Surya Tjandea dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP) bertajuk Peran Pemuda Indonesia Merajut Nilai Kebangsaan di Tengah Ancaman Intoleransi dan Korupsi -- Foto: MTVN/ Dheri Agriesta
Surya Tjandea dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP) bertajuk Peran Pemuda Indonesia Merajut Nilai Kebangsaan di Tengah Ancaman Intoleransi dan Korupsi -- Foto: MTVN/ Dheri Agriesta

Intoleransi Masih Jadi Tantangan Indonesia

Nasional toleransi beragama
Dheri Agriesta • 30 Oktober 2017 06:02
medcom.id, Jakarta: Korupsi dan intoleransi masih menjadi tantangan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera. Apalagi, sejak isu suku, agama, ras, dan antar-golongan digulirkan pada beberapa pemilihan kepala daerah.
 
Politisi dan aktivis buruh Surya Tjandra mengatakan, ada empat hal yang menjadi tantangan Indonesia. Tantangan pertama adalah kasus korupsi yang masif.
 
"Kedua, saat ini sangat terasa politik yang digunakan adalah politik intoleran," kata Surya dalam diskusi Forum Diskusi Ekonomi Politik (FDEP) bertajuk Peran Pemuda Indonesia Merajut Nilai Kebangsaan di Tengah Ancaman Intoleransi dan Korupsi, melalui keterangan tertulis yang diterima, Minggu 29 Oktober 2017.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mereka yang menggunakan politik intoleran untuk memecah belah masyarakat berharap bisa meraup suara dengan politik pecah belah tersebut.
 
Surya menilai, ada gerakan kelompok elite yang menggunakan strategi populisme dengan membenturkan kelas bawah dengan kelas di atasnya untuk meraih kekuasaan. Sayangnya yang digunakan adalah agama yang begitu rentan konflik.
 
"Keempat, penyingkiran sistematis kaum muda terhadap politik. Politisi tidak suka dengan gagasan pembaharuan yg diwakili kaum muda. Kaum muda hanya disapa jelang pemilu, setelah itu dilupakan," tambah Surya.
 
Sementara itu, Ketua Kebangkitan Indonesia Baru Taki Reinhard mengatakan, masyarakat harus diberikan penjelasan terkait bahaya intoleransi. Ia pun meminta masyarakat tak terpancing dengan isu intoleransi.
 
"Kita perlu melakukan edukasi bahwa intoleransi ini akan menuju kehancuran, dan jangan sampai terpancing dengan strategi politik identitas yang hanya berorientasi kekuasaan," kata Reinhard.
 
Aktivis perempuan dan pegiat sosial media Ezki Suyanto mengatakan, orangtua memiliki peran besar dalam memerangi isu toleransi. Salah satunya dengan mengawasi aktivitas anak dalam menggunakan media sosial.
 
"Karena pintu masuknya isu intoleran ada di media sosial," tutup Ezki.
 

 

 

(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif