Direktur LBM Eijkman Amin Soebandrio mengikuti saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Direktur LBM Eijkman Amin Soebandrio mengikuti saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Foto: Antara/Puspa Perwitasari

LBM Eijkman: Status Halal Vaksin Covid-19 Harus Jadi Perhatian

Nasional Virus Korona vaksin covid-19 Konvergensi MGN
Atikah Ishmah Winahyu • 13 Oktober 2020 13:40
Jakarta: Pemerintah telah memastikan bahwa program vaksinasi akan dimulai pada awal November 2020. Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengatakan ada empat kelompok masyarakat yang perlu diprioritaskan jika jumlah vaksin yang tersedia masih terbatas.
 
Empat kelompok tersebut yaitu petugas yang berada di garda terdepan seperti tenaga kesehatan dan petugas keamanan, orang dengan kondisi kesehatan kurang baik sehingga mudah terinfeksi, orang yang menjalankan pemerintahan, dan orang yang rentan terinfeksi karena terdapat kasus positif covid-19 di sekitarnya.
 
"Prinsipnya ada empat kelompok tadi. Setiap negara punya pertimbangan masing-masing, tapi hampir semuanya sepakat bahwa kelompok pertama yang harus divaksinasi adalah petugas kesehatan karena mereka paling mudah terpapar," kata Amin kepada Media Indonesia, Senin, 12 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk mendapatkan vaksin covid-19, Indonesia telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan luar negeri seperti Sinovac, Cansino, hingga Sinopharm. Pemerintah sendiri tengah mengembangkan vaksin Merah Putih. Menurut Amin, sebuah vaksin baik digunakan jika efektif dan aman.
 
"Apa pun vaksinnya, baik buatan luar negeri atau dalam negeri, kita menggunakan parameter yang sama yaitu efektivitas dan keamanan. Dalam menilai itu pihak-pihak otoritas seperti Badan POM dan Kementerian Kesehatan juga harus dilibatkan. Tidak hanya produknya saja, tapi juga semua dokumentasi riwayat pengembangan vaksin," kata dia.
 
Selain efektif dan aman, status halal juga menjadi syarat penting bagi vaksin. Agar masyarakat merasa aman menggunakannya. Menurut Amin, vaksin dari luar negeri belum dapat dipastikan status halalnya.
 
Pihak berwenang seperti Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) maupun Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) diminta untuk menyoroti persoalan status halal ini. Kedua lembaga itu diharapkan menerbitkan pedoman penggunaan dalam kondisi darurat pandemi seperti saat ini.
 
"Karena untuk memastikan (produk halal) itu tim (LPPOM dan BPJPH) harus melihat bagaimana produk itu diproses di pabriknya. Maka, sebelum sertifikat halal diterbitkan, harus ada proses yang intinya menerangkan bahwa karena ini keadaan darurat jadi diizinkan," kata dia.
 
Namun, Amin memastikan bahwa vaksin Merah Putih yang dikembangkan di Indonesia merupakan produk yang halal. Mulai dari proses pengembangan hingga hilirisasi serta bahan-bahan yang digunakan. LBM Eijkman telah menggandeng LPPOM MUI dan BPJPH selama proses pengembangan untuk meyakinkan bahwa vaksin ini sesuai standar halal.
 
"Dari awal kami menghindari penggunaan bahan-bahan yang berpotensi dianggap tidak halal. Kami konsultasi juga dengan LPPOM MUI dan BPJPH untuk memastikan langkah-langkah itu."
 
Menurutnya, semua proses dicatat. "Jadi, kita bisa memastikan kepada masyarakat bahwa produk ini tidak menggunakan bahan-bahan yang tidak memenuhi persyaratan halal," tutur dia.
 
Baca:Target 36 Juta Vaksin Covid-19 Mesti Didongkrak
 
Saat ini proses pengembangan vaksin Merah Putih pada skala laboratorium telah mencapai 55 persen, yakni pada tahap menghasilkan protein rekombinan.
 
"Gennya sudah dimasukkan ke dalam sel-sel mamalia maupun sel ragi yang akan dijadikan seperti ‘pabrik’. Jadi, kita akan membuat sel-sel itiu menjadi produsen protein rekombinan,” ungkapnya.
 
Selanjutnya, tinggal menunggu produk-produk protein rekombinan dari sel mamalia maupun sel ragi. Jika hasilnya stabil dan memiliki kualitas sesuai dengan yang diinginkan, maka akan diuji coba ke hewan.
 
"Setelah (hasil uji hewan) bagus, ya kita akan serahkan ke Bio Farma," ujar dia.
 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif