Kubu Raya: Api mungkin tidak lagi sebanyak beberapa pekan lalu. Titik-titik kebakaran di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, bahkan disebut telah turun drastis. Namun, bagi petugas di lapangan, perjuangan belum selesai.
Selama 63 hari sejak Juli 2026, tim gabungan masih berjibaku menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mereka bekerja pagi, siang hingga malam untuk mengejar api yang muncul di sejumlah wilayah.
Kepala Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, menyebut pekerjaan memadamkan karhutla bukan perkara sederhana. Ada tiga persoalan utama yang terus menghantui petugas: **air, angin, dan akses menuju lokasi kebakaran**.
“Sudah 63 hari kita melakukan penanganan. Dari pagi, siang, malam, kita tetap melakukan pemadaman,” kata Syarif kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Air Jadi Musuh Utama
Dari ketiga persoalan tersebut, air menjadi tantangan paling besar.
Kondisi kemarau membuat sumber air di sejumlah lokasi semakin sulit ditemukan. Persoalan ini semakin rumit ketika kebakaran terjadi di lahan gambut.
Saat gambut mengering, api tidak selalu terlihat jelas di permukaan. Api dapat menjalar lebih dalam melalui lapisan gambut sehingga petugas membutuhkan air dalam jumlah besar untuk memastikan titik kebakaran benar-benar padam.
“Yang pertama itu air. Air yang paling utama,” ujar Syarif.
Keterbatasan air juga membuat kemampuan petugas untuk menuntaskan kebakaran menjadi terbatas. Menurut Syarif, tidak semua area yang terbakar dapat dipadamkan hingga benar-benar tuntas.
Ia memperkirakan hanya sekitar 10 hingga 20 persen area terbakar yang bisa dipadamkan secara penuh.
Kondisinya berbeda untuk kebakaran kecil yang lokasinya mudah dijangkau. Api dengan luasan sekitar setengah hektare atau kurang dan memiliki akses yang baik masih memungkinkan untuk ditangani hingga tuntas.
Sebaliknya, api yang berada jauh dari jalan, minim sumber air, atau berada di kawasan gambut yang sulit dijangkau membutuhkan tenaga dan waktu jauh lebih besar.
Salah satu contohnya berada di wilayah Kalibandung.
Di lokasi tersebut, petugas menghadapi kombinasi persoalan: akses terbatas, sumber air minim, serta keterbatasan peralatan dan personel.
Angin dan Jarak Pandang Hambat Pemadaman
Jika air menjadi senjata utama untuk memadamkan api, angin justru dapat menjadi lawannya.
Pergerakan angin membuat api lebih mudah menyebar. Kondisi ini juga memengaruhi efektivitas operasi pemadaman dari udara.
Salah satu upaya yang digunakan adalah water bombing. Pesawat dikerahkan untuk mengambil air dan menjatuhkannya ke lokasi kebakaran yang sulit dijangkau petugas di darat.
Namun, operasi tersebut tidak selalu bisa dilakukan.
Dalam beberapa hari terakhir, jarak pandang menjadi persoalan tambahan. Pesawat membutuhkan kondisi yang cukup aman untuk terbang rendah ketika mengambil air.
“Kita gagal terbang karena jarak pandang di bawah satu kilometer,” kata Syarif.
Dalam tiga hari terakhir, terdapat sejumlah lokasi yang telah dijadwalkan untuk mendapatkan dukungan water bombing. Namun, kondisi jarak pandang membuat penerbangan tidak dapat dilaksanakan meski personel, peralatan, dan dukungan operasional telah disiapkan.
Bagi petugas di darat, kegagalan penerbangan berarti pekerjaan kembali bertumpu pada kemampuan tim untuk mencapai lokasi kebakaran secara langsung.
Akses Menentukan Seberapa Cepat Api Bisa Dikejar
Persoalan ketiga adalah akses.
Api yang berada dekat jalan atau permukiman relatif lebih mudah ditangani karena kendaraan dan personel dapat bergerak lebih cepat. Namun, kondisi berbeda ketika titik kebakaran berada jauh di dalam kawasan yang sulit dijangkau.
Kalibandung kembali menjadi salah satu contoh.
Di wilayah seperti ini, persoalannya bukan hanya menemukan titik api. Petugas juga harus memikirkan bagaimana membawa personel, peralatan, dan air menuju lokasi.
Semakin jauh lokasi dari sumber air dan akses transportasi, semakin besar pula waktu dan sumber daya yang dibutuhkan.
Situasi tersebut membuat pemadaman karhutla tidak bisa hanya mengandalkan satu metode.
Tim darat tetap bergerak, sementara dukungan udara digunakan ketika kondisi memungkinkan. Pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan.
