Tak Cuma Basmi Satu Unggahan Hoaks, Kominfo Didesak Usut Jaringannya
Fachri Audhia Hafiez • 24 Mei 2023 18:47
Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) didesak tak cuma membasmi satu unggahan hoaks. Namun, jaringan penyebar hoaks juga harus diberantas.
"Kita sebaiknya tidak hanya melihat pada single actor tapi melihat pada jaringan," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Media Siber (AMSI), Wahyu Dhyatmika, dalam Forum Diskusi Denpasar 12 bertajuk 'Mengantisipasi Hoaks di Tahun Pemilu', Jakarta, Rabu, 24 Mei 2023.
Ia meyakini Kominfo memiliki software untuk mendeteksi kelompok jaringan hoaks itu. Sehingga, diharapkan soal disinformasi dan misinformasi dapat ditekan.
"Khususnya untuk melihat persebaran dari sebuah diinformasi dan misinformasi. Kemudian analisis atas persebaran itu atas jaringan itu kemudian menjadi penting untuk melihat apakah pendekatan-pendekatan counternya itu bisa efektif atau tidak," ujar Wahyu.
Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Airlangga Suko Widodo mengatakan hoaks merupakan cara-cara kotor dalam berpolitik yang dikehendaki. Terlebih, cara itu dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
"Tentu kita tidak menghendaki cara-cara kotor dalam politik itu. Tetapi kalau misalnya cara bernegaranya pencapaian kekuasaannya dengan cara-cara yang tidak betul itulah yang kita yang waras ini harus niatkan (mencegahnya)," ucap Suko.
Wartawan senior, Saur Hutabarat, menekankan jurnalis sangat berperan dalam membuktikan kebenaran sebuah informasi. Hal ini dinilai jadi tantangan berat bagi jurnalis di tengah perkembangan teknologi.
"Ini tantangan juga cukup berat bagi jurnalisme di dalam perubahan yang cepat dan luasnya disinformasi maupun misinformasi. Jadi profesionalisme adalah menjadi barometer yang dapat mengukur menyatakan menegasikan bahwa itu benar atau tidak benar," ujar Suko.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) didesak tak cuma membasmi satu unggahan hoaks. Namun, jaringan penyebar hoaks juga harus diberantas.
"Kita sebaiknya tidak hanya melihat pada single actor tapi melihat pada jaringan," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Media Siber (AMSI), Wahyu Dhyatmika, dalam Forum Diskusi Denpasar 12 bertajuk 'Mengantisipasi Hoaks di Tahun Pemilu', Jakarta, Rabu, 24 Mei 2023.
Ia meyakini Kominfo memiliki software untuk mendeteksi kelompok jaringan hoaks itu. Sehingga, diharapkan soal disinformasi dan misinformasi dapat ditekan.
"Khususnya untuk melihat persebaran dari sebuah diinformasi dan misinformasi. Kemudian analisis atas persebaran itu atas jaringan itu kemudian menjadi penting untuk melihat apakah pendekatan-pendekatan counternya itu bisa efektif atau tidak," ujar Wahyu.
Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Airlangga Suko Widodo mengatakan hoaks merupakan cara-cara kotor dalam berpolitik yang dikehendaki. Terlebih, cara itu dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.
"Tentu kita tidak menghendaki cara-cara kotor dalam politik itu. Tetapi kalau misalnya cara bernegaranya pencapaian kekuasaannya dengan cara-cara yang tidak betul itulah yang kita yang waras ini harus niatkan (mencegahnya)," ucap Suko.
Wartawan senior, Saur Hutabarat, menekankan jurnalis sangat berperan dalam membuktikan kebenaran sebuah informasi. Hal ini dinilai jadi tantangan berat bagi jurnalis di tengah perkembangan teknologi.
"Ini tantangan juga cukup berat bagi jurnalisme di dalam perubahan yang cepat dan luasnya disinformasi maupun misinformasi. Jadi profesionalisme adalah menjadi barometer yang dapat mengukur menyatakan menegasikan bahwa itu benar atau tidak benar," ujar Suko.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AGA)