Tes Psikologi Jadi Syarat Permohonan SIM
Salah satu tes ujian pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM). (Foto: Antara/Asep Fathulrahman).
Jakarta: Ditlantas Polda Metro Jaya akan segera menerapkan tes psikologi sebagai salah satu persyaratan dalam penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kasie SIM Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Fahri Siregar mengatakan tes psikologi diberlakukan untuk seluruh golongan SIM. Termasuk untuk pengajuan baru, peningkatan golongan, dan perpanjangan SIM.

"Sebenarnya saat ini tes psikologi telah diterapkan dalam penerbitan SIM, namun hanya diberlakukan bagi penerbitan SIM umum saja. Sedangkan untuk golongan SIM lainnya hanya dilakukan pemeriksaan kesehatan jasmani saja meliputi pendengaran, penglihatan, dan perawakan," kata Fahri dalam keterangan tertulis, Selasa, 19 Juni 2018.


Penerapan tes psikologi diatur dalam pasal 81 ayat (4) UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAAJ) sebagaimana yang dituangkan dalam pasal 36 Peraturan Kapolri Nomor 9 Tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi. 

Dalam dua dasar hukum itu, jelasnya, disebutkan salah satu persyaratan penerbitan SIM adalah kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani.

Pemeriksaan kesehatan rohani dilakukan dengan materi tes yang akan menilai aspek kemampuan konsentrasi, kecermatan, pengendalian diri, kemampuan penyesuaian diri, stabilitas emosi dan ketahanan kerja, serta tes psikologi. Tes akan dilaksanakan oleh lembaga psikologi yang telah mendapatkan pembinaan dan pengawasan dari bagian psikologi Polda Metro Jaya.

"Dengan menerapkan tes psikologi dalam penerbitan SIM diharapkan dapat mencegah kejadian laka lantas yang disebabkan faktor psikologis dari pengemudi," jelas Fahri.

Baca juga: Tes Psikologi Pemohon SIM Pribadi Diberlakukan 25 Juni

Psikolog dari Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia Lia Sutisna Latif menyambut baik rencana penerapan tes psikologi dalam penerbitan SIM ini. Menurut dia, mengemudi adalah tingkah laku yang kompleks.

Untuk dapat bertingkah laku mengemudi yang aman dan bertanggung jawab (safe and responsible driving) serta tidak mengemudi yang berisiko membahayakan (risky driving behaviour), sebutnya, maka tidak cukup hanya dengan memiliki keterampilan teknis mengemudi yang memadai (hard skills).

"Harus juga memiliki aspek psikologis tertentu sebagai soft skills yang menunjang, terutama persepsi terhadap risiko dan stabilitas emosi," ungkap Lia.

Menurut Lia, terdapat karakteristik psikologis tertentu yang berkontribusi terhadap tingkah laku mengemudi yang berisiko (risky driving behaviour). Hal ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan psikologis sebagai upaya pencegahan terjadinya kecelakaan yang membahayakan keselamatan dan ketertiban masyarakat.

"Oleh karena itu Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia mendukung upaya Ditlantas Polda Metro Jaya untuk menerapkan tes psikologi sebagai persyaratan penerbitan SIM. Kami menilai,  pemeriksaan psikologis terhadap calon pengemudi dan pengemudi dalam proses penerbitan SIM sangatlah penting dan relevan sebagai suatu upaya prevensi," pungkas Lia.



(HUS)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id