Kaya Bahasa dengan Bisindo
Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) Pusat saat berkunjung ke Metro Tv. (Foto: Renatha)
Jakarta: Penggunaan penerjemah bahasa isyarat di televisi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi stasiun televisi. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai wadah stasiun televisi telah mewajibkan itu. 

Penerjemah bahasa isyarat yang dipakai kebanyakan stasiun televisi menggunakan sistem bahasa isyarat Indonesia (Sibi). Sistem struktural ini dinilai minim ragam bahasa dan kurang dikenal penyandang tunarungu.

"Selama ini penerjemah bahasa isyarat menerjemahkan misal mati, meninggal, wafat, mangkat, tewas dengan satu isyarat. Padahal kalau bahasa manusia normal itu berbeda-beda," kata mantan Ketua Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) Pusat Dimyati Hakim dalam kunjungan ke Metro Tv, Jakarta Barat, Kamis, 15 November 2018. 

Hal yang sama terjadi ketika penerjemah menerjemahkan sungai, waduk, teluk, bendungan, laut, dan lainnya. Penerjemah menggunakan satu isyarat. 

Padahal, bahasa itu bisa diisyaratkan dengan berbagai bentuk. Sistem isyarat seperti itu belakangan disebut bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) atau sistem konseptual.

Lewat Bisindo, penyandang tunarungu dikenalkan dengan ragam bahasa yang dipakai manusia normal. Bahkan, mereka dikenalkan dengan kalimat awalan, imbuhan, akhiran seperti di, me, pada, kan dan lainnya. 

"Saya pernah ngajar ke mereka yang tidak mengerti Bisindo. Saya tulis di papan minta mereka isyaratkan bapak makan ikan dan ikan dimakan bapak. Saat isyaratkan ikan dimakan bapak mereka binggung, jadinya ikan makan bapak. Makanya saya bilang butuh awalan (isyarat) di,” tutur Ketua DPP Persatuan Tunarungu (Pertri) Indonesia itu. 

Dim menyebut penggunaan Bisindo sebetulnya diajarkan di seluruh sekolah-sekolah luar biasa tunarungu. Namun memang, tak semua tunarungu mengenyam bangku pendidikan. 

Tapi, tak semua pula yang tidak bisa bersekolah mengerti bahasa isyarat, baik Sibi maupun Bisindo. Sebab, mereka mungkin oleh keluarganya tak pernah dikenalkan dengan bahasa. Sibi sendiri, dinilai bahasa isyarat umum. 

Nah, untuk mereka yang sekolah dan mengerti bahasa isyarat justru sering kali tak memahami penerjemah di televisi. Mega, 19, misalnya, lulusan Sekolah Luar Biasa Tunarungu Santi Rama itu mengaku tidak mengerti isyarat yang disampaikan penerjemah. 

Alhasil, dia tak tahu berita yang disampaikan. “Hanya tahu sedikit, sisanya lihat gambar (untuk memahami berita),” kata Mega yang juga mahir berbicara oral. 

Dim menyebut Bisindo penting untuk mengenalkan ragam bahasa pada penyandang tunarungu. “Saya ingin tunarungu kaya bahasa,” kata pelopor Bisindo itu.

Dia berharap ke depan Metro Tv bisa menggunakan penerjemah dari orang-orang yang memahami Bisindo. Sebab, selama ini, Metro Tv memakai penerjemah Sibi. 

"Supaya ada pemerataan," imbuh dia.

Head of Corporate Communication Metro TV Fifi Aleyda Yahya menyambut baik ide itu. Penerjemah dari Bisindo juga penting supaya penyandang tunarungu memahami isi berita yang disajikan Metro Tv. 

"Ini menjadi pertimbangan kita untuk mencari penerjemah dari Bisindo," tutur dia.

(LDS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id