Sejumlah jurnalis diajarkan teknik pertolongan pertama pemberian napas buatan. (Foto: Dok./PMPP TNI)
Sejumlah jurnalis diajarkan teknik pertolongan pertama pemberian napas buatan. (Foto: Dok./PMPP TNI)

Belajar Penanganan Risiko di Daerah Konflik dari TNI

Nasional konflik filipina jurnalis
14 Desember 2018 12:36
Sentul: Sejumlah jurnalis mendapatkan pembekalan mengenai strategi meminimalisasi risiko saat meliput konflik. Kegiatan yang digagas Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama Komite Internasional Palang Merah (ICRC) bertujuan agar jurnalis memahami risiko seperti apa yang dihadapi saat meliput di wilayah konflik tanpa meninggalkan tugas utamanya.

Koordinator Komunikasi Delegasi Regional ICRC untuk Indonesia dan Timor Leste Fitri Adi Anugrah mengatakan ketika bertugas dalam misi kemanusiaan di berbagai belahan dunia, ICRC kerap bersinggungan dengan jurnalis. Di wilayah konflik, jurnalis menghadapi risiko yang sama kendati memiliki kepentingan yang berbeda.

"Kegiatan ini diselenggarakan untuk merespons permintaan wartawan agar ada pelatihan (khusus) untuk meminimalisasi risiko ketika meliput konflik," ujarnya di Sentul, Jumat, 14 Desember 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Pelatihan yang diselenggarakan pada 8-13 Desember 2018 di PMPP TNI, Sentul, Kabupaten Bogor. Materi yang diberikan mencakup prosedur safety and security, simulasi penyanderaan, check point,  personnal security awareness, negotiation, cultural awareness,  pengenalan bahan peledak sisa perang, sampai dengan pertolongan pertama serta aplikasinya di lapangan. Para wartawan media lokal, nasional, dan internasional peserra kegiatan juga dibekali pengetahuan keamanan digital dan jurnalisme damai. Termasuk pengetahuan Hukum Humaniter Internasional


Pembukaan pelatihan oleh Wakil Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI (PMPP TNI), Kolonel Aldrin P. Mongan.  PMPP TNI
 

Peran jurnalis di daerah konflik


Koordinator Advokasi AJI Indonesia Sasmito Madrim menilai pelatihan semacam ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan para jurnalis ketika berada di wilayah konflik. Juga menjadi bekal agar tidak ada lagi jurnalis yang menjadi korban saat menjalankan tugas.

Insiden bom bunuh diri di Afgnahistan pada April 2018 lalu menjadi salah satu alasan mengapa jurnalis perlu mempelajari strategi peliputan di wilayah konflik. Terlebih pada peristiwa tersebut dilaporkan 10 jurnalis tewas saat bertugas.

“Pelatihan ini juga penting sebagai upaya meningkatkan keselamatan jurnalis di luar wilayah konflik. Sebab kematian jurnalis saat ini tidak hanya terjadi di wilayah konflik, tapi di medan liputan yang biasa juga dapat terjadi,” tambah Sasmito.

Di dalam sambutan pembukaan pelatihan, Wadan PMPP TNI Kolonel Aldrin P. Mongan menegaskan pentingnya peran jurnalis dalam memberitakan kejadian di lokasi terjadinya kepada masyarakat. Keselamatan menjadi prioritas demi terlaksanana tugas tersebut dan karenanya perlu pembekalan pengetahuan yang cukup untuk menghadapi risiko.

Pelatihan HEAT sebelumnya diikuti para diplomat Uni Eropa yang akan bertugas diderah rawan konflik di berbagai belahan dunia. Maka inisiatif ICRC bersama AJI dan Mabes TNI pelopori HEAT bagi wartawan Indones juga patut dipuji.

"Ini kali pertama HEAT kami selenggarakan untuk wartawan dan pertamakali pesertanya dari dalam negeri. Akan kita terus kembangkan agar semakin menjawab kebutuhan wartawan," sambung Kolonel Aldrin.







(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi