Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi perhatian. Salah satu tantangan terbesar muncul ketika api menyambar kawasan gambut. Sekilas, api terlihat sudah padam setelah disiram air. Namun, persoalannya belum tentu selesai.
Gambut bisa menyimpan bara di bawah permukaan tanah. Ketika kondisi gambut mengering, api dapat menjalar secara perlahan di lapisan organik bawah tanah dan sulit terlihat dari permukaan. Inilah yang membuat kebakaran gambut sering membutuhkan proses pemadaman sekaligus pendinginan yang lebih lama.
Baca juga: 63 Hari Melawan Karhutla Kubu Raya, Air Jadi Musuh Utama
Fenomena tersebut membuat gambut kerap dianalogikan sebagai "bom waktu". Ketika kondisi basah, gambut relatif aman dari kebakaran. Namun, ketika dikeringkan dan musim kemarau datang, material organik yang menumpuk selama bertahun-tahun dapat berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Mengapa api di gambut begitu sulit ditaklukkan?
Salah satu jawabannya ada di karakteristik gambut itu sendiri. Api tidak selalu bergerak sebagai kobaran besar di permukaan, tetapi dapat membara di bawah tanah. Kondisi ini membuat titik api sulit dideteksi dan membutuhkan air dalam jumlah serta waktu yang cukup untuk memastikan bara benar-benar padam.
Masalahnya semakin rumit ketika gambut sudah mengalami pengeringan. Saluran atau kanal yang membuat air keluar dari kawasan gambut dapat menurunkan kelembapan tanah. Saat musim kemarau berlangsung, permukaan dan lapisan gambut pun menjadi lebih mudah terbakar. Karena itu, menjaga ketinggian air gambut menjadi bagian penting dari pencegahan karhutla.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan kondisi gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla. Dalam penanganan di Kalimantan Barat, ia menyebut operasi darat tetap menjadi tumpuan karena water bombing dari udara tidak selalu efektif untuk kebakaran di lahan gambut.
"Sehingga tetap tumpuannya adalah di Satgas Darat untuk operasi penanganan karhutla ini. Satgas Darat ini memang menjadi tumpuan utama," ujar Suharyanto.
Tantangan tersebut juga terlihat dari fenomena api yang kembali muncul setelah sebelumnya dinyatakan padam. Pada awal September 2026, Suharyanto menyebut sekitar 98 persen kebakaran lahan gambut di enam provinsi prioritas telah dipadamkan. Namun, masih ada area yang belum padam dan sejumlah titik lama dapat kembali terbakar.
"Kadang-kadang juga tidak berkurang signifikan, karena hari ini juga ditemukan titik kebakaran yang baru. Atau kebakaran yang lama yang sudah dipadamkan, yang sudah dilaporkan padam, tiba-tiba hidup kembali," kata Suharyanto.
Kerja Sama Berbagai Pihak
Dari sisi pemerintah daerah, tantangan serupa juga dihadapi Riau yang memiliki hamparan gambut luas. Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menekankan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, aparat, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya.
"Keberhasilan ini bukanlah milik perorangan atau bukan hanya keberhasilan TNI, Polri, dan pemerintah saja. Melainkan keberhasilan kita bersama seluruh elemen masyarakat Riau," ujarnya.
Pemerintah daerah juga tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Pemprov Riau memperkuat personel dan peralatan serta koordinasi untuk menghadapi risiko karhutla, sementara penanganan di kawasan gambut membutuhkan proses pendinginan agar bara di bawah permukaan tidak kembali menyala.
Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah pusat. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau karhutla di Kerumutan, Riau, mengatakan pemadaman di tanah gambut membutuhkan penanganan lebih serius dan tidak cukup hanya memadamkan api di permukaan.
"Kalau dilihat ini sudah tinggal asap saja, tetapi jika tidak dilakukan pendinginan bisa muncul kapan saja. Makanya, saya minta supaya semuanya tetap waspada," kata Raja Juli.
Dari sisi Greenpeace, persoalan gambut tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekosistem dan tata kelola lahannya. Peneliti Senior Greenpeace Indonesia Sapta Ananda mengatakan wilayah dengan lahan gambut yang luas mudah terbakar ketika kering dan apinya sulit dipadamkan.
Menurut Greenpeace, musim kemarau, El Nino, dan angin monsun dapat memperparah situasi kebakaran serta penyebaran asap. Sementara itu, aspek karakteristik lahan juga menjadi bagian dari pemeriksaan ketika terjadi kebakaran di kawasan perkebunan.
Dalam penyidikan karhutla di Riau pada Agustus 2026, Polda Riau melibatkan Herman Marbun sebagai ahli perkebunan bersama sejumlah ahli lainnya. Tim tersebut memeriksa titik awal api, pola perambatan kebakaran, kondisi lahan dan vegetasi, sementara ahli perkebunan mendalami karakteristik lahan yang terdampak.
Direktur Reskrimsus Polda Riau Kombes Pol Ade Kuncoro Ridwan menjelaskan bukan sekadar menemukan titik api atau mengamankan barang bukti cara ini ingin memastikan secara ilmiah bagaimana kebakaran terjadi, apa penyebabnya, berapa luas dampaknya, dan sejauh mana kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.
Oleh karena itu, menghadapi karhutla gambut tidak cukup dengan prinsip "lihat api, lalu siram". Pencegahan harus dilakukan sebelum gambut mengering, sementara ketika kebakaran terjadi, pemadaman perlu dilanjutkan dengan pendinginan dan pemantauan.
Pemerintah juga terus mengandalkan kombinasi operasi darat, patroli udara, water bombing, hingga Operasi Modifikasi Cuaca. BNPB pada awal September 2026 bahkan melaporkan sejumlah titik yang masih membutuhkan pemadaman dan pendinginan, terutama di kawasan bergambut.
Pada akhirnya, istilah "bom waktu" bukan berarti gambut pasti terbakar. Justru sebaliknya, gambut yang tetap basah memiliki fungsi ekologis penting dan mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Masalah muncul ketika keseimbangan airnya terganggu, lahan mengering, lalu bertemu sumber api. Saat itu terjadi, api bisa bergerak diam-diam di bawah permukaan dan membuat pekerjaan pemadaman jauh lebih rumit. Inilah alasan mengapa menjaga gambut tetap basah dan mencegah api sejak awal jauh lebih penting daripada menunggu kobaran membesar.
Jakarta:
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi perhatian. Salah satu tantangan terbesar muncul ketika api menyambar kawasan gambut. Sekilas, api terlihat sudah padam setelah disiram air. Namun, persoalannya belum tentu selesai.
Gambut bisa menyimpan bara di bawah permukaan tanah. Ketika kondisi gambut mengering, api dapat menjalar secara perlahan di lapisan organik bawah tanah dan sulit terlihat dari permukaan. Inilah yang membuat kebakaran gambut sering membutuhkan proses pemadaman sekaligus pendinginan yang lebih lama.
Fenomena tersebut membuat gambut kerap dianalogikan sebagai "bom waktu". Ketika kondisi basah, gambut relatif aman dari kebakaran. Namun, ketika dikeringkan dan musim kemarau datang, material organik yang menumpuk selama bertahun-tahun dapat berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Mengapa api di gambut begitu sulit ditaklukkan?
Salah satu jawabannya ada di karakteristik gambut itu sendiri. Api tidak selalu bergerak sebagai kobaran besar di permukaan, tetapi dapat membara di bawah tanah. Kondisi ini membuat titik api sulit dideteksi dan membutuhkan air dalam jumlah serta waktu yang cukup untuk memastikan bara benar-benar padam.
Masalahnya semakin rumit ketika gambut sudah mengalami pengeringan. Saluran atau kanal yang membuat air keluar dari kawasan gambut dapat menurunkan kelembapan tanah. Saat musim kemarau berlangsung, permukaan dan lapisan gambut pun menjadi lebih mudah terbakar. Karena itu, menjaga ketinggian air gambut menjadi bagian penting dari pencegahan karhutla.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan kondisi gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla. Dalam penanganan di Kalimantan Barat, ia menyebut operasi darat tetap menjadi tumpuan karena water bombing dari udara tidak selalu efektif untuk kebakaran di lahan gambut.
"Sehingga tetap tumpuannya adalah di Satgas Darat untuk operasi penanganan karhutla ini. Satgas Darat ini memang menjadi tumpuan utama," ujar Suharyanto.
Tantangan tersebut juga terlihat dari fenomena api yang kembali muncul setelah sebelumnya dinyatakan padam. Pada awal September 2026, Suharyanto menyebut sekitar 98 persen kebakaran lahan gambut di enam provinsi prioritas telah dipadamkan. Namun, masih ada area yang belum padam dan sejumlah titik lama dapat kembali terbakar.
"Kadang-kadang juga tidak berkurang signifikan, karena hari ini juga ditemukan titik kebakaran yang baru. Atau kebakaran yang lama yang sudah dipadamkan, yang sudah dilaporkan padam, tiba-tiba hidup kembali," kata Suharyanto.
Kerja Sama Berbagai Pihak
Dari sisi pemerintah daerah, tantangan serupa juga dihadapi Riau yang memiliki hamparan gambut luas. Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menekankan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, aparat, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya.
"Keberhasilan ini bukanlah milik perorangan atau bukan hanya keberhasilan TNI, Polri, dan pemerintah saja. Melainkan keberhasilan kita bersama seluruh elemen masyarakat Riau," ujarnya.
Pemerintah daerah juga tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Pemprov Riau memperkuat personel dan peralatan serta koordinasi untuk menghadapi risiko karhutla, sementara penanganan di kawasan gambut membutuhkan proses pendinginan agar bara di bawah permukaan tidak kembali menyala.
Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah pusat. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau karhutla di Kerumutan, Riau, mengatakan pemadaman di tanah gambut membutuhkan penanganan lebih serius dan tidak cukup hanya memadamkan api di permukaan.
"Kalau dilihat ini sudah tinggal asap saja, tetapi jika tidak dilakukan pendinginan bisa muncul kapan saja. Makanya, saya minta supaya semuanya tetap waspada," kata Raja Juli.
Dari sisi Greenpeace, persoalan gambut tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekosistem dan tata kelola lahannya. Peneliti Senior Greenpeace Indonesia Sapta Ananda mengatakan wilayah dengan lahan gambut yang luas mudah terbakar ketika kering dan apinya sulit dipadamkan.
Menurut Greenpeace, musim kemarau, El Nino, dan angin monsun dapat memperparah situasi kebakaran serta penyebaran asap. Sementara itu, aspek karakteristik lahan juga menjadi bagian dari pemeriksaan ketika terjadi kebakaran di kawasan perkebunan.
Dalam penyidikan karhutla di Riau pada Agustus 2026, Polda Riau melibatkan Herman Marbun sebagai ahli perkebunan bersama sejumlah ahli lainnya. Tim tersebut memeriksa titik awal api, pola perambatan kebakaran, kondisi lahan dan vegetasi, sementara ahli perkebunan mendalami karakteristik lahan yang terdampak.
Direktur Reskrimsus Polda Riau Kombes Pol Ade Kuncoro Ridwan menjelaskan bukan sekadar menemukan titik api atau mengamankan barang bukti cara ini ingin memastikan secara ilmiah bagaimana kebakaran terjadi, apa penyebabnya, berapa luas dampaknya, dan sejauh mana kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.
Oleh karena itu, menghadapi karhutla gambut tidak cukup dengan prinsip "lihat api, lalu siram". Pencegahan harus dilakukan sebelum gambut mengering, sementara ketika kebakaran terjadi, pemadaman perlu dilanjutkan dengan pendinginan dan pemantauan.
Pemerintah juga terus mengandalkan kombinasi operasi darat, patroli udara, water bombing, hingga Operasi Modifikasi Cuaca. BNPB pada awal September 2026 bahkan melaporkan sejumlah titik yang masih membutuhkan pemadaman dan pendinginan, terutama di kawasan bergambut.
Pada akhirnya, istilah "bom waktu" bukan berarti gambut pasti terbakar. Justru sebaliknya, gambut yang tetap basah memiliki fungsi ekologis penting dan mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Masalah muncul ketika keseimbangan airnya terganggu, lahan mengering, lalu bertemu sumber api. Saat itu terjadi, api bisa bergerak diam-diam di bawah permukaan dan membuat pekerjaan pemadaman jauh lebih rumit. Inilah alasan mengapa menjaga gambut tetap basah dan mencegah api sejak awal jauh lebih penting daripada menunggu kobaran membesar.
(SAW)