Dari Ribuan Titik Api Menjadi Puluhan
Namun, 63 hari perjuangan itu bukan tanpa hasil.
Syarif mengatakan jumlah klaster titik api yang terbakar saat ini telah jauh menurun dibandingkan kondisi sebelumnya.
“Grafiknya kecil-kecil. Kemarin angkanya hampir seribuan titik. Di atas itu seribu. Sekarang sudah hanya menyentuh 27 saja, 27 titik kluster yang terbakar,” ujarnya.
Penurunan tersebut, menurut dia, dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kerja tim di lapangan, operasi modifikasi cuaca hingga hujan yang turun secara alami.
Namun, berkurangnya titik api tidak otomatis berarti persoalan karhutla telah berakhir.
Selama masih terdapat lahan yang kering, terutama gambut, potensi api kembali muncul tetap ada.
Karena itu, pekerjaan petugas tidak berhenti pada mengejar api yang terlihat. Mereka juga harus menghadapi kondisi lingkungan yang membuat api mudah muncul kembali.
63 Hari Belum Menjadi Akhir
Selama 63 hari, pola pekerjaannya relatif sama: mencari titik api, menuju lokasi, mencari sumber air, memadamkan api, kemudian memantau kembali kawasan yang telah ditangani.
Tidak semua api bisa dituntaskan dalam sekali pemadaman.
Ada lokasi yang bisa ditangani dengan cepat. Ada pula kawasan yang membutuhkan waktu lebih panjang karena akses, air, dan kondisi cuaca tidak mendukung.
Di tengah semua itu, jumlah titik api memang telah menyusut dari lebih dari seribu menjadi sekitar 27 klaster.
Tetapi bagi petugas, angka tersebut bukan garis akhir.
Sebab selama lahan masih kering dan sumber air terus menipis, api dapat kembali menjadi ancaman. Penanganan karhutla pun masih berlanjut seiring upaya pemerintah mempertahankan kondisi darurat bencana asap akibat karhutla.
Di Kubu Raya, perang melawan karhutla akhirnya bukan hanya tentang memadamkan api. Ini juga tentang siapa yang lebih dulu menyerah: api yang kehilangan bahan bakar, atau petugas yang kehabisan air, tenaga, dan akses untuk mengejarnya.
Kubu Raya: Api mungkin tidak lagi sebanyak beberapa pekan lalu. Titik-titik kebakaran di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, bahkan disebut telah turun drastis. Namun, bagi petugas di lapangan, perjuangan belum selesai.
Selama 63 hari sejak Juli 2026, tim gabungan masih berjibaku menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mereka bekerja pagi, siang hingga malam untuk mengejar api yang muncul di sejumlah wilayah.
Kepala Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kubu Raya, Syarif Usmardan, menyebut pekerjaan memadamkan karhutla bukan perkara sederhana. Ada tiga persoalan utama yang terus menghantui petugas: **air, angin, dan akses menuju lokasi kebakaran**.
“Sudah 63 hari kita melakukan penanganan. Dari pagi, siang, malam, kita tetap melakukan pemadaman,” kata Syarif kepada Medcom.id, Selasa (8/9/2026).
Air Jadi Musuh Utama
Dari ketiga persoalan tersebut, air menjadi tantangan paling besar.
Kondisi kemarau membuat sumber air di sejumlah lokasi semakin sulit ditemukan. Persoalan ini semakin rumit ketika kebakaran terjadi di lahan gambut.
Saat gambut mengering, api tidak selalu terlihat jelas di permukaan. Api dapat menjalar lebih dalam melalui lapisan gambut sehingga petugas membutuhkan air dalam jumlah besar untuk memastikan titik kebakaran benar-benar padam.
“Yang pertama itu air. Air yang paling utama,” ujar Syarif.
Keterbatasan air juga membuat kemampuan petugas untuk menuntaskan kebakaran menjadi terbatas. Menurut Syarif, tidak semua area yang terbakar dapat dipadamkan hingga benar-benar tuntas.
Ia memperkirakan hanya sekitar 10 hingga 20 persen area terbakar yang bisa dipadamkan secara penuh.
Kondisinya berbeda untuk kebakaran kecil yang lokasinya mudah dijangkau. Api dengan luasan sekitar setengah hektare atau kurang dan memiliki akses yang baik masih memungkinkan untuk ditangani hingga tuntas.
Sebaliknya, api yang berada jauh dari jalan, minim sumber air, atau berada di kawasan gambut yang sulit dijangkau membutuhkan tenaga dan waktu jauh lebih besar.
Salah satu contohnya berada di wilayah Kalibandung.
