Selamat Jalan dan Terima Kasih Dawam Rahardjo
Cendekiawan muslim Dawam Rahardjo. Foto: MI/Susanto.
Jakarta: Cendekiawan muslim Dawam Rahardjo telah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Indonesia pun resmi melepas salah satu putra terbaiknya ke ribaan Yang Kuasa.
 
Dawan Rahardjo telah mengabdikan hidupnya untuk berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Mulai dari pergerakan sosial, ahli ekonomi, pengusaha, aktivis, hingga pemikir Islam.
 
Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie bercerita Dawam juga menyumbangkan pemikirannya saat bersikeras menginginkan penegasan ekonomi kerakyatan dalam salah satu pasal di Undang-Undang Dasar 1945.

"Konsistensi dia membela ekonomi kerakyatan luar biasa. Dan kita syukurlah Pasal 33 UUD 1945 tidak jadi dicabut, tapi direvisi,"  kata Jimly di kediaman almarhum di Jalan Kelapa Kuning III, Jakarta Timur, Kamis, 31 Mei 2018.
 
Proses tersebut tidak mudah. Dawam berbeda pendapat dengan anggota lain, termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani. Perdebatan itu membuat ia bersama almarhum Mubyarto, yang juga penggagas ekonomi Pancasila, mengundurkan diri dari tim tersebut.

 
Cendekiawan muslim Dawam Rahardjo telah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Foto: Medcom.id/Lis Pratiwi.


Meski demikian, pemikiran mantan ketua tim penasehat presiden itu tetap diterima. Hal ini pun tercermin dalam Pasal 33 ayat 4 UUD 1945 dan munculnya prinsip efisiensi berkeadilan sebagai satu kata majemuk.
 
"Jadi kalau zaman sekarang ekonom maunya efisiensi saja tapi karena ada perdebatan itu lalu ditambah. Jadi efisiensi berkeadilan sebagai satu nafas, bukan dua kata berbeda," jelas dia.
 
Jimly berharap segala kontribusi dan pengabdian Dawam bagi Indonesia dapat menjadi amal jariyah. Hal ini serupa dengan pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
 
Lukman yang memimpin upacara pemakaman Dawam mengatakan kontribusi Dawam tercermin dalam berbagai penghargaan yang ia diterima.
 
Di antaranya penghargaan Satya Lencana Pembangunan tahun 1995 dari Presiden Soeharto, penghargaan Bintang Mahaputera Utama tahun 1999 dari Presiden BJ Habibie, dan penghargaan Yap Thiam Hien 2013 atas jasanya memperjuangkan pluralisme.
 
Menurut Lukman, segala pemikiran dan kritik nalar Dawam memberi sumbangan berharga terhadap kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. Indonesia pun kehilangan salah satu cendekiawan terbaiknya.
 
"Selamat jalan Profesor Dawam Rahardjo. Terima kasih atas baktimu kepada kami, seluruh anak negeri," kata Lukman menutup upacara pemakaman.



(FZN)