumah rusak berat.


(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi