Sejumlah personel SAR dan TAGANA mengevakuasi korban longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jateng, Sabtu (13/12). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Sejumlah personel SAR dan TAGANA mengevakuasi korban longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jateng, Sabtu (13/12). ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Komnas PA: Indonesia Perlu Kurikulum Bencana

Yogi Bayu Aji • 14 Desember 2014 16:49
medcom.id, Jakarta: Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait menilai Indonesia memerlukan kurikulum bencana. Hal ini guna menghadapi jika bencana serupa longsor di Banjarnegara kembali terjadi.
 
"Kita tadi ketemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Anies Baswedan) bagaimana nanti itu dimasukan ke kurikulum kebencanaan. Ini belum (ada pendidikan kebencanaan), masih seperti ekstrakurikuler. Kalau tidak ada gempa, dia lupa (harus apa). Ini harus dimasukan kurikulum seperti di Jepang," ujar Arist kepada Metrotvnews.com, usai Peringatan Hari HAM 2014, di Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (14/12/2014)
 
Di Jepang, kata Arist, siswa akan mengikuti simulasi bencana sebelum memulai pelajaran di sekolah. Kegiatan ini selalu dilakukan setiap harinya. "Walaupun mereka tak tau kapan terjadi itu, tapi mereka sudah simulasi-simulasi. Kenapa kita tidak? Itu kan hanya sepuluh sampai lima belas menit," jelas dia.

Materi soal bencana, lanjut dia, perlu diberi porsi khusus pada pelajaran di sekolah. Pemerintah pusat sampai daerah perlu menggodok materi ini sesuai dengan kondisi lingkungan yang mereka hadapi.
 
"Kita punya Gunung Merapi dan Sinabung contohnya. Itu kan bisa saja jadi bencana yang sangat besar kalau tidak antisipasi," pungkas dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OGI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>