ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Gizi Buruk Jangan Dibiarkan Kronis

Nasional gizi kurang
Dheri Agriesta • 27 Mei 2018 21:16
Sambas: Kristi Sylvani terkulai lemas sembari dipeluk orangtuanya di ruang inap Puskesmas Sajingan Besar. Bocah berusia empat tahun itu menangis kesakitan.
 
Muikim, sang ibu tak bisa menyembunyikan raut sedih. Kristi diduga mengidap gizi buruk karena berat badan yang tak sesuai dengan umurnya.
 
"Beratnya sekarang 4,8 kilogram, umurnya empat tahun, memang lahirnya dulu kecil," kata Muikim di Puskesmas Sajingan Besar, Sambas, Kalimantan Barat, Minggu, 27 Mei 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Muikim sadar dengan penyakit gizi buruk yang diderita anak keempatnya. Namun, keterbatasan ekonomi menjadi halangan. Suaminya bekerja sebagai petani. "Ikut dengan suami, orang sawah. Tinggal di sawah," kata dia.
 
Kristi pun belum bisa bicara. Menangis merupakan salah satu cara Kristi berinteraksi dengan keluarganya. "Ini sudah dua hari di puskesmas," kata Muikim.
 
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno Sutarjo sadar dengan bahaya penyakit gizi buruk ini. Puskesmas akan segera memberikan penanganan medis untuk mengobati pasien yang terjangkit penyakit itu.
 
"Kita kalau bisa gizi buruk itu jangan sampai dia jadi kronis, biar cepat ditangani," kata Untung.
 
Pemerintah memang getol menanggulangi penyakit gizi buruk dan stunting atau anak kerdil. Pencegahan juga terus dilakukan untuk meminimalisir masyarakat yang terjangkit.
 
Sosialisasi pengenalan penyakit gizi buruk akan terus dilakukan. Kemenkes tak ingin petugas kesehatan hanya mengobati masyarakat yang terjangkit.
 
Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIPK) dan program nasional penanggulangan stunting diharapkan bisa menekan penyebaran penyakit ini. Program ini memungkinkan petugas kesehatan terjun ke lapangan untuk melihat kemungkinan gizi buruk.
 
"Pertama penyuluhan ASI eksklusif dan penyuluhan 1000 hari kehidupan itu harus dilaksanakan dengan baik," kata Untung.
 
Puskesmas Sajingan Besar merupakan salah satu puskesmas yang berada di tapal batas Indonesia dan Malaysia. Puskesmas Sajingan Besar hanya berjarak sekitar 15 menit berkendara menuju Pos Lintas Batas Negara Aruk Indonesia.
 

(JMS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif