Jakarta: Transformasi peran perpustakaan menjadi sarana mempermudah akses pengetahuan dan literasi tidak cukup dengan menggeser paradigma. Butuh langkah nyata dan strategis agar manfaat perpustakaan bisa meluas dan dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
"Di tengah tantangan literasi yang masih rendah, pemanfaatan secara maksimal sumber daya yang ada harus segera direalisasikan. Potensi yang dimiliki Perpustakaan Nasional harus mampu mendorong minat baca masyarakat," ujar Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI), Joko Santoso, Rabu, 19 Agustus 2026 mengatakan perubahan teknologi informasi dan perkembangan kebutuhan masyarakat harus mendorong perpustakaan untuk terus bertransformasi.
Perpustakaan tidak cukup berorientasi pada penghimpunan koleksi, tetapi perlu memperluas akses masyarakat terhadap berbagai sumber informasi dan pengetahuan, termasuk yang tersedia secara digital.
Namun, ujar Lestari, data Perpusnas mencatat hingga akhir 2024 terdapat 143.259 koleksi naskah Nusantara, namun baru 7.987 naskah yang berhasil didigitalisasi.
Data terbaru Perpusnas per Maret 2026, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, menunjukkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional masih berada di angka 40,6 atau dalam kategori rendah.
Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) tercatat 54,80 atau kategori sedang. Angka tersebut menjadi pijakan bahwa upaya meningkatkan literasi harus lebih masif.
Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu mendorong akselerasi digitalisasi naskah kuno dan bahan bacaan.
"Naskah yang sudah didigitalisasi jangan hanya disimpan. Pemanfaatan secara maksimal harus segera direalisasikan," tegasnya.
Di tengah keterbatasan anggaran, Rerie menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci.
"Sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan agar berbagai program peningkatan literasi masyarakat tetap dapat berjalan," ujarnya.
Kolaborasi ini, jelas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, dapat diwujudkan melalui penguatan peran pemerintah daerah, keterlibatan pegiat literasi, hingga kebijakan fiskal yang mendukung, seperti pengurangan pajak buku dan bahan baku kertas.
"Merawat naskah berarti merawat akal budi bangsa. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, sangat krusial untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berdaya saing di masa depan," tuturnya.
Jakarta: Transformasi peran perpustakaan menjadi sarana mempermudah akses pengetahuan dan
literasi tidak cukup dengan menggeser paradigma. Butuh langkah nyata dan strategis agar manfaat perpustakaan bisa meluas dan dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
"Di tengah tantangan literasi yang masih rendah, pemanfaatan secara maksimal sumber daya yang ada harus segera direalisasikan. Potensi yang dimiliki Perpustakaan Nasional harus mampu mendorong minat baca masyarakat," ujar Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP IPI), Joko Santoso, Rabu, 19 Agustus 2026 mengatakan perubahan teknologi informasi dan perkembangan kebutuhan masyarakat harus mendorong perpustakaan untuk terus bertransformasi.
Perpustakaan tidak cukup berorientasi pada penghimpunan koleksi, tetapi perlu memperluas akses masyarakat terhadap berbagai sumber informasi dan pengetahuan, termasuk yang tersedia secara digital.
Namun, ujar Lestari, data Perpusnas mencatat hingga akhir 2024 terdapat 143.259 koleksi naskah Nusantara, namun baru 7.987 naskah yang berhasil didigitalisasi.
Data terbaru Perpusnas per Maret 2026, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, menunjukkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional masih berada di angka 40,6 atau dalam kategori rendah.
Sementara itu, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) tercatat 54,80 atau kategori sedang. Angka tersebut menjadi pijakan bahwa upaya meningkatkan literasi harus lebih masif.
Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu mendorong akselerasi digitalisasi naskah kuno dan bahan bacaan.
"Naskah yang sudah didigitalisasi jangan hanya disimpan. Pemanfaatan secara maksimal harus segera direalisasikan," tegasnya.
Di tengah keterbatasan anggaran, Rerie menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci.
"Sinergi antarpemangku kepentingan diperlukan agar berbagai program peningkatan literasi masyarakat tetap dapat berjalan," ujarnya.
Kolaborasi ini, jelas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, dapat diwujudkan melalui penguatan peran pemerintah daerah, keterlibatan pegiat literasi, hingga kebijakan fiskal yang mendukung, seperti pengurangan pajak buku dan bahan baku kertas.
"Merawat naskah berarti merawat akal budi bangsa. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, sangat krusial untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berdaya saing di masa depan," tuturnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(ANN)