Ilustrasi Lion Air. (FOTO: MI/Sumaryanto)
Ilustrasi Lion Air. (FOTO: MI/Sumaryanto)

KNKT Ungkap Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP

Nasional kecelakaan pesawat
Candra Yuri Nuralam • 25 Oktober 2019 17:14
Jakarta: Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil investigasi penyebab jatuhnya pesawat Lion Air PQ-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang. Hasil investigasi menyimpulkan ada sembilan faktor yang saling terkait penyebab jatuhnya pesawat.
 
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyampaikan dari hasil penyelidikan ditemukan kerusakan indikator kecapatan dan ketinggian pesawat tiga hari sebelum jatuhnya pesawat atau 26 Oktober 2018 dalam penerbangan dari Tianjin, Tiongkok ke Manado. Meski telah diperbaiki, kerusakan terus berulang hingga sehari sebelum peristiawa nahas itu terjadi. Tanggal 28 Oktober 2019 Angle of Attack (AOA) diganti sebelum penerbangan dari Denpasar ke Jakarta.
 
"AOA sensor kiri yang dipasang mengalami deviasi sebesar 21 derajat yang tidak terdeteksi pada saat diuji setelah dipasang. Deviasi ini mengakibatkan perbedaan penunjukan ketinggian dan kecepatan antara instrument kiri dan kanan kokpit juga mengaktifkan stick shaker dan Maneuvering Characteristic Augmentation System (MCAS) pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta," jelas Sorjanto di Jakarta, Jumat 25 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari data rekaman penerbangan atau Flight Data Recorder (FDR) saat peristiwa nahas itu terjadi, tercatat adanya kerusakan yang sama terjadi saat penerbangan dari Jakarta ke Pangkal Pinang. Pilot melaksanakan prosedur non-formal untuk IAS Disagree namun tidak mengenali kondisi runaway stabilizer.
 
"Beberapa peringatan, berulangnya aktivasi MCAS dan padatnya komunikasi dengan Air Traffic Control (ATC) berkontribusi pada kesulitasn pilot untuk mengendalikan pesawat," terang Sorjanto.
 
MCAS sendiri fitur teranyar tipe pesawat Boeing 737-8 (MAX) untuk memperbaiki karakteristik pergerakan pada bidang vertikal pesawat dalam kondisi manual flight. Hasil investigasi menemukan desain dan sertifikasi fitur tidak memadai. Ditambah buku panduan untuk pilot memuat informasi terkait MCAS.
 
"Kecelakaan serupa terjadi di Ethiopia melibatkan pesawat Boeing 737-8 (MAX) yang mengalami kerusakan AOA Sensor pada 10 Maret 2019," ujarnya.
 
Berikut sembilan faktor yang berkontribusi penyebab jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP.
 
1. Asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 (MAX), meskipun sesuai dengan referensi yang ada ternyata tidak tepat
 
2. Mengacu asumsi yang telah dibuat atas reaksi pilot dan kurang lengkapnya kajian terkait efek-efek yang dapat terjadi di cockpit, sensor tunggal yang diandalkan untuk MCAS dianggap cukup dan memenuhi ketentuan sertifikasi
 
3. Desain MCAS yang mengandalkan satu sensor rentan terhadap kesalahan
 
4. Pilot mengalami kesulitan melakukan respon yang tepat terhadap pergerakan MCAS yang tidak seharusnya karena tidak ada petunjuk dala buku panduan dan pelatihan
 
5. Indikator AOA DISAGREE tidak tersedia di pesawat Boeing 737-8 (MAX) PK-LQP, berakibat informasi ini tidak muncul pada saat penerbangan dengan penunjukan sudut AOA yang berbeda antara kiri dan kanan sehingga perbedaan ini tidak dapat dicatatkan oleh pilot dan teknisi tidak dapat mengidentifikasi kerusakan AOA sensor
 
6. AOA sensor pengganti mengalami kesalahan kalibrasi yang tidak terdeteksi pada saat perbaikan sebelumnya
 
7. Investigasi tidak dapat menentukan pengujian AOA sensor setelah terpasang pada pesawat yang mengalami kecelakaan dilakukan dengan benar, sehingga kesalahan kalibrasi tidak terdeteksi
 
8. Informasi mengenai stick shaker dan penggunaan prosedur non-formal Runaway Stabilizer pada penerbangan sebelumnya tidak tercatat pada buku catatan penerbangan dan perawatan pesawat mengakibatkan baik pilot maupun teknisi tidak dapat mengambil tindakan yang tepat
 
9. Beberapa peringatan, berulangnya aktifasi MCAS dan padatnya komunikasi dengan ATC tidak terkelola dengan efektif. Hal ini diakibatkan oleh situasi-kondisi yang sulit dan kemampuan mengendalikan pesawat, pelaksanaan prosedur non-normal dan komunikasi antar pilot, berdampak pada ketidakefektifan koordinasi antar pilot dan pengelolaan beban kerja. Kondisi ini telah teridentifikasi pada saat pelatihan dan muncul kembali pada penerbangan ini.
 

(WHS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif