Ketua Yayasan Hatta, Halida Hatta, saat memaparkan sosok karakter teladan Bung Hatta di Sekolah Pemikiran Bung Hatta yang digelar di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Rabu 28 Oktober 2026 (Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)
Ketua Yayasan Hatta, Halida Hatta, saat memaparkan sosok karakter teladan Bung Hatta di Sekolah Pemikiran Bung Hatta yang digelar di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Rabu 28 Oktober 2026 (Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan)

Meneladani Bung Hatta, Etika Kepemimpinan dan Jalan Sunyi Pemimpin yang Rela Berkorban

Muhammad Syahrul Ramadhan • 29 Oktober 2026 11:33
Ringkasnya gini..
  • Menjadi pemimpin sejati berarti harus siap menempuh jalan sunyi dan rela berkorban.
  • Etika kepemimpinan yang diwariskan sang Proklamator yang mana jabatan digunakan sepenuhnya untuk kebahagiaan rakyat.
  • Pembinaan kebangsaan tidak cukup hanya menyasar kader partai, tetapi juga harus menjangkau masyarakat luas.
Jakarta: Menjadi pemimpin sejati berarti harus siap menempuh jalan sunyi dan rela berkorban. Pesan inilah yang ditekankan oleh Ketua Yayasan Hatta, Halida Hatta, saat memaparkan sosok karakter teladan Bung Hatta di Sekolah Pemikiran Bung Hatta yang digelar di NasDem Tower, Jakarta Pusat, Rabu 28 Oktober 2026.

Menurutnya, etika kepemimpinan yang diwariskan sang Proklamator yang mana jabatan digunakan sepenuhnya untuk kebahagiaan rakyat, bukan kepentingan pribadi adalah kunci mutlak untuk merawat bangsa di tengah maraknya keserakahan saat ini.

"Dalam tulisan-tulisannya, Bung Hatta banyak sekali menekankan bahwa rakyat harus bahagia. Etika bagi seorang pemimpin itu adalah memimpin berarti berani menderita. Ternyata Haji Agus Salim juga mengatakan hal yang sama. Prinsip untuk berani berkorban dan menderita demi kebaikan masyarakat ini berlaku universal sampai kapan pun, jika kita benar-benar mau merawat negeri ini," tegas Halida Hatta.

Halida menegaskan, pemikiran Bung Hatta tentang tanggung jawab politik tetap relevan. Partai politik harus menjadi wadah penyaluran aspirasi rakyat secara bertanggung jawab, berlandaskan kecintaan terhadap tanah air, serta mendorong lahirnya kebijakan yang adil dan berpihak pada masyarakat.
 

Halida menilai, pembinaan kebangsaan tidak cukup hanya menyasar kader partai, tetapi juga harus menjangkau masyarakat luas. Semangat bela bangsa dan tanggung jawab kebangsaan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar wacana.

“Bagaimana menumbuhkan perasaan kebangsaan dan tanggung jawab kebangsaan. Itu bukan sekadar wacana, tetapi bagaimana diwujudkan dalam aksi,” ujar Halida.

Ia juga mengapresiasi konsistensi Sekolah Pemikiran Bung Hatta yang digelar Partai NasDem dalam membahas pemikiran tokoh bangsa, mulai dari demokrasi, ekonomi, dan hukum hingga agama dan pendidikan. Diskusi berkala serta penerbitan buku dinilainya bermanfaat untuk memperluas wawasan masyarakat.

Halida berharap, Sekolah Pemikiran Bung Hatta dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk memperkuat pendidikan kebangsaan dan membangun praktik politik yang bertanggung jawab.

Sekolah Pemikiran Bung merupakan kolaborasi Partai NasDem dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) serta Yayasan Hatta.




Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>