Jakarta: Bagi setiap Muslim, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci adalah impian besar yang menjadi pelengkap rukun Islam. Namun, berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilakukan kapan saja, ibadah haji memiliki aturan waktu yang sangat ketat dan telah ditentukan oleh Allah SWT.
Lantas, sebenarnya haji dilakukan pada bulan apa? Melansir informasi dari Dompet Dhuafa, waktu pelaksanaan ibadah haji telah ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 197 yang berbunyi: "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi..."
Kalimat "bulan yang dimaklumi" merujuk pada periode yang sudah dikenal luas oleh masyarakat sejak zaman dahulu sebagai musim haji. Waktu ini dimulai dari bulan Syawal, Zulkaidah, hingga malam ke-10 bulan Dzulhijjah (malam Iduladha).
Mengapa Waktunya Begitu Panjang?
Meski puncak ibadah haji (Wukuf di Arafah) hanya terjadi pada tanggal 9 Dzulhijjah, rentang waktu dari Syawal hingga Dzulhijjah ini disebut sebagai "Bulan-Bulan Haji". Ada beberapa alasan mengapa rentang waktu ini sangat penting.
Permulaan Niat
Sebagian besar ulama berpendapat bahwa niat haji (ihram) baru dianggap sah jika dilakukan di dalam rentang bulan-bulan tersebut. Niat yang dilakukan sebelum masuk bulan Syawal dianggap tidak sah sebagai niat haji.
Baca Juga :
Bacaan Doa dan Zikir Wukuf Arafah Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Persiapan Bekal
Waktu yang panjang ini diberikan agar jemaah dapat memantapkan niat, menyiapkan bekal jasmani dan rohani (takwa), serta melakukan perjalanan jauh menuju Makkah.
Penjagaan Kesucian: Pada periode ini, setiap orang baik yang berhaji maupun tidak diminta menghormati kesucian waktu dengan menghindari peperangan, perbuatan fasik, hingga pertengkaran.
Walaupun musim haji berlangsung selama dua bulan sepuluh hari, ada prosesi utama yang memiliki waktu sangat spesifik. Salah satunya adalah Wukuf di Arafah.
Wukuf hanya sah dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah dan tidak boleh dilakukan sebelum atau sesudah fajar tanggal 10 Dzulhijjah.
Memahami waktu pelaksanaan haji membantu kita menghargai betapa istimewanya ibadah ini. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang terikat oleh waktu suci. Dengan mengetahui urutan bulan ini, kita diajak untuk terus memperbaiki bekal terbaik menuju panggilan Baitullah, yaitu bekal takwa.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Bagi setiap Muslim, menunaikan
ibadah haji ke Tanah Suci adalah impian besar yang menjadi pelengkap rukun Islam. Namun, berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilakukan kapan saja, ibadah haji memiliki aturan waktu yang sangat ketat dan telah ditentukan oleh Allah SWT.
Lantas, sebenarnya haji dilakukan pada bulan apa? Melansir informasi dari Dompet Dhuafa, waktu pelaksanaan ibadah haji telah ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 197 yang berbunyi: "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi..."
Kalimat "bulan yang dimaklumi" merujuk pada periode yang sudah dikenal luas oleh masyarakat sejak zaman dahulu sebagai musim haji. Waktu ini dimulai dari bulan Syawal,
Zulkaidah, hingga malam ke-10 bulan Dzulhijjah (malam Iduladha).
Mengapa Waktunya Begitu Panjang?
Meski puncak ibadah haji (Wukuf di Arafah) hanya terjadi pada tanggal 9 Dzulhijjah, rentang waktu dari Syawal hingga Dzulhijjah ini disebut sebagai "Bulan-Bulan Haji". Ada beberapa alasan mengapa rentang waktu ini sangat penting.
Permulaan Niat
Sebagian besar ulama berpendapat bahwa niat haji (ihram) baru dianggap sah jika dilakukan di dalam rentang bulan-bulan tersebut. Niat yang dilakukan sebelum masuk bulan Syawal dianggap tidak sah sebagai niat haji.
Persiapan Bekal
Waktu yang panjang ini diberikan agar jemaah dapat memantapkan niat, menyiapkan bekal jasmani dan rohani (takwa), serta melakukan perjalanan jauh menuju Makkah.
Penjagaan Kesucian: Pada periode ini, setiap orang baik yang berhaji maupun tidak diminta menghormati kesucian waktu dengan menghindari peperangan, perbuatan fasik, hingga pertengkaran.
Walaupun musim haji berlangsung selama dua bulan sepuluh hari, ada prosesi utama yang memiliki waktu sangat spesifik. Salah satunya adalah Wukuf di Arafah.
Wukuf hanya sah dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah dan tidak boleh dilakukan sebelum atau sesudah fajar tanggal 10 Dzulhijjah.
Memahami waktu pelaksanaan haji membantu kita menghargai betapa istimewanya ibadah ini. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang terikat oleh waktu suci. Dengan mengetahui urutan bulan ini, kita diajak untuk terus memperbaiki bekal terbaik menuju panggilan Baitullah, yaitu bekal takwa.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)