Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI Purn Moeldoko. (Foto: MI/rommy Pujianto)
Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal TNI Purn Moeldoko. (Foto: MI/rommy Pujianto)

Moeldoko: TNI Sudah Berubah

Dheri Agriesta • 08 Maret 2019 17:02
Jakarta: Kepala Staf Kepresidenan Jenderal Purn Moeldoko meminta seluruh pihak tak mencari gara-gara dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Karena, TNI milik seluruh masyarakat Indonesia bukan segelintir orang atau kelompok. Pernyataan Moeldoko menanggapi aksi Robertus Robet yang berujung pada penangkapan.
 
Mantan Panglima TNI itu menyebut posisi militer pada era Orde Baru berbeda dengan saat ini. Dulu, kata dia, tentara bisa saja diposisikan sebagai musuh bersama, sedangkan saat ini tidak.
 
"Nyanyian masa lalu sudahlah (jadi) masa lalu, jangan dibawa ke sekarang. Kalau melihat tentara dari bingkai masa lalu enggak ketemu, wong TNI sudah berubah," kata Moeldoko di Kantor Staf Presiden, Jalan Veteran, Jakarta, Jumat, 8 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia meminta masyarakat hidup berdampingan dengan TNI. Masyarakat pun boleh mengkritik, tapi jangan sampai kebablasan. 
 
"Jangan merusak mental prajurit. Psikologis prajurit kita sudah baik, jangan dilukai dengan hal lain," kata dia. 
 
Baca juga: Pelapor Robet Diduga Orang Orde Baru
 
Moeldoko mengaku paling tak setuju dengan hal itu. Sebabnya ia telah berusaha memperbaiki situasi agar TNI bisa diterima masyarakat sejak dulu. 
 
"Itu kira-kira kita memandang, saya pastikan tidak akan kembali dwi fungsi Abri, itu kunci," pungkasnya.
 
Dwifungsi adalah gagasan yang diterapkan oleh Orde Baru yang menyebutkan bahwa TNI memiliki dua tugas; menjaga keamanan dan ketertiban negara dan memegang kekuasaan serta mengatur negara. Dwifungsi dihapuskan pasca-Reformasi
1998.
 
Baca juga: Kasus Robertus Robet Tak Seret UNJ
 
Aktivis Robertus Robet ditangkap penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Mabes Polri, Rabu 6 Maret 2019 malam. Robet diduga melakukan penghinaan terhadap TNI saat melakukan aksi Kamisan pada akhir Februari. Saat aksi dia menolak dwifungsi tentara.
 
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo membenarkan penangkapan itu. Robet juga sudah ditetapkan sebagai tersangka.
 
"Robet ditangkap atas dugaan tindak pidana penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia," kata Dedi lewat pesan singkat, Kamis, 7 Maret 2019. 
 
Dedi menjelaskan Robet ditangkap terkait orasi saat aksi Kamisan di Monumen Nasional (Monas), tepatnya di depan Istana, Kamis pekan lalu. Orasi Robet dianggap telah menghina institusi TNI.
 
(MEL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif