Anji/Instagram @duniamanji
Anji/Instagram @duniamanji

Media Referensi Wawancara Anji-Hadi Terancam Sanksi

Nasional Virus Korona Hadi Pranoto
Fachri Audhia Hafiez • 13 Agustus 2020 21:44
Jakarta: Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan menilai media yang disebut musisi sekaligus YouTuber, Erdian Aji Prihartanto (Anji), bisa dikenakan sanksi. Sebab pertimbangan Anji melakukan wawancara dengan Hadi Pranoto didasari pemberitaan di media massa.
 
"Kasus (pemberitaan) seperti itu kemungkinan misalnya (media itu) tidak melakukan verifikasi," kata Abdul saat berbincang dengan Medcom.id, Kamis, 13 Agustus 2020.
 
Anji disarankan melapor ke Dewan Pers jika dirugikan terkait konten wawancara dengan Hadi Pranoto, pembuat obat herbal yang diklaim meningkatkan antibodi dan bisa melawan covid-19. Nantinya Dewan Pers akan menindaklanjuti laporan itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Anji Disarankan Melapor ke Dewan Pers
 
"Apalagi kasusnya heboh begini saya kira cukup masuk akal kalau misalnya Anji ingin membawa kasus ini ke Dewan Pers," ujar Abdul.
 
Menurut Abdul, nantinya Dewan Pers akan mempertimbangkan sanksi yang bisa dikenakan oleh media tersebut berdasarkan kode etik jurnalistik yang dilanggar. Termasuk berpedoman pada Undang-undang Pers.
 
"Pelanggarannya apakah membuat berita bohong, tidak akurat, tidak melakukan verifikasi, atau misal cover both side kan banyak kemungkinannya. Nanti sanksi Dewan Pers, berkisar dari ralat, koreksi, hak jawab dan permintaan maaf," ucap Abdul.
 
Ia berharap ada pelajaran yang bisa dipetik dari kasus Anji terhadap media massa di Indonesia. Khususnya dalam memverifikasi narasumber yang akan diwawancarai.
 
Terlebih narasumber yang dimintai keterangan berkaitan isu yang tengah ramai di tengah masyarakat. Untuk itu, lanjut Abdul, media diimbau berhati-hati dalam menentukan narasumber agar tak memuat informasi yang salah untuk disampaikan ke masyarakat.
 
"Menyediakan ruang skeptisisme artinya memberikan bahwa sumber itu bisa salah bisa tidak akurat. Karena itu kita sebagai wartawan perlu skeptis dan memverifikasi informasi yang disampaikan," ucap Abdul.
 
Anji menyebut pemberitaan soal Hadi sudah ada di media massa sejak 30 April 2020. Hal itu menjadi dasar Anji mewawancarai Hadi.
 
"Dan ketika saya wawancara di sana ada media lokal dan nasional juga dengan materi wawancara yang hampir sama dengan yang saya buat. Dan entah kenapa yang viral saya. Jadi buat saya pelajarannya banyak sekali," kata Anji di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin 10 Agustus 2020.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif