medcom.id, New York: Presiden Amerika Serikat Barack Obama menata kembali kebijakan luar negeri pascaperang, setelah lebih dari satu dekade Paman Sam terlibat dalam pertempuran di luar negeri.
Obama meminta pemerintahannya untuk menahan diri sebelum memulai upaya militer dan menyerukan kemitraan dengan negara-negara lain untuk menangani banyak masalah. Pandangan-pandangan Obama itu disampaikan dalam pidato permulaan Akademi Militer di West Point, New York, Rabu 28 Mei 2014, yang dikutip dari Associated Press, Kamis (29/5/2014).
Berikut pokok-pokok pidato Obama:
Terorisme
Obama mengatakan terorisme masih menjadi ancaman terbesar Amerika . Namun dia juga menggambarkan pergeseran jaringan yang lebih terdesentralisasi dari Al Qaeda. Obama berargumen, tidak layak untuk menyerang setiap negara yang menyembunyikan teroris dan mengatakan bahwa strategi Amerika harus bergeser dengan menjadi mitra negara-negara di mana jaringan tersebut mencari pijakan.
Suami Michelle ini meminta tim keamanan nasionalnya untuk merencanakan jaringan kemitraan untuk mengatasi ancaman yang muncul di Timur Tengah dan Afrika Utara. Ia pun meminta Kongres untuk menyetujui dana kemitraan kontraterorisme baru hingga USD5 miliar.
Kekuatan Militer
Presiden Obama menolak argumen bahwa kebijakan luar negerinya terlalu berhati-hati , sementara juga menolak mereka yang mengatakan Amerika Serikat seharusnya tidak terlibat dalam perselisihan di luar negeri yang tidak secara langsung mempengaruhi rakyat Amerika.
Alumni SDN 01 Menteng, Jakarta, ini berargumen, AS harus mempromosikan kebebasan sebagai "kewajiban moral" dan cara untuk menjaga dunia aman. Tapi ia juga mengatakan kekuatan militer tidak harus menjadi cara utama untuk mengejar perdamaian dan kebebasan di luar negeri . Dia mengatakan AS harus menggunakan kekuatan militer, secara sepihak jika perlu, ketika Amerika terancam atau keamanan sekutu dalam bahaya.
Pesawat Nirawak
Obama mengatakan kemitraan kontraterorisme tidak akan menghapus kebutuhan untuk melakukan serangan pesawat tak berawak terhadap tersangka teror. Namun dia mengatakan serangan harus memastikan tidak adanya korban sipil.
Suriah
Obama bersikukuh pada keputusannya untuk tidak mengirim pasukan ke Suriah dan menegaskan tidak ada solusi militer yang dapat menghilangkan penderitaan di sana. Obama mengatakan akan bekerja dengan Kongres untuk meningkatkan dukungan bagi oposisi Suriah dalam menghadapi Presiden Bashar Assad, yang ia digambarkan sebagai "diktator yang mengebom dan membuat lapar rakyatnya sendiri”. Obama mengatakan Suriah akan menjadi fokus penting dari kemitraan kontraterorisme baru , dengan peningkatan dukungan untuk Yordania, Lebanon, Turki, dan Irak untuk menangani pengungsi dan melawan teroris yang melintasi sepanjang perbatasan Suriah.
Nigeria
Obama mengatakan tidak ada operasi keamanan Amerika yang dapat membasmi ancaman dari kelompok ekstremis seperti Boko Haram, yang bertanggung jawab atas penculikan ratusan siswi madrasah. Dia mengatakan dunia harus fokus tidak hanya pada menyelamatkan para gadis, tapi mendidik pemuda Nigeria untuk mencegah ekstremisme.
Mesir
Obama membela keputusannya untuk tidak memutuskan hubungan dengan Mesir setelah bentrokan terjadi di jalan-jalan antara polisi dan pengunjuk rasa. Dia mengakui adanya kepentingan keamanan AS di wilayah tersebut dan mengatakan AS akan terus menekan para pemimpin Mesir untuk melakukan reformasi.
Kerja Sama Internasional
Obama menolak pandangan skeptis yang mengatakan bahwa bekerja melalui organisasi-organisasi seperti PBB adalah tanda kelemahan. Dia menyebut isolasi terhadap Rusia atas aksinya di Ukraina dan negosiasi dengan Iran atas program nuklirnya sebagai contoh kerja sama internasional yang efektif. Dia mengatakan Amerika harus memimpin upaya untuk mengubah struktur lembaga-lembaga internasional, seperti NATO, PBB , Bank Dunia, dan Dana Moneter Internasional , untuk menghadapi masalah-masalah global.
medcom.id, New York: Presiden Amerika Serikat Barack Obama menata kembali kebijakan luar negeri pascaperang, setelah lebih dari satu dekade Paman Sam terlibat dalam pertempuran di luar negeri.
