Jakarta: Perayaan Imlek tinggal menghitung hari. Tahun-tahun lalu, penjual pernak pernik Imlek selalu senang lantaran dagangannya laku keras.
Tapi tidak tahun ini. Pandemi covid-19 berdampak memberikan dampak signifikan pada penjualan pernak-pernik Imlek. Keuntungan penjualan menurun hingga 90 persen.
Salah satu penjual pernak-pernik perayaan Imlek di kawasan Glodok, Jakarta Utara, Remet, mengaku biasa 'panen' hingga Rp4-10 juta per hari. Tahun ini, keuntungan hanya Rp800 ribu hingga Rp1 juta.
"Dulu kalau sepi dapat Rp4 juta, sekarang Rp1 juta saja sudah bagus," kata Remet di kawasan Glodok, Jakarta Utara, Jumat, 29 Januari 2021.
Dia mengaku penurunan penjualan disebabkan menurunnya pengunjung hingga 60 persen. Padahal, biasanya dua pekan sebelum perayaan Imlek ramai pembeli.
"Biasanya para pedagang bolak-balik ambil cadangan barang jualan, sekarang santai, duduk-duduk," kata dia.
Pernak-pernik Imlek. Medcom.id/Sri Yanti Nainggolan
Aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga memengaruhi penjualannya. Jam operasional berkurang dari pukul 09.00-21.00 WIB menjadi pukul 09.00-18.00 WIB.
"Tapi kita masih bersyukur (bisa jualan), yang penting taat pemerintah," ucap penjual pernak pernik musiman sejak 1970-an itu.
Dia mengaku salah satu penjualan pernik yang mengalami penurunan drastis ialah hiasan lampion yang biasa dipasang di perkantoran atau restoran. Biasanya, 50-100 pesanan memborong 30-40 pasang lampion besar.
"Kalau sekarang paling yang beli dari restoran ikan laut di daerah Tangerang Selatan," tutur dia.
Remet menjual pernak-pernik Imlek di emperan pertokoan di belakang Pasar Glodok. Ia menjual lampion berbagai ukuran, wadah buah, gantungan Imlek, hingga amplop angpao.
Jakarta: Perayaan Imlek tinggal menghitung hari. Tahun-tahun lalu, penjual pernak pernik Imlek selalu senang lantaran dagangannya laku keras.
Tapi tidak tahun ini. Pandemi covid-19 berdampak memberikan dampak signifikan pada penjualan pernak-pernik Imlek. Keuntungan penjualan menurun hingga 90 persen.
Salah satu penjual pernak-pernik perayaan Imlek di kawasan Glodok, Jakarta Utara, Remet, mengaku biasa 'panen' hingga Rp4-10 juta per hari. Tahun ini, keuntungan hanya Rp800 ribu hingga Rp1 juta.
"Dulu kalau sepi dapat Rp4 juta, sekarang Rp1 juta saja sudah bagus," kata Remet di kawasan Glodok, Jakarta Utara, Jumat, 29 Januari 2021.
Dia mengaku penurunan penjualan disebabkan menurunnya pengunjung hingga 60 persen. Padahal, biasanya dua pekan sebelum perayaan Imlek ramai pembeli.
"Biasanya para pedagang bolak-balik ambil cadangan barang jualan, sekarang santai, duduk-duduk," kata dia.
Pernak-pernik Imlek. Medcom.id/Sri Yanti Nainggolan
Aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) juga memengaruhi penjualannya. Jam operasional berkurang dari pukul 09.00-21.00 WIB menjadi pukul 09.00-18.00 WIB.
"Tapi kita masih bersyukur (bisa jualan), yang penting taat pemerintah," ucap penjual pernak pernik musiman sejak 1970-an itu.
Dia mengaku salah satu penjualan pernik yang mengalami penurunan drastis ialah hiasan lampion yang biasa dipasang di perkantoran atau restoran. Biasanya, 50-100 pesanan memborong 30-40 pasang lampion besar.
"Kalau sekarang paling yang beli dari restoran ikan laut di daerah Tangerang Selatan," tutur dia.
Remet menjual pernak-pernik Imlek di emperan pertokoan di belakang Pasar Glodok. Ia menjual lampion berbagai ukuran, wadah buah, gantungan Imlek, hingga amplop angpao.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)