Pemerintah Dorong Pemuda Berani Berinovasi Teknologi
kata Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga, Faisal Abdullah..
Manado: Pemerintah mendorong pemuda berani berinovasi dalam teknologi. Karena hal itu menjadi nilai lebih agar pemuda memiliki daya saing yang tinggi.
 
"Pemuda adalah tulang punggung Indonesia dalam menyambut bonus demografi, di mana usia 16 - 45 tahun berjumlah 55 % dari jumlah penduduk. Pemuda harus menjadi tauladan atau soko guru untuk menjadi wirausaha muda yang sukses," kata Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga, Faisal Abdullah, Selasa, 30 Oktober 2018.
 
Faisal mengatakan, untuk mewujudkan itu pihaknya melakukan seleksi untuk mencari lima pemuda pelaku usaha kecil terbaik untuk kategori penerapan inovasi teknologi dalam Acara Prakualifikasi Teknopreneur Muda Pemula di Kota Manado, Sulawesi Utara.
 
Asisten Deputi Peningkatan IPTEK dan Imtak Pemuda Kemenpora Hamka Hendra Noer mengatakan, pemuda harus berorientasi pada entrepreneurship (kewiraswastaan) yang berbasis IPTEK sebagai pilihan karir. “Tidak hanya pada bidang politik saja,” katanya.

Baca: Jusuf Kalla Minta Pemuda Lebih Inovatif

Kepala Bidang Pemetaan dan Penelusuran Iptek Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Pemuda Kemenpora, Supadi Dia mengungkapkan, sebanyak 30 teknopreneur muda Manado harus mempresentasikan gagasan bisnis inovasi teknologi yang mereka terapkan dalam bisnis rintisannya.
 
“Lima peserta terbaik akan mendapat hadiah Rp8 juta per orang. Langkah ini diharapkan dapat menguatkan semangat para peserta untuk meningkatkan kemampuannya dalam berinovasi,” ujarnya.
 
Menurut Supadi, keterbelakangan teknologi tidak hanya membuat rendahnya jumlah produksi dan efisiensi di dalam proses produksi, tetapi juga rendahnya kualitas produk yang dibuat dan kesanggupan usaha kecil muda pemula untuk bersaing di pasar.
 
Supadi mengungkapkan, pelaku usaha kecil memiliki sejumlah kelemahan. Di antaranya, produk kurang berorientasi pasar, desain kemasan dan label belum standar, modal dan skala usahanya kecil sehingga efisiensinya rendah, kualitas SDM terbatas pada aspek Pendidikan dan lainnya.
 
“Dengan mengetahui kelemahan tersebut, arah dan jenis inovasi yang dibutuhkan menjadi jelas dan bisa dilakukan secara bertahap dan berjenjang,” kata Supandi.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id