Obama meminta pemerintahannya untuk menahan diri sebelum memulai upaya militer dan menyerukan kemitraan dengan negara-negara lain untuk menangani banyak masalah. Pandangan-pandangan Obama itu disampaikan dalam pidato permulaan Akademi Militer di West Point, New York, Rabu 28 Mei 2014, yang dikutip dari
Associated Press, Kamis (29/5/2014).
Berikut pokok-pokok pidato Obama:
Terorisme
Obama mengatakan terorisme masih menjadi ancaman terbesar Amerika . Namun dia juga menggambarkan pergeseran jaringan yang lebih terdesentralisasi dari Al Qaeda. Obama berargumen, tidak layak untuk menyerang setiap negara yang menyembunyikan teroris dan mengatakan bahwa strategi Amerika harus bergeser dengan menjadi mitra negara-negara di mana jaringan tersebut mencari pijakan.
Suami Michelle ini meminta tim keamanan nasionalnya untuk merencanakan jaringan kemitraan untuk mengatasi ancaman yang muncul di Timur Tengah dan Afrika Utara. Ia pun meminta Kongres untuk menyetujui dana kemitraan kontraterorisme baru hingga USD5 miliar.
Kekuatan Militer
Presiden Obama menolak argumen bahwa kebijakan luar negerinya terlalu berhati-hati , sementara juga menolak mereka yang mengatakan Amerika Serikat seharusnya tidak terlibat dalam perselisihan di luar negeri yang tidak secara langsung mempengaruhi rakyat Amerika.
Alumni SDN 01 Menteng, Jakarta, ini berargumen, AS harus mempromosikan kebebasan sebagai "kewajiban moral" dan cara untuk menjaga dunia aman. Tapi ia juga mengatakan kekuatan militer tidak harus menjadi cara utama untuk mengejar perdamaian dan kebebasan di luar negeri . Dia mengatakan AS harus menggunakan kekuatan militer, secara sepihak jika perlu, ketika Amerika terancam atau keamanan sekutu dalam bahaya.
Pesawat Nirawak
Obama mengatakan kemitraan kontraterorisme tidak akan menghapus kebutuhan untuk melakukan serangan pesawat tak berawak terhadap tersangka teror. Namun dia mengatakan serangan harus memastikan tidak adanya korban sipil.
Suriah
Obama bersikukuh pada keputusannya untuk tidak mengirim pasukan ke Suriah dan menegaskan tidak ada solusi militer yang dapat menghilangkan penderitaan di sana. Obama mengatakan akan bekerja dengan Kongres untuk meningkatkan dukungan bagi oposisi Suriah dalam menghadapi Presiden Bashar Assad, yang ia digambarkan sebagai "diktator yang mengebom dan membuat lapar rakyatnya sendiri”. Obama mengatakan Suriah akan menjadi fokus penting dari kemitraan kontraterorisme baru , dengan peningkatan dukungan untuk Yordania, Lebanon, Turki, dan Irak untuk menangani pengungsi dan melawan teroris yang melintasi sepanjang perbatasan Suriah.
Nigeria
Obama mengatakan tidak ada operasi keamanan Amerika yang dapat membasmi ancaman dari kelompok ekstremis seperti Boko Haram, yang bertanggung jawab atas penculikan ratusan siswi madrasah. Dia mengatakan dunia harus fokus tidak hanya pada menyelamatkan para gadis, tapi mendidik pemuda Nigeria untuk mencegah ekstremisme.
Mesir
Obama membela keputusannya untuk tidak memutuskan hubungan dengan Mesir setelah bentrokan terjadi di jalan-jalan antara polisi dan pengunjuk rasa. Dia mengakui adanya kepentingan keamanan AS di wilayah tersebut dan mengatakan AS akan terus menekan para pemimpin Mesir untuk melakukan reformasi.
Kerja Sama Internasional
Obama menolak pandangan skeptis yang mengatakan bahwa bekerja melalui organisasi-organisasi seperti PBB adalah tanda kelemahan. Dia menyebut isolasi terhadap Rusia atas aksinya di Ukraina dan negosiasi dengan Iran atas program nuklirnya sebagai contoh kerja sama internasional yang efektif. Dia mengatakan Amerika harus memimpin upaya untuk mengubah struktur lembaga-lembaga internasional, seperti NATO, PBB , Bank Dunia, dan Dana Moneter Internasional , untuk menghadapi masalah-masalah global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(JRI)