Jakarta: Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto mengingatkan warga tak abai dengan ancaman demam berdarah dengue (DBD) di tengah pendemi virus korona (covid-19). Memasuki musim pancaroba, tingkat penyebaran DBD semakin tinggi.
"Secara klasikal kita bisa mendapatkan gambaran peningkatan pasien demam berdarah. Oleh karena itu inilah saat yang paling baik bagi kita untuk tetap bersama di rumah, bersama keluarga kita lakukan pemberantasan sarang nyamuk," kata Yurianto di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Jumat, 17 April 2020.
Yurianto menyampaikan DBD sama bahayanya dengan covid-19. Bila dua penyakit ini datang bersamaan, tingkat kematian akan semakin tinggi. Untuk itu, masyarakat diminta membasmi sarang nyamuk saat berada di rumah selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Hingga Rabu, 15 April 2020, sudah ada 266 orang meninggal akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini. Jumlah korban terbanyak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencapai 48 orang. Korban meninggal di Jawa Barat 33 orang dan Jawa Timur 26 orang.
Baca: Enam Warga Tasikmalaya Meninggal Akibat DBD
“DKI Jakarta sejauh ini belum ada korban jiwa,” kata Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Rabu, 15 April 2020.
Jumlah kasus DBD juga terus bertambah hingga menjadi 41.883 orang. Sebaran terbanyak berada di Jawa Barat dengan 6.337 kasus, NTT 4.679 kasus, dan Lampung 3.972 kasus.
“Jumlah kasus di DKI Jakarta sebanyak 2.057 kasus, satu peringkat di bawah Bali dengan 2.173 kasus,” tutur Nadia.
Jakarta: Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Achmad Yurianto mengingatkan warga tak abai dengan ancaman demam berdarah dengue (DBD) di tengah pendemi virus korona (
covid-19). Memasuki musim pancaroba, tingkat penyebaran DBD semakin tinggi.
"Secara klasikal kita bisa mendapatkan gambaran peningkatan pasien demam berdarah. Oleh karena itu inilah saat yang paling baik bagi kita untuk tetap bersama di rumah, bersama keluarga kita lakukan pemberantasan sarang nyamuk," kata Yurianto di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Jumat, 17 April 2020.
Yurianto menyampaikan DBD sama bahayanya dengan covid-19. Bila dua penyakit ini datang bersamaan, tingkat kematian akan semakin tinggi. Untuk itu, masyarakat diminta membasmi sarang nyamuk saat berada di rumah selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Hingga Rabu, 15 April 2020, sudah ada 266 orang meninggal akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini. Jumlah korban terbanyak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencapai 48 orang. Korban meninggal di Jawa Barat 33 orang dan Jawa Timur 26 orang.
Baca:
Enam Warga Tasikmalaya Meninggal Akibat DBD
“DKI Jakarta sejauh ini belum ada korban jiwa,” kata Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Rabu, 15 April 2020.
Jumlah kasus DBD juga terus bertambah hingga menjadi 41.883 orang. Sebaran terbanyak berada di Jawa Barat dengan 6.337 kasus, NTT 4.679 kasus, dan Lampung 3.972 kasus.
“Jumlah kasus di DKI Jakarta sebanyak 2.057 kasus, satu peringkat di bawah Bali dengan 2.173 kasus,” tutur Nadia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OGI)