medcom.id, Jakarta: "Koruptor itu kawannya setan. Ustad kawannya Sutan. Apalagi Sutan Bhatoegana. Jadi barang itu." Grrrh. Penonton tepuk tangan dengan celoteh Sutan Bhatoegana.
Gurauan itu Sutan lontarkan saat menjadi tamu dalam acara Stand Up Comedy yang tayang di Metro TV pada 28 Mei 2013. Mengenakan batik merah bata, badan Sutan masih terlihat segar, perutnya besar.
Satu tahun kemudian, Sutan ditetapkan sebagai tersangka. Pada 2015, Sutan divonis 12 tahun penjara karena terbukti menerima suap USD140 ribu dari Kepala SKK Migas dalam upaya memengaruhi pembahasan APBN-P.
Sutan ditugaskan membagi-bagikan uang itu ke sejumlah anggota, pimpinan, dan sekretariat Komisi VII yang membidangi persoalan energi.
Kisah Sutan macam sirkus. Sepuluh tahun dia berkiprah sebagai wakil rakyat. Dia mencapai puncak karirnya saat menjadi Ketua Komisi VII DPR. Di saat menikmati puncak itu, justru dia terjerat korupsi. Hal yang dia caci sendiri saat ber-Stand Up Comedy.
"Saya ini politisi, gak mau saya dibilang politikus. Polinya sendiri, tikusnya sendiri. Tikus itu yang suka ngambil-ngambil harta rakyat. Saya gak mau yang demikian."
Sutan kemudian dikurung di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin untuk 12 tahun ke depan. Belum genap setahun, kesehatannya menurun. Kanker hati menggerogoti tubuhnya.
Lemak di perutnya habis. Wajah pucat dan matanya sayu. Dia berbaring lemas di ranjang rumah sakit. Satu-dua politisi menjenguknya.
Foto kurus dengan baju biru rumah sakit yang diunggah Direktur Eksekutif PT Duta Politika Indonesia, Dedi Alamsyah Mannaroi, kemudian menjadi viral di media sosial. Dedy memotretnya saat menjenguk Sutan di rumah sakit, Minggu 13 November.
Sutan Bhatoegana (kanan) saat dirawat di Rumah Sakit BMC Bogor. Foto: Istimewa
Kabar meninggalnya Sutan sempat beredar Rabu 16 November. Salah satu televisi swasta bahkan sempat mewartakannya di teks berjalan. Namun, Juru Bicara Partai Demokrat, Imelda, buru-buru membantah.
"Barusan dapat informasi dari menantu Sutan, Tania, info itu tidak benar. Hoax. Mohon yang memberitakan Sutan meninggal segera meralat," kata Imelda.
Sabtu pagi 19 November 2016 pukul 08.00 WIB, Sutan benar-benar tiada. Ucapan belasungkawa lantas membanjir. Di media sosial Twitter, 2,5 jam setelah dia meninggal, kabar belasungkawa itu menjadi terpopuler kedua di Indonesia.
Hingga kematiannya, Sutan belum sempat mendapatkan remisi kesehatan. Dikutip dari Media Indonesia, Kasubag Humas Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan Kemenkum dan HAM Akbar Hadi mengatakan remisi itu bisa didapat Sutan pada 7 April nanti, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Dunia.
"Remisi kesehatan diberikan atas dasar kemanusaiaan. Biasanya bagi yang permanen sakitnya, seperti lumpuh. Pemberian remisi tersebut paling banyak tiga bulan," kata Akbar.
Sutan dipeluk keluarga usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (19/8/2015). Foto: MI/Angga Yuniar
Sutan aktif di sejumlah organisasi. Setelah lulus dari Akademi Teknik Nasional Yogyakarta, Sutan muda dipercaya menjadi ketua umum Batak Islam Cilacap pada 1990. Dia juga pernah menjadi sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Satuan Cilacap.
Karir politiknya mengikuti pasang surut Partai Demokrat. Sejak sukses mengusung Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden, popularitas Sutan ikut terangkat.
Sejumlah jabatan penting dia sandang, yakni Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat dan Ketua Departemen Perekonomian Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat.
Kini Si Macan Sidang--julukan dari koleganya, Didi Irawadi Syamsudin--sudah di ujung pembaringan terakhir. Sejumlah politisi yang kerap dia kritisi ikut berduka. Tak terkecuali masyarakat yang sempat mencacinya.
medcom.id, Jakarta: "Koruptor itu kawannya setan. Ustad kawannya Sutan. Apalagi Sutan Bhatoegana. Jadi barang itu."
