medcom.id, Jakarta: Pengamat Penerbangan Arista Atmadjati menyatakan pada prinsipnya dalam satu dekade ini keselamatan penerbangan di Indonesia sudah membaik. Hal tersebut terbukti dari beberapa maskapai penerbangan di Indonesia yang diperbolehkan terbang ke Eropa.
"Buktinya maskapai Garuda dan Mandala boleh terbang ke Eropa, selain itu Air Asia juga mendapat The Best LCC (low cost carrier) airline sedunia dari survei asal Inggris Skytrax," ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, Minggu, (28/12/2014).
Sementara itu, mengenai peristiwa hilangnya kontak AirAsia QZ8501, Arista menyampaikan saat pilot meminta izin untuk menaikkan ketinggan dari 32 ribu kaki ke 38 ribu kaki dan mengubah arah, merupakan tindakan biasa. Hal tersebut dilakukan di dunia penerbangan, saat ada cuaca buruk di mana awan tebal di depan pilot bisa dilihat di radarnya dalam kokpit.
"Naik ketinggian itu biasa, tapi yang mengherankan adalah kenapa pilot dalam situasi gawat, bisa sama sekali tidak berteriak di radio 'may day, may day'," ujarnya.
Tidak hanya itu, menurutnya, kemungkinan lain yang bisa terjadi yakni pesawat terkena petir yang keras sehingga sistem avionik mati. "Dalam kondisi itu, faktor engine fail karena icing atau es yang membekukan mesin juga bisa terjadi," tambahnya.
Arista juga mengatakan bahwa sebelum terbang, pilot telah mendapat briefing dari unit flight operation. "Termasuk rute yang dilalui dan kemungkinan cuaca selama perjalanan," tandasnya.
Menurutnya, bila pesawat memang jatuh emergency locator harusnya menyala sehingga bisa di deteksi satelit.
medcom.id, Jakarta: Pengamat Penerbangan Arista Atmadjati menyatakan pada prinsipnya dalam satu dekade ini keselamatan penerbangan di Indonesia sudah membaik. Hal tersebut terbukti dari beberapa maskapai penerbangan di Indonesia yang diperbolehkan terbang ke Eropa.
"Buktinya maskapai Garuda dan Mandala boleh terbang ke Eropa, selain itu Air Asia juga mendapat
The Best LCC (
low cost carrier) airline sedunia dari survei asal Inggris Skytrax," ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, Minggu, (28/12/2014).
Sementara itu, mengenai peristiwa hilangnya kontak AirAsia QZ8501, Arista menyampaikan saat pilot meminta izin untuk menaikkan ketinggan dari 32 ribu kaki ke 38 ribu kaki dan mengubah arah, merupakan tindakan biasa. Hal tersebut dilakukan di dunia penerbangan, saat ada cuaca buruk di mana awan tebal di depan pilot bisa dilihat di radarnya dalam kokpit.
"Naik ketinggian itu biasa, tapi yang mengherankan adalah kenapa pilot dalam situasi gawat, bisa sama sekali tidak berteriak di radio '
may day,
may day'," ujarnya.
Tidak hanya itu, menurutnya, kemungkinan lain yang bisa terjadi yakni pesawat terkena petir yang keras sehingga sistem avionik mati. "Dalam kondisi itu, faktor engine fail karena icing atau es yang membekukan mesin juga bisa terjadi," tambahnya.
Arista juga mengatakan bahwa sebelum terbang, pilot telah mendapat briefing dari unit flight operation. "Termasuk rute yang dilalui dan kemungkinan cuaca selama perjalanan," tandasnya.
Menurutnya, bila pesawat memang jatuh emergency locator harusnya menyala sehingga bisa di deteksi satelit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)