medcom.id, Jakarta: Jagat media sosial dihebohkan dengan unggahan akun instagram @missgrandmalaysia yang mengunggah foto pemenang ajang ratu kecantikan Malaysia 2017 Sanjeda John, mengenakan kostum kuda lumping dengan keterangan 'The Kuda Warisan National Costume'.
Unggahan itu oleh warganet dianggap sebagai tindakan mencuri budaya Indonesia. Di mana, kesenian kuda lumping atau lebih dikenal sebagai jaran kepang diklaim oleh Malaysia sebagai bagian dari budaya negara.
Budayawan Radhar Panca Dahana menyebut foto yang diunggah oleh akun intagram @missgrandmalaysia bukanlah hal yang luar biasa. Karenanya dia menilai warganet terutama Indonesia tak perlu bereaksi berlebihan menanggapi hal tersebut.
"Masyarakat kita jadi orang yang norak, jadi orang yang enggak pede, sudah seperti preman senggol sedikit marah padahal enggak apa-apa sebenarnya itu," ungkap Radhar melalui sambungan telepon dalam Selamat Pagi Indonesia, Senin 10 Oktober 2017.
Menurut Radhar penggunaan kostum kuda lumping bukan tanpa dasar. Harus diakui bahwa ada masyarakat Indonesia dari berbagai suku hijrah ke Malaysia dan menjadi warga negara di sana.
Mereka membawa serta seluruh tradisi dan budayanya ke negara tersebut sehingga penggunaan alat maupun kostum dianggap sebagai konsekuensi dan merupakan hal wajar.
"Mereka menganggap itu sebagai bagian dari budaya, suatu hal yang etis, yang sudah aktual dan faktual di negeri mereka. Dan memang memakainya sebagai bentuk ekspresi dari warga atau penduduknya. Enggak masalah kalau kita berbagi," kata Radhar.
Radhar menilai tindakan saling mengklaim tak perlu dilakukan. Sebab, Indonesia