Jakarta: Bertepatan dengan momentum historis Hari Sumpah Pemuda serta rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-15 partai, DPP Partai NasDem resmi menggelar kegiatan "Sekolah Pemikiran Bung Hatta" (SPBH) di Auditorium Galeri Kebangsaan, NasDem Tower, Jakarta Pusat, Rabu 28 Oktober 2026.
Melalui agenda strategis ini, Partai NasDem menahbiskan diri sebagai pelopor partai politik di Indonesia yang secara khusus mendalami gagasan besar sang Bapak Bangsa. Program ini merupakan kolaborasi Partai NasDem dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) serta Yayasan Hatta.
Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Hermawi Taslim, menyampaikan rasa bangganya atas terjalinnya kerja sama ini. Ia menyebut kelas yang diikuti oleh 50 kader terpilih dari unsur pimpinan partai tingkat daerah dan anggota DPRD (DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat) ini merupakan wujud nyata komitmen partai. Selain itu, acara ini juga diikuti ratusan peserta yang bergabung secara daring melalui video conference.
“Partai NasDem mencoba mendidik kader agar tidak menjadi politisi tok, tapi juga politisi yang beretika dan berintegritas. Hal ini sudah kami lakukan sejak tujuh tahun lalu. Kader diajari bersiasat, tetapi itu semua harus selalu diimbangi dengan etika,” tegas Taslim menggarisbawahi pentingnya acara yang sengaja digelar pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif LP3ES, Fahmi Wibawa, menyoroti rekam jejak intelektual Bung Hatta yang diakui dunia. “Bung Hatta bukan hanya sekadar pendiri bangsa, penyelenggara negara, atau wakil presiden. Beliau adalah seorang scholar (cendekiawan) yang aktif di dunia pendidikan,” paparnya.
Fahmi menambahkan bahwa tingginya penghormatan terhadap ketokohan Hatta bahkan dibuktikan dengan keberadaan jalan Mohammad Hatta di Belanda, negara tempatnya menimba ilmu selama 10 tahun.
Terkait penyelenggaraan SPBH, Fahmi menjelaskan bahwa LP3ES telah menghimpun tulisan dan pidato Hatta selama 30 tahun ke dalam 10 jilid buku, di mana jilid kesepuluh baru saja dirilis. “Di tengah keprihatinan kita akan krisis negarawan dan tata kelola negara yang niretika, acara ini mengupas pemikiran Hatta untuk dipraktikkan. Harapan kami, melalui acara ini, lahir sosok-sosok negarawan yang bersikap penuh integritas, mewakafkan dan mendedikasikan dirinya untuk negara,” ungkap Fahmi.
Buku dari tulisan dan pidato Hatta yang diterbitkan LP3ES. Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan
Baca Juga :
NasDem Gelar Sekolah Pemikiran Bung Hatta, Bangkitkan Kembali Etika Negarawan dan Demokrasi
Fokus pada pemikiran Bung Hatta tentang berbangsa dan bernegara, Halida Hatta yang mewakili Yayasan Hatta, menjabarkan bagaimana visi sang ayah dibentuk oleh pengalamannya melihat ketidakadilan dan praktik kolonialisme sejak masa kanak-kanak di Bukittinggi. Menurut Halida, Hatta selalu menekankan bahwa belajar adalah proses seumur hidup agar bangsa Indonesia bisa tumbuh berkualitas.
Halida mengingatkan kembali pesan ayahnya tentang tata kelola negara, khususnya terkait sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang melimpah dari Sabang sampai Merauke.
“Bung Hatta adalah arsitek Pasal 33 UUD 1945. Sistem tata kelola sumber daya harus benar-benar dikelola dengan hukum yang baik. Jangan seakan-akan sumber daya alam dikuasai oleh orang per orang, melainkan harus dikelola untuk kemakmuran rakyat seutuhnya,” tegas Halida. Perekonomian rakyat, lanjutnya, harus didorong tumbuh dari bawah melalui asas kekeluargaan dan gotong royong, seperti halnya koperasi.
Lebih jauh, Halida menekankan krusialnya pembangunan karakter bagi para pengelola negara, sebuah aspek yang selalu ditekankan oleh Hatta. “Orang pintar sekali pun, jika tidak memiliki karakter, itu tidak berarti. Membangun karakter itu penting; di sana ada kontrol disiplin, kemampuan menilai diri sendiri, bermanfaat bagi masyarakat, dan bertanggung jawab kepada Tuhan,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Halida memberikan apresiasi tinggi kepada Partai NasDem atas inisiatif mencerahkan ini. “Kami sangat mengapresiasi NasDem yang mendidik kadernya dengan mengupas pikiran Bung Hatta. Ini adalah langkah dan inisiatif pencerahan yang sangat baik, tidak hanya bagi kader, tetapi juga bagi masyarakat luas secara umum,” pungkasnya.
