Ilustrasi. (Metrotvnews.com)
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Penanganan Anak Korban Kekerasan Keluarga

Nasional kekerasan anak kekerasan dalam rumah tangga
05 Januari 2018 08:46
Jakarta: Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan kurang harmonis kerap menjadi korban kekerasan dalam keluarga. Tak hanya secara fisik, psikologis anak korban kekerasan dalam keluarga berpotensi mengalami traumatis berat.
 
Ketika anak mengalami kekerasan, mereka akan merekam apa yang terjadi terhadap diri mereka. Bukan tidak mungkin pengalaman buruk itu akan selalu teringat meskipun mereka sudah tumbuh menjadi dewasa.
 
Psikolog Anak dan Keluarga Sani Budhiantini menilai penanganan anak korban kekerasan keluarga harus dilakukan secara komprehensif. Salah satu yang paling utama adalah mengembalikan kepercayaan diri mereka dan menghilangkan trauma.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Perlu penanganan secara kognitif, memberikan pemahaman apa yang terjadi pada orang tua mereka. Misalnya orang tua dengan gangguan jiwa perlu mendapatkan penanganan khusus sehingga mereka lega dan menerima," katanya, dalam Newsline, Kamis 4 Desember 2017.
 
Dari banyak kasus yang ditangani Sani, mayoritas yang dilaporkan adalah kasus kekerasan karena minimnya pengetahuan dalam menjalankan rumah tangga. Pendidikan pranikah dianggap tidak penting.
 
Padahal pendidikan pranikah bukan hanya bekal suami atau istri itu sendiri, lebih jauh sebagai bekal mereka untuk menjalani pernikahan. Terutama pembagian peran, bagaimana mendidik anak, dan sebagainya.
 
"Setelah berkeluarga harus memahami peran suami dan istri dengan matang. Dalam kasus perceraian misalnya, komunikasi seharusnya masih tetap terjalin antara orang tua," katanya.
 
Pemutusan komunikasi antara istri dan suami ketika telah bercerai dapat berdampak secara psikologis bagi anak. Akibatnya, ketika komunikasi kurang lancar, potensi kekerasan sangat mungkin terjadi, larut, kemudian terlambat ditangani.
 
Selain komunikasi, membangun kepercayaan anak terhadap lingkungan juga tak kalah penting untuk dilakukan. Hal ini untuk memastikan mereka merasa aman berada di lingkungannya.
 
"Ketika kepercayaan sudah terbangun, ke depannya lebih mudah bagi mereka untuk pulih dari trauma," katanya.
 
Khusus bagi anak di bawah 10 tahun yang masih perlu kedekatan bersama orang tua, terutama ibu. Upayakan jangan membatasi kontak antara anak dan orang tua, jika kemudian suami istri memilih berpisah tempat tinggal jangan batasi anak untuk berhubungan dengan ayah atau ibu mereka.
 
"Sebisa mungkin anak tetap bisa bertemu dan berkomunikasi dengan ibu (atau ayahnya) atau diperlihatkan foto ibunya untuk menghilangkan kekhawatiran yang berlebihan. Karena anak yang masih kecil sangat butuh figur ini," jelasnya.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif