Ilustrasi. Bangunan Pasar Apung Desa Tulehu roboh akibat gempa, Kamis (26/9/2019). Foto: Antara/Izaak Mulyawan
Ilustrasi. Bangunan Pasar Apung Desa Tulehu roboh akibat gempa, Kamis (26/9/2019). Foto: Antara/Izaak Mulyawan

Masa Tanggap Darurat Gempa Ambon Hingga 9 Oktober

Arga sumantri • 29 September 2019 14:53
Jakarta: Pemerintah Kota Ambon, Maluku, menetapkan masa tanggap darurat pasca gempa selama 14 hari, terhitung 26 September 2019 hingga 9 Oktober 2019. Kota Ambon menjadi salah satu wilayah terdampak gempa magnitudo 6.5 yang terjadi pada Kamis, 26 September 2019.
 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan selain masa tanggap darurat, telah dibentuk pula Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Kota Ambon. 
 
"Bertugas untuk mengkoordinasikan semua unsur untuk penanganan darurat di wilayah administrasinya," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Agus Wibowo di Jakarta, Minggu, 29 September 2019. 

Sementara itu, total korban meninggal akibat gempa dari tiga kota/kabupaten di Provinsi Maluku berjumlah 30 orang. Korban terbanyak ada di Kabupaten Maluku Tengah yakni berjumlah 14 orang, Kota Ambon 10 orang, dan Seram Bagian Barat (SBB) enam orang. 
 
"Sedangkan total korban luka-luka mencapai 156 orang dengan rincian Maluku tengah 108 orang, Kota Ambon 31 orang, dan SBB 17 orang," jelasnya.
 
Selain itu, tercatat sebanyak 244.780 orang harus mengungsi akibat gempa. Rinciannya, pengungsi di wilayah SBB 109.661 orang, Maluku Tengah 108.000 orang, dan Kota Ambon 27.119 orang. 
 
BNPB juga mencatat sebanyak 374 unit rumah rusak di Kota Ambon, dengan rincian 173 unit kategori rusak ringan (RR), 74 rumah rusak sedang (RS), dan 74 rumah rusak berat (RB). Kerusakan rumah di wilayah SBB mencakup 31 rusak ringan, 163 rusak sedang dan 106 rusak berat. "Pendataan kerusakan rumah masih terus dilakukan."
 
BPBD Provinsi Maluku, kata Agus, telah mendirikan dua tenda keluarga di halaman Rumah Sakit Umum Haulussy, Ambon dan RSU Tulehu, Maluku Tengah. Selain itu, pemerintah daerah setempat juga mendistribusikan terpal kepada masyarakat terdampak. 
 
Upaya pendataan di lapangan masih terus dilakukan oleh tim reaksi cepat BPBD Provinsi Maluku. Salah satunya, untuk mengidentifkasi titik-titik pengungsian.
 
"Sementara ini titik konsentrasi teridentifikasi di Desa Waai seperti di wilayah Air Terjun Waai, Dusun Ujung Batu dan Batu Dua. Sedangkan di Kota Ambon, penyintas terkonsentrasi di SMA Siliwangi, Kuburan atas SMA 9, dan SMA 9," bebernya.
 
Menurut Agus, petugas juga masih berupaya intensif melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar segera kembali ke rumah masing-masing. BNPB telah mengirimkan tim pendukung dalam manajemen posko dan dukungan logistik serta peralatan yang telah tiba di Maluku. TNI mengoperasionalkan rumah sakit lapangan di Kampus Darussalam, Maluku Tengah.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AGA)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>