medcom.id, Jakarta: Setiap Mei, warga Kampung Sawah di kecamatam Jati Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, menggelar tradisi yang dikenal dengan istilah Sedekah Bumi. Uniknya, tradisi Sedekah Bumi di Kampung Sawah sangat kental dengan nilai-nilai religius, khususnya agama Katolik.
Tradisi Sedekah Bumi awalnya berasal dari tradisi Babaritan yang sering dilakukan masyarakat suku Sunda untuk mengucap rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Ketika agama Katolik masuk ke Kampung Sawah, harmonisasi nilai-nilai-nilai keagamaan dan budaya masyarakat mulai terlihat dalam tradisi tahunan tersebut.
Hidupnya nilai-nilai Agama dalam tradisi Sedekah Bumi merupakan wujud konkret peran Gereja dalam melestarikan budaya masyarakat.
Jacob Napiun merupakan seorang tokoh Katolik di Kampung Sawah yang berperan menyiarkan pesan-pesan agama dan toleransi melalui kegiatan budaya. Ia menjelaskan tradisi Sedekah Bumi di Kampung Sawah umumnya terbagi dalam dua kegiatan.
"Kegiatan Sedekah Bumi di Kampung Sawah secara umum terdiri dari kegiatan liturgis dan non-liturgis. Kegiatan liturgis meliputi prosesi-prosesi upacara keagamaan, sementara non-liturgis itu kegiatan pendukung yang lebih menekankan tradisi masyarakat," jelas Jacob kepada Metrotvnews.com, Sabtu 20 Mei 2017.
Warga Kampung Sawah Seusai Upacara 17 Agustus di halaman Gereja St. Servatius
Wujud harmonisasi nilai-nilai agama dan budaya dalam kegiatan liturgis dapat dilihat saat pastor maupun jemaat gereja beribadah mengenakan pakaian khas Betawi. Sementara kegiatan non-liturgis berupa kegiatan Gelar Budaya. Dalam acara itu, warga biasanya melakukan makan bersama dan kegiatan-kegiatan kebudayaan lokal lainnya.
"Setelah melakukan peribadatan. Kita makan bersama. Makanan digelar di sepanjang jalan. Siapa saja boleh ikut makan. Bahkan orang yang melintas di jalan. Tidak akan ada yang menanyakan apakah anda Katolik atau bukan. Semuanya berkumpul sama-sama," ujar pria berusia 61 tahun tersebut.
Para Narasumber dalam acara Gelar Budaya
Selain makan bersama, kegiatan yang dilakukan dalam Gelar Budaya berupa kegiatan pendukung lain seperti demo ngaduk dodol, pertunjukan wayang kulit Betawi, hingga dialog budaya. Pertunjukan wayang kulit ditampilkan dalam bahasa Betawi dengan membawa pesan-pesan toleransi, kerukunan, dan kebhinekaan.
Sedekah Bumi memang digelar Komunitas Umat Katolik. Namun, warga yang berpartisipasi berasal dari semua kalangan lintas agama.
Meskipun awalnya tradisi Sedekah Bumi lebih bersifat animis, dalam perkembangannya, kegiatan tersebut juga turut diisi ajaran-ajaran agama melalui tausiah. Uniknya, tausiah yang disampaikan juga tidak terbatas oleh satu ajaran, melainkan juga lintas agama.
Pengurus dan Anggota Paguyuban Umat Beragama Kampung Sawah
medcom.id, Jakarta: Setiap Mei, warga Kampung Sawah di kecamatam Jati Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, menggelar tradisi yang dikenal dengan istilah Sedekah Bumi. Uniknya, tradisi Sedekah Bumi di Kampung Sawah sangat kental dengan nilai-nilai religius, khususnya agama Katolik.
Tradisi Sedekah Bumi awalnya berasal dari tradisi Babaritan yang sering dilakukan masyarakat suku Sunda untuk mengucap rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Ketika agama Katolik masuk ke Kampung Sawah, harmonisasi nilai-nilai-nilai keagamaan dan budaya masyarakat mulai terlihat dalam tradisi tahunan tersebut.
Hidupnya nilai-nilai Agama dalam tradisi Sedekah Bumi merupakan wujud konkret peran Gereja dalam melestarikan budaya masyarakat.
Jacob Napiun merupakan seorang tokoh Katolik di Kampung Sawah yang berperan menyiarkan pesan-pesan agama dan toleransi melalui kegiatan budaya. Ia menjelaskan tradisi Sedekah Bumi di Kampung Sawah umumnya terbagi dalam dua kegiatan.
"Kegiatan Sedekah Bumi di Kampung Sawah secara umum terdiri dari kegiatan liturgis dan non-liturgis. Kegiatan liturgis meliputi prosesi-prosesi upacara keagamaan, sementara non-liturgis itu kegiatan pendukung yang lebih menekankan tradisi masyarakat," jelas Jacob kepada
Metrotvnews.com, Sabtu 20 Mei 2017.

Warga Kampung Sawah Seusai Upacara 17 Agustus di halaman Gereja St. Servatius
Wujud harmonisasi nilai-nilai agama dan budaya dalam kegiatan liturgis dapat dilihat saat pastor maupun jemaat gereja beribadah mengenakan pakaian khas Betawi. Sementara kegiatan non-liturgis berupa kegiatan Gelar Budaya. Dalam acara itu, warga biasanya melakukan makan bersama dan kegiatan-kegiatan kebudayaan lokal lainnya.
"Setelah melakukan peribadatan. Kita makan bersama. Makanan digelar di sepanjang jalan. Siapa saja boleh ikut makan. Bahkan orang yang melintas di jalan. Tidak akan ada yang menanyakan apakah anda Katolik atau bukan. Semuanya berkumpul sama-sama," ujar pria berusia 61 tahun tersebut.
Para Narasumber dalam acara Gelar Budaya
Selain makan bersama, kegiatan yang dilakukan dalam Gelar Budaya berupa kegiatan pendukung lain seperti demo ngaduk dodol, pertunjukan wayang kulit Betawi, hingga dialog budaya. Pertunjukan wayang kulit ditampilkan dalam bahasa Betawi dengan membawa pesan-pesan toleransi, kerukunan, dan kebhinekaan.
Sedekah Bumi memang digelar Komunitas Umat Katolik. Namun, warga yang berpartisipasi berasal dari semua kalangan lintas agama.
Meskipun awalnya tradisi Sedekah Bumi lebih bersifat animis, dalam perkembangannya, kegiatan tersebut juga turut diisi ajaran-ajaran agama melalui tausiah. Uniknya, tausiah yang disampaikan juga tidak terbatas oleh satu ajaran, melainkan juga lintas agama.
Pengurus dan Anggota Paguyuban Umat Beragama Kampung Sawah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OJE)