Jakarta: Bertepatan dengan momentum historis Hari Sumpah Pemuda serta rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-15 partai, DPP
Partai NasDem resmi menggelar kegiatan "Sekolah Pemikiran Bung Hatta" (SPBH) di Auditorium Galeri Kebangsaan, NasDem Tower, Jakarta Pusat, Rabu 28 Oktober 2026.
Melalui agenda strategis ini, Partai NasDem menahbiskan diri sebagai pelopor partai politik di Indonesia yang secara khusus mendalami gagasan besar sang Bapak Bangsa. Program ini merupakan kolaborasi Partai NasDem dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) serta Yayasan Hatta.
Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Hermawi Taslim, menyampaikan rasa bangganya atas terjalinnya kerja sama ini. Ia menyebut kelas yang diikuti oleh 50 kader terpilih dari unsur pimpinan partai tingkat daerah dan anggota DPRD (DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat) ini merupakan wujud nyata komitmen partai. Selain itu, acara ini juga diikuti ratusan peserta yang bergabung secara daring melalui video conference.
“Partai NasDem mencoba mendidik kader agar tidak menjadi politisi tok, tapi juga politisi yang beretika dan berintegritas. Hal ini sudah kami lakukan sejak tujuh tahun lalu. Kader diajari bersiasat, tetapi itu semua harus selalu diimbangi dengan etika,” tegas Taslim menggarisbawahi pentingnya acara yang sengaja digelar pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif LP3ES, Fahmi Wibawa, menyoroti rekam jejak intelektual
Bung Hatta yang diakui dunia. “Bung Hatta bukan hanya sekadar pendiri bangsa, penyelenggara negara, atau wakil presiden. Beliau adalah seorang scholar (cendekiawan) yang aktif di dunia pendidikan,” paparnya.
Fahmi menambahkan bahwa tingginya penghormatan terhadap ketokohan Hatta bahkan dibuktikan dengan keberadaan jalan Mohammad Hatta di Belanda, negara tempatnya menimba ilmu selama 10 tahun.
Terkait penyelenggaraan SPBH, Fahmi menjelaskan bahwa LP3ES telah menghimpun tulisan dan pidato Hatta selama 30 tahun ke dalam 10 jilid buku, di mana jilid kesepuluh baru saja dirilis. “Di tengah keprihatinan kita akan krisis negarawan dan tata kelola negara yang niretika, acara ini mengupas pemikiran Hatta untuk dipraktikkan. Harapan kami, melalui acara ini, lahir sosok-sosok negarawan yang bersikap penuh integritas, mewakafkan dan mendedikasikan dirinya untuk negara,” ungkap Fahmi.
Buku dari tulisan dan pidato Hatta yang diterbitkan LP3ES. Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan
Fokus pada pemikiran Bung Hatta tentang berbangsa dan bernegara, Halida Hatta yang mewakili Yayasan Hatta, menjabarkan bagaimana visi sang ayah dibentuk oleh pengalamannya melihat ketidakadilan dan praktik kolonialisme sejak masa kanak-kanak di Bukittinggi. Menurut Halida, Hatta selalu menekankan bahwa belajar adalah proses seumur hidup agar bangsa Indonesia bisa tumbuh berkualitas.
Halida mengingatkan kembali pesan ayahnya tentang tata kelola negara, khususnya terkait sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang melimpah dari Sabang sampai Merauke.
“Bung Hatta adalah arsitek Pasal 33 UUD 1945. Sistem tata kelola sumber daya harus benar-benar dikelola dengan hukum yang baik. Jangan seakan-akan sumber daya alam dikuasai oleh orang per orang, melainkan harus dikelola untuk kemakmuran rakyat seutuhnya,” tegas Halida. Perekonomian rakyat, lanjutnya, harus didorong tumbuh dari bawah melalui asas kekeluargaan dan gotong royong, seperti halnya koperasi.
Lebih jauh, Halida menekankan krusialnya pembangunan karakter bagi para pengelola negara, sebuah aspek yang selalu ditekankan oleh Hatta. “Orang pintar sekali pun, jika tidak memiliki karakter, itu tidak berarti. Membangun karakter itu penting; di sana ada kontrol disiplin, kemampuan menilai diri sendiri, bermanfaat bagi masyarakat, dan bertanggung jawab kepada Tuhan,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Halida memberikan apresiasi tinggi kepada Partai NasDem atas inisiatif mencerahkan ini. “Kami sangat mengapresiasi NasDem yang mendidik kadernya dengan mengupas pikiran Bung Hatta. Ini adalah langkah dan inisiatif pencerahan yang sangat baik, tidak hanya bagi kader, tetapi juga bagi masyarakat luas secara umum,” pungkasnya.
(RUL)