Menhub Budi Karya Sumadi meninjau kapal-kapal di Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara. Foto: Istimewa.
Menhub Budi Karya Sumadi meninjau kapal-kapal di Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara. Foto: Istimewa.

Menhub Kritisi Penjualan Tiket Manual di Pelabuhan Kaliadem

Nasional lebaran Ramadan 2019
Faisal Abdalla • 07 Juni 2019 15:36
Jakarta: Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meninjau kesiapan kapal-kapal di Pelabuhan Kaliadem dalam melayani masyarakat pada masa libur Lebaran 2019. Pelabuhan ini menjadi akses bagi masyarakat yang ingin berlibur ke Kepulauan Seribu.
 
Dalam peninjauan itu, Menhub mengkritisi sistem ticketing di Pelabuhan Kaliadem yang masih dilakukan secara manual. Penjualan tiket dilakukan langsung di pelabuhan.
 
"Jadi saya pikir suatu manajemen pertiketan belum maksimal di sini. Oleh karenanya saya mengimbau tim dari DKI untuk sistem tiketnya itu dari online saja," kata Budi di lokasi, Jumat, 7 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Budi menyebut jika tiket dijual secara online, maka pencatatan manifes penumpang akan lebih mudah. Oleh karena itu, Menhub meminta pengelola segera memperbaiki sistem ticketing di Pelabuhan Kaliadem.
 
Menhub menyebut pada masa libur Lebaran ini jumlah penumpang yang melakukan penyeberangan ke Kepualauan Seribu melonjak drastis, yaitu mencapai 5 ribu penumpang. Sementara pada hari biasa, Pelabuhan Kaliadem rata-rata hanya melayani sekitar 400 penumpang.
 
(Baca juga:Menhub Temukan 3 Pelanggaran di Pelabuhan Muara Angke)
 
"Kemarin mencapai 3.000 penumpang bahkan hari ini sudah mencapai 5.000 penumpang jadi lebih dari 10 kali lipat. Kalau dilihat dari kapasitas, masih memungkingkan untuk 5.000 orang. Apabila terjadi kekurangan maka akan kita datangkan kapal lain atau kapal negara dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut," ujarnya.
 
Menhub juga mengimbau kepada para penumpang untuk mengupayakan membeli tiket secara online. Selain itu, Menhub juga meminta para penumpang tak memaksakan diri naik kapal yang sudah penuh.
 
"Kemudian life jacket karena itu adalah bagian suatu keselamatan yang mutlak harus dilakukan dan menjaga etika ketika dalam perjalanan. Jangan ribut, jangan bergerak dengan suatu hal yang berlebihan di dalam kapal karena kita tidak tahu pada suatu saat tertentu ada ombak, jadi ketenangan dari masyarakat itu penting,” ujar Budi.
 
Dia juga meminta kepada pengelola pelabuhan dan pemilik kapal agar tetap menomorsatukan keselamatan. Kondisi kelaikan kapal harus dicek secara rutin dan berkala. Para pemilik kapal juga diimbau terjun langsung ke lapangan mengawasi kapal-kapalnya.
 
"Harus diingat bahwa dalam transportasi, keselamatan adalah satu keharusan, jadi jangan abaikan itu," tandas dia.
 

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif