Jakarta: Bulan Muharram merupakan penanda dimulainya awal tahun baru dalam kalender Hijriah atau penanggalan Islam, sementara bulan Dzulhijjah menjadi bulan penutupnya. Selain sebagai bulan pembuka tahun, Muharram juga termasuk ke dalam salah satu dari empat bulan mulia yang disebut sebagai asyhurul hurum.
Bahkan, bulan ini mendapatkan julukan istimewa sebagai bulan Allah karena di dalamnya terdapat berbagai amalan sunah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1488 H
Berdasarkan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 jatuh pada, Selasa, 16 Juni 2026. Pada tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai libur nasional.
Baca Juga :
Bacaan Doa Akhir Tahun Islam 1447 H: Arab, Latin dan Waktu Membacanya
Untuk mempermudah umat Islam dalam mengingat ibadah apa saja yang baik dilakukan, para ulama telah mengklasifikasikan jenis-jenis amalan yang hendaknya diperbanyak selama bulan Muharram.
12 Amalan di Bulan Muharram Berdasarkan Nadham Kitab Kanzun Naja
Sebagian ulama merangkum amalan-amalan ini ke dalam bentuk syair atau nadham agar lebih mudah diingat. Salah satunya adalah yang disusun oleh Syekh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Naja was Surur Fi Ad'iyyati Tasyrahus Shudur.
Dalam kitab tersebut, disebutkan ada 12 amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan:
Melakukan shalat sunah
Berpuasa
Menyambung tali silaturahim
Bersedekah
Mandi
Memakai celak mata
Berziarah kepada ulama (baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia)
Menjenguk orang sakit
Menambah nafkah keluarga
Memotong kuku
Mengusap kepala anak yatim
Membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali
Amalan Sunah Paling Utama di Bulan Muharram
Di antara sekian banyak amalan yang ada, ibadah puasa menduduki tingkatan sebagai amalan sunah yang paling utama di bulan Muharram. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan, Nabi SAW menjawab:
“Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram.” (HR Ibnu Majah dan Muslim)
Dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa hadits tersebut merupakan dalil kuat atas keutamaan memperbanyak puasa di bulan Muharram. Adapun mengenai fakta sejarah bahwa Nabi SAW terlihat lebih banyak berpuasa di bulan Sya'ban ketimbang Muharram, Imam An-Nawawi memberikan dua penjelasan.
Pertama, ada kemungkinan Rasulullah SAW baru mengetahui keutamaan besar puasa Muharram di akhir hayat beliau. Kedua, beliau mungkin sudah mengetahuinya, namun tidak bisa memperbanyak puasa di bulan Muharram karena adanya udzur tertentu, seperti sedang sakit atau dalam perjalanan (safar).
Bulan Muharram membuka peluang emas bagi umat Islam untuk mendulang pahala melalui 12 amalan kebaikan yang telah digariskan para ulama. Menjadikan puasa dan amal saleh lainnya sebagai pembuka tahun bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk resolusi spiritual agar hari-hari ke depan dapat dijalani dengan penuh keberkahan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Bulan
Muharram merupakan penanda dimulainya awal tahun baru dalam kalender Hijriah atau penanggalan Islam, sementara bulan Dzulhijjah menjadi bulan penutupnya. Selain sebagai bulan pembuka tahun, Muharram juga termasuk ke dalam salah satu dari empat bulan mulia yang disebut sebagai asyhurul hurum.
Bahkan, bulan ini mendapatkan julukan istimewa sebagai bulan Allah karena di dalamnya terdapat berbagai amalan sunah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1488 H
Berdasarkan Surat Keputusan Bersama 3 Menteri Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 jatuh pada, Selasa, 16 Juni 2026. Pada tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai libur nasional.
Untuk mempermudah umat Islam dalam mengingat ibadah apa saja yang baik dilakukan, para ulama telah mengklasifikasikan jenis-jenis amalan yang hendaknya diperbanyak selama bulan Muharram.
12 Amalan di Bulan Muharram Berdasarkan Nadham Kitab Kanzun Naja
Sebagian ulama merangkum amalan-amalan ini ke dalam bentuk syair atau nadham agar lebih mudah diingat. Salah satunya adalah yang disusun oleh Syekh Abdul Hamid dalam kitab Kanzun Naja was Surur Fi Ad'iyyati Tasyrahus Shudur.
Dalam kitab tersebut, disebutkan ada 12 amalan yang dianjurkan untuk dikerjakan:
- Melakukan shalat sunah
- Berpuasa
- Menyambung tali silaturahim
- Bersedekah
- Mandi
- Memakai celak mata
- Berziarah kepada ulama (baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia)
- Menjenguk orang sakit
- Menambah nafkah keluarga
- Memotong kuku
- Mengusap kepala anak yatim
- Membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali
Amalan Sunah Paling Utama di Bulan Muharram
Di antara sekian banyak amalan yang ada, ibadah puasa menduduki tingkatan sebagai amalan sunah yang paling utama di bulan Muharram. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan, Nabi SAW menjawab:
“Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram.” (HR Ibnu Majah dan Muslim)
Dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa hadits tersebut merupakan dalil kuat atas keutamaan memperbanyak puasa di bulan Muharram. Adapun mengenai fakta sejarah bahwa Nabi SAW terlihat lebih banyak berpuasa di bulan Sya'ban ketimbang Muharram, Imam An-Nawawi memberikan dua penjelasan.
Pertama, ada kemungkinan Rasulullah SAW baru mengetahui keutamaan besar puasa Muharram di akhir hayat beliau. Kedua, beliau mungkin sudah mengetahuinya, namun tidak bisa memperbanyak puasa di bulan Muharram karena adanya udzur tertentu, seperti sedang sakit atau dalam perjalanan (safar).
Bulan Muharram membuka peluang emas bagi umat Islam untuk mendulang pahala melalui 12 amalan kebaikan yang telah digariskan para ulama. Menjadikan puasa dan amal saleh lainnya sebagai pembuka tahun bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk resolusi spiritual agar hari-hari ke depan dapat dijalani dengan penuh keberkahan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
(
Fany Wirda Putri)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(RUL)