Di lokasi tersebut, petugas menghadapi kombinasi persoalan: akses terbatas, sumber air minim, serta keterbatasan peralatan dan personel.
Angin dan Jarak Pandang Hambat Pemadaman
Jika air menjadi senjata utama untuk memadamkan api, angin justru dapat menjadi lawannya.
Pergerakan angin membuat api lebih mudah menyebar. Kondisi ini juga memengaruhi efektivitas operasi pemadaman dari udara.
Salah satu upaya yang digunakan adalah water bombing. Pesawat dikerahkan untuk mengambil air dan menjatuhkannya ke lokasi kebakaran yang sulit dijangkau petugas di darat.
Namun, operasi tersebut tidak selalu bisa dilakukan.
Dalam beberapa hari terakhir, jarak pandang menjadi persoalan tambahan. Pesawat membutuhkan kondisi yang cukup aman untuk terbang rendah ketika mengambil air.
“Kita gagal terbang karena jarak pandang di bawah satu kilometer,” kata Syarif.
Dalam tiga hari terakhir, terdapat sejumlah lokasi yang telah dijadwalkan untuk mendapatkan dukungan water bombing. Namun, kondisi jarak pandang membuat penerbangan tidak dapat dilaksanakan meski personel, peralatan, dan dukungan operasional telah disiapkan.
Bagi petugas di darat, kegagalan penerbangan berarti pekerjaan kembali bertumpu pada kemampuan tim untuk mencapai lokasi kebakaran secara langsung.
Akses Menentukan Seberapa Cepat Api Bisa Dikejar
Persoalan ketiga adalah akses.
Api yang berada dekat jalan atau permukiman relatif lebih mudah ditangani karena kendaraan dan personel dapat bergerak lebih cepat. Namun, kondisi berbeda ketika titik kebakaran berada jauh di dalam kawasan yang sulit dijangkau.
Kalibandung kembali menjadi salah satu contoh.
Di wilayah seperti ini, persoalannya bukan hanya menemukan titik api. Petugas juga harus memikirkan bagaimana membawa personel, peralatan, dan air menuju lokasi.
Semakin jauh lokasi dari sumber air dan akses transportasi, semakin besar pula waktu dan sumber daya yang dibutuhkan.
Situasi tersebut membuat pemadaman karhutla tidak bisa hanya mengandalkan satu metode.
Tim darat tetap bergerak, sementara dukungan udara digunakan ketika kondisi memungkinkan. Pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan.
Dari Ribuan Titik Api Menjadi Puluhan
Namun, 63 hari perjuangan itu bukan tanpa hasil.
Syarif mengatakan jumlah klaster titik api yang terbakar saat ini telah jauh menurun dibandingkan kondisi sebelumnya.
“Grafiknya kecil-kecil. Kemarin angkanya hampir seribuan titik. Di atas itu seribu. Sekarang sudah hanya menyentuh 27 saja, 27 titik kluster yang terbakar,” ujarnya.
Penurunan tersebut, menurut dia, dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kerja tim di lapangan, operasi modifikasi cuaca hingga hujan yang turun secara alami.
Namun, berkurangnya titik api tidak otomatis berarti persoalan karhutla telah berakhir.
Selama masih terdapat lahan yang kering, terutama gambut, potensi api kembali muncul tetap ada.
Karena itu, pekerjaan petugas tidak berhenti pada mengejar api yang terlihat. Mereka juga harus menghadapi kondisi lingkungan yang membuat api mudah muncul kembali.
63 Hari Belum Menjadi Akhir
Selama 63 hari, pola pekerjaannya relatif sama: mencari titik api, menuju lokasi, mencari sumber air, memadamkan api, kemudian memantau kembali kawasan yang telah ditangani.
Tidak semua api bisa dituntaskan dalam sekali pemadaman.
Ada lokasi yang bisa ditangani dengan cepat. Ada pula kawasan yang membutuhkan waktu lebih panjang karena akses, air, dan kondisi cuaca tidak mendukung.
Di tengah semua itu, jumlah titik api memang telah menyusut dari lebih dari seribu menjadi sekitar 27 klaster.
Tetapi bagi petugas, angka tersebut bukan garis akhir.
Sebab selama lahan masih kering dan sumber air terus menipis, api dapat kembali menjadi ancaman. Penanganan karhutla pun masih berlanjut seiring upaya pemerintah mempertahankan kondisi darurat bencana asap akibat karhutla.
Di Kubu Raya, perang melawan karhutla akhirnya bukan hanya tentang memadamkan api. Ini juga tentang siapa yang lebih dulu menyerah: api yang kehilangan bahan bakar, atau petugas yang kehabisan air, tenaga, dan akses untuk mengejarnya.
(KAH)