Pabrik macis di Binjai, Langkat, Sumut yang terbakar, Jumat, 21 Juni 2019. (Foto: ANTARA/SEPTIANDA PERDANA)
Pabrik macis di Binjai, Langkat, Sumut yang terbakar, Jumat, 21 Juni 2019. (Foto: ANTARA/SEPTIANDA PERDANA)

Kebakaran Pabrik Korek Api, Kemenaker Temukan 6 Pelanggaran

Nasional kebakaran berita kemenaker
Gervin Nathaniel Purba • 24 Juni 2019 22:48
Jakarta: Tim gabungan pengawas ketenagakerjaan menemukan enam pelangaran ketenagakerjaan di pabrik perakitan macis, PT Kiat Unggul. Tim pusat dan daerah sudah menyelesaikan investigasi tahap awal di pabrik yang berlokasi Desa Sabirejo, Binjai, Langkat, Sumatera Utara tersebut.
 
"Enam pelanggaran itu menjadi pijakan pengawas untuk menyelesaikan kasus ketenagakerjaan diperusahaan tersebut. Sikap pengawas jelas, setiap pelangaran harus ditindak,” kata Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, Senin, 24 Juni 2019.
 
Pelanggaran pertama, perusahaan tidak memberikan perlindungan kepada pekerja terkait kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan. Kedua, perusahaan mempekerjakan pekerja anak atas nama Rina berumur 15 tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketiga, perusahaan belum membuat wajib lapor ketenagakerjaan untuk lokasi kejadian. Diketahui, pabrik tersebut merupakan cabang dari PT Kiat Unggul yang berada di Jalan Medan-Binjai KM 15,7, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.
 
Perusahaan tidak melaporkan keberadaan cabang perusahaan tersebut kepada Dinas Ketenagakerjaan, sehingga keberadaannya tidak tercatat oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumatera Utara. Perusahaan masuk kategori ilegal.
 
Keempat, perusahaan membayar upah tenaga kerja lebih rendah dari ketentuan upah minimum Kabupaten Langkat. Kelima, perusahaan belum mengikutsertakan pekerjanya dalam program jaminan sosial yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.
 
“Hanya satu pekerja yang sudah didaftarkan pada BPJS Ketenagakerjaan. Selebihnya belum,” kata Hanif
 
Keenam, perusahaan belum melaksanakan sepenuhnya syarat-syarat Keselamatan Kesehatan Kerja (K3). Dari olah tempat kejadian perkara, diketahui sumber api berasal dari pintu belakang yang menjadi akses keluar masuk pekerja.
 
Sedangkan pintu depan terkunci. Saat terjadi kebakaran, para pekerja tidak bisa keluar menyelamatkan diri karena tidak ada jalur evakuasi.
 
Perusahaan juga tidak memiliki alat pemadam kebakaran dan sirkulasi udara yang memenuhi syarat. Pabrik tidak dilengkapi fasilitas pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), tidak tersedia alat pelindung diri (APD), serta berbagai pelanggaran lain.
 
Secara terpisah, Pelaksana Harian Direktur Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PNK3) Amarudin mengatakan dari 30 korban meninggal, hanya satu pekerja yang telah terdaftar BPJS Ketenagakerjaan yakni atas nama Gusliana. Ahli waris akan mendapatkan santunan kecelakaan kerja dari BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp150.411.288.
 
Sedangkan untuk santunan ahli waris pekerja yang belum terdaftar BPJS Ketenagakerjaan, Dinas Tenaga Kerja Sumatera Utara akan membuat penetapan yang menyatakan para korban sebagai korban kecelakaan kerja, agar ahli waris korban mendapatkan santunan kecelakaan kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
 
Sebelumnya, pabrik perakitan macis yang berada di Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Jumat (21/6), sekitar pukul 12.05.00 WIB terbakar, dan menewaskan puluhan pekerjanya termasuk juga anak-anak yang berada di lokasi pabrik tersebut.
 
Puluhan pekerja yang berada di dalam rumah merangkap pabrik itu tidak sempat keluar, sehingga mengakibatkan semuanya tewas terpanggang.
 
Api baru dapat dipadamkan setelah dua unit mobil pemadam kebakaran milik Pemkab Langkat dan tiga unit milik Pemkot Binjai tiba di lokasi.
 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif