Jakarta: Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mendorong penerapan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang terintegrasi dengan teknologi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah ini dinilai dapat mendukung terwujudnya kota yang cerdas, bersih, dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Bina Adwil) Kemendagri, Safrizal ZA, mengatakan pengelolaan sampah adalah tantangan utama Smart City.
"Smart City bukan sekadar digitalisasi, tetapi bagaimana teknologi dan inovasi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ujar Safrizal dalam Waste to Energy Forum: Enhancing National Efforts through Regional Governance and Yield Innovation di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8) kemarin.
Ia menegaskan penanganan sampah harus terpadu dari hulu ke hilir. Di hulu, ASRI mendorong perubahan perilaku masyarakat, baik pengurangan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pemilahan sejak dari sumber.
Lalu di hilir, sampah yang tak lagi bisa dimanfaatkan diolah lewat teknologi seperti PSEL, sehingga volume yang masuk ke TPA bisa ditekan.
Baca Juga :
Mendagri Pastikan Bantuan untuk Rumah Warga yang Terdampak Gempa di Manggarai Timur
"Dari ASRI di hulu menuju PSEL dan teknologi pengolahan di hilir, semuanya harus menjadi satu ekosistem," tegasnya.
Safrizal menekankan PSEL bukan pengganti seluruh sistem persampahan, melainkan bagian dari ekosistem terpadu. Keberhasilannya bergantung pada kesiapan pemda, kelembagaan, kebijakan, lahan, infrastruktur, hingga pasokan sampah yang sesuai kebutuhan teknologi.
"Persiapannya harus dilakukan sejak sekarang. Penyiapan tidak cukup hanya satu tahun," sambungnya, seraya mendorong keterlibatan dunia usaha dalam teknologi dan investasi.
Sebagai National Representative Indonesia di ASEAN Smart Cities Network (ASCN), Safrizal juga mendorong pertukaran pengalaman antarkota Indonesia dan kota-kota anggota ASCN dalam pemanfaatan teknologi persampahan.
Kemendagri berharap hasil forum ditindaklanjuti lewat penguatan kebijakan daerah, sinkronisasi perencanaan, penganggaran, peningkatan kapasitas aparatur, pengembangan infrastruktur, serta pembukaan peluang investasi dan kerja sama.
"Yang ingin kita bangun bukan sekadar kota yang memiliki teknologi canggih, tetapi kota yang mampu menggunakan teknologi, kebijakan, dan kolaborasi untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat," pungkasnya.
Jakarta: Kementerian Dalam Negeri (
Kemendagri) mendorong penerapan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang terintegrasi dengan teknologi
Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah ini dinilai dapat mendukung terwujudnya kota yang cerdas, bersih, dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Bina Adwil) Kemendagri, Safrizal ZA, mengatakan pengelolaan sampah adalah tantangan utama Smart City.
"Smart City bukan sekadar digitalisasi, tetapi bagaimana teknologi dan inovasi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ujar Safrizal dalam Waste to Energy Forum: Enhancing National Efforts through Regional Governance and Yield Innovation di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8) kemarin.
Ia menegaskan penanganan sampah harus terpadu dari hulu ke hilir. Di hulu, ASRI mendorong perubahan perilaku masyarakat, baik pengurangan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pemilahan sejak dari sumber.
Lalu di hilir, sampah yang tak lagi bisa dimanfaatkan diolah lewat teknologi seperti PSEL, sehingga volume yang masuk ke TPA bisa ditekan.
"Dari ASRI di hulu menuju PSEL dan teknologi pengolahan di hilir, semuanya harus menjadi satu ekosistem," tegasnya.

Safrizal menekankan PSEL bukan pengganti seluruh sistem persampahan, melainkan bagian dari ekosistem terpadu. Keberhasilannya bergantung pada kesiapan pemda, kelembagaan, kebijakan, lahan, infrastruktur, hingga pasokan sampah yang sesuai kebutuhan teknologi.
"Persiapannya harus dilakukan sejak sekarang. Penyiapan tidak cukup hanya satu tahun," sambungnya, seraya mendorong keterlibatan dunia usaha dalam teknologi dan investasi.
Sebagai National Representative Indonesia di ASEAN Smart Cities Network (ASCN), Safrizal juga mendorong pertukaran pengalaman antarkota Indonesia dan kota-kota anggota ASCN dalam pemanfaatan teknologi persampahan.
Kemendagri berharap hasil forum ditindaklanjuti lewat penguatan kebijakan daerah, sinkronisasi perencanaan, penganggaran, peningkatan kapasitas aparatur, pengembangan infrastruktur, serta pembukaan peluang investasi dan kerja sama.
"Yang ingin kita bangun bukan sekadar kota yang memiliki teknologi canggih, tetapi kota yang mampu menggunakan teknologi, kebijakan, dan kolaborasi untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(PRI)