Jakarta: Istilah "in this economy" belakangan kerap dipakai anak muda di media sosial untuk menggambarkan betapa sulitnya mengatur keuangan di tengah biaya hidup yang terus meroket. Namun, tantangan finansial ini nyatanya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat urban, melainkan juga memukul sektor ultramikro di lapisan akar rumput.
Dalam acara Media Briefing Road to Asia Grassroots Forum 2026, para pakar menegaskan bahwa di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu ini, mengupayakan inklusi keuangan atau sekadar "punya akses ke pinjaman modal" saja sudah tidak lagi cukup. Fokus utama kini harus bergeser pada penguatan kesehatan keuangan (financial health).
Mengapa Akses Finansial Saja Tidak Cukup?
Banyak lembaga keuangan saat ini berlomba-bomba memberikan inklusi berupa kemudahan akses dana. Namun, tanpa dibarengi dengan kesehatan keuangan yang mencakup stabilitas dan ketahanan jangka panjang, pelaku usaha mikro justru rawan terjebak guncangan jika biaya kebutuhan pokok tiba-tiba melonjak.
Merespons fenomena global ini, Amartha mengumumkan sebuah langkah strategis untuk berkolaborasi secara lintas sektor dengan membentuk koalisi khusus yang didukung langsung oleh badan dunia PBB.
"Amartha tahun lalu didatangi oleh perwakilan dari PBB, Queen Maxima dari Belanda, sebagai UNSGSA (United Nations Secretary-General's Special Advocate for Financial Health). Beliau mengapresiasi Amartha sebagai salah satu model internasional yang konsisten mendorong kesehatan keuangan bagi para nasabahnya. Nah, nanti tanggal 4 Juni, Amartha bersama UNSGSA akan meluncurkan Indonesia Coalition for Financial Health,” ujar Aria Widyanto, selaku Chief Compliance and Sustainability Officer, Amartha
Membangun Resiliensi Bersama Koalisi Baru
Koalisi ini dibentuk bukan sekadar untuk formalitas, melainkan untuk mempertemukan para pemangku kepentingan mulai dari institusi, akademisi, peneliti, hingga lembaga pemikir (think tank) seperti CELIOS guna menciptakan solusi keuangan yang berkualitas dan berdampak nyata bagi ketahanan masyarakat bawah.
Baca Juga :
Amartha Guyur UMKM Desa Triliunan Rupiah, Wujudkan Pemerataan Ekonomi di Tahun 2026
"Tujuannya adalah kami ingin mengkolaborasikan cross-sector, untuk menciptakan suatu solusi bersama untuk bisa mendorong kesehatan keuangan di level akhir. Karena kita tahu bahwa segmen ultramikro, mikro, dan informal ini punya peran yang sangat penting. Jadi kita harus mendukung mereka agar memiliki resiliensi, ketangguhan secara ekonomi,” pungkas Aria.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Istilah "in this economy" belakangan kerap dipakai anak muda di media sosial untuk menggambarkan betapa sulitnya mengatur keuangan di tengah biaya hidup yang terus meroket. Namun,
tantangan finansial ini nyatanya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat urban, melainkan juga memukul sektor ultramikro di lapisan akar rumput.
Dalam acara Media Briefing Road to Asia Grassroots Forum 2026, para pakar menegaskan bahwa di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu ini, mengupayakan inklusi keuangan atau sekadar "punya akses ke pinjaman modal" saja sudah tidak lagi cukup. Fokus utama kini harus bergeser pada penguatan kesehatan keuangan (financial health).
Mengapa Akses Finansial Saja Tidak Cukup?
Banyak lembaga keuangan saat ini berlomba-bomba memberikan inklusi berupa kemudahan akses dana. Namun, tanpa dibarengi dengan kesehatan keuangan yang mencakup stabilitas dan ketahanan jangka panjang, pelaku usaha mikro justru rawan terjebak guncangan jika biaya kebutuhan pokok tiba-tiba melonjak.
Merespons fenomena global ini, Amartha mengumumkan sebuah langkah strategis untuk berkolaborasi secara lintas sektor dengan membentuk koalisi khusus yang didukung langsung oleh badan dunia PBB.
"Amartha tahun lalu didatangi oleh perwakilan dari PBB, Queen Maxima dari Belanda, sebagai UNSGSA (United Nations Secretary-General's Special Advocate for Financial Health). Beliau mengapresiasi Amartha sebagai salah satu model internasional yang konsisten mendorong kesehatan keuangan bagi para nasabahnya. Nah, nanti tanggal 4 Juni, Amartha bersama UNSGSA akan meluncurkan Indonesia Coalition for Financial Health,” ujar Aria Widyanto, selaku Chief Compliance and Sustainability Officer, Amartha
Membangun Resiliensi Bersama Koalisi Baru
Koalisi ini dibentuk bukan sekadar untuk formalitas, melainkan untuk mempertemukan para pemangku kepentingan mulai dari institusi, akademisi, peneliti, hingga lembaga pemikir (think tank) seperti CELIOS guna menciptakan solusi keuangan yang berkualitas dan berdampak nyata bagi ketahanan masyarakat bawah.
"Tujuannya adalah kami ingin mengkolaborasikan cross-sector, untuk menciptakan suatu solusi bersama untuk bisa mendorong kesehatan keuangan di level akhir. Karena kita tahu bahwa segmen ultramikro, mikro, dan informal ini punya peran yang sangat penting. Jadi kita harus mendukung mereka agar memiliki resiliensi, ketangguhan secara ekonomi,” pungkas Aria.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)