Grrrh. Penonton tepuk tangan dengan celoteh Sutan Bhatoegana.
Gurauan itu Sutan lontarkan saat menjadi tamu dalam acara
Stand Up Comedy yang tayang di
Metro TV pada 28 Mei 2013. Mengenakan batik merah bata, badan Sutan masih terlihat segar, perutnya besar.
Satu tahun kemudian, Sutan ditetapkan sebagai tersangka. Pada 2015, Sutan divonis 12 tahun penjara karena terbukti menerima suap USD140 ribu dari Kepala SKK Migas dalam upaya memengaruhi pembahasan APBN-P.
Sutan ditugaskan membagi-bagikan uang itu ke sejumlah anggota, pimpinan, dan sekretariat Komisi VII yang membidangi persoalan energi.
Kisah Sutan macam sirkus. Sepuluh tahun dia berkiprah sebagai wakil rakyat. Dia mencapai puncak karirnya saat menjadi Ketua Komisi VII DPR. Di saat menikmati puncak itu, justru dia terjerat korupsi. Hal yang dia caci sendiri saat ber-
Stand Up Comedy.
"Saya ini politisi,
gak mau saya dibilang politikus. Polinya sendiri, tikusnya sendiri. Tikus itu yang suka
ngambil-ngambil harta rakyat. Saya
gak mau yang demikian."
Sutan kemudian dikurung di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin untuk 12 tahun ke depan. Belum genap setahun, kesehatannya menurun. Kanker hati menggerogoti tubuhnya.
Lemak di perutnya habis. Wajah pucat dan matanya sayu. Dia berbaring lemas di ranjang rumah sakit. Satu-dua politisi menjenguknya.
Foto kurus dengan baju biru rumah sakit yang diunggah Direktur Eksekutif PT Duta Politika Indonesia, Dedi Alamsyah Mannaroi, kemudian menjadi
viral di media sosial. Dedy memotretnya saat menjenguk Sutan di rumah sakit, Minggu 13 November.
Sutan Bhatoegana (kanan) saat dirawat di Rumah Sakit BMC Bogor. Foto: Istimewa
Kabar meninggalnya Sutan sempat beredar Rabu 16 November. Salah satu televisi swasta bahkan sempat mewartakannya di teks berjalan. Namun, Juru Bicara Partai Demokrat, Imelda, buru-buru membantah.
"Barusan dapat informasi dari menantu Sutan, Tania, info itu tidak benar.
Hoax. Mohon yang memberitakan Sutan meninggal segera meralat," kata Imelda.
Sabtu pagi 19 November 2016 pukul 08.00 WIB,
Sutan benar-benar tiada. Ucapan belasungkawa lantas membanjir. Di media sosial Twitter, 2,5 jam setelah dia meninggal, kabar belasungkawa itu menjadi terpopuler kedua di Indonesia.
Hingga kematiannya, Sutan belum sempat mendapatkan remisi kesehatan. Dikutip dari
Media Indonesia, Kasubag Humas Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan Kemenkum dan HAM Akbar Hadi mengatakan remisi itu bisa didapat Sutan pada 7 April nanti, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Dunia.
"Remisi kesehatan diberikan atas dasar kemanusaiaan. Biasanya bagi yang permanen sakitnya, seperti lumpuh. Pemberian remisi tersebut paling banyak tiga bulan," kata Akbar.
Sutan dipeluk keluarga usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (19/8/2015). Foto: MI/Angga Yuniar
Sutan aktif di sejumlah organisasi. Setelah lulus dari Akademi Teknik Nasional Yogyakarta, Sutan muda dipercaya menjadi ketua umum Batak Islam Cilacap pada 1990. Dia juga pernah menjadi sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Satuan Cilacap.
Karir politiknya mengikuti pasang surut Partai Demokrat. Sejak sukses mengusung Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden, popularitas Sutan ikut terangkat.
Sejumlah jabatan penting dia sandang, yakni Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat dan Ketua Departemen Perekonomian Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat.
Kini Si Macan Sidang--julukan dari koleganya, Didi Irawadi Syamsudin--sudah di ujung pembaringan terakhir. Sejumlah politisi yang kerap dia kritisi ikut berduka. Tak terkecuali masyarakat yang sempat mencacinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UWA)