Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

BMKG Prediksi Puncak Kemarau Agustus-September 2026, El Nino Masih Berlanjut

Annisa ayu artanti • 30 Juli 2026 20:00
Ringkasnya gini..
  • BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus-September 2026 dengan dampak El Nino hingga awal 2027.
  • El Nino membuat kemarau 2026 lebih panjang dan kering. BMKG mengingatkan enam provinsi rawan karhutla.
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus hingga September, sementara dampak fenomena El Nino diperkirakan masih berlanjut hingga awal 2027.
 
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. 

Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus dan September

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau dalam dua bulan ke depan.
 
“Untuk puncak musim kemarau tahun 2026 diprediksi umumnya terjadi pada bulan Agustus ya, atau 48,84 persen luas daratan Indonesia, dan di bulan September atau 25,41 persen luas daratan Indonesia,” ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis, 30 Juli 2026.
 
Baca juga: Fakta El Nino yang Perlu Diketahui, BMKG: Musim Kemarau Belum Tentu Karena Ini

Menurut BMKG, musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dibandingkan biasanya akibat pengaruh El Nino yang diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027.

El Nino Bikin Musim Kemarau Lebih Panjang

Fenomena El Nino menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia menurun. Dampaknya, musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kondisi udara menjadi lebih kering.

6 Provinsi Jadi Wilayah Risiko Karhutla Tertinggi

BMKG juga mencatat adanya peningkatan jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Enam provinsi yang saat ini menjadi perhatian utama meliputi:
  1. Riau
  2. Sumatra Selatan
  3. Jambi
  4. Kalimantan Barat
  5. Kalimantan Tengah
  6. Papua Selatan
Sebagai langkah mitigasi, BMKG telah mengoperasikan teknologi modifikasi cuaca di sejumlah daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla.
 
Upaya tersebut dilakukan untuk meminimalkan dampak musim kemarau ekstrem sekaligus mendukung penanganan bencana di wilayah yang berisiko mengalami kekeringan maupun kebakaran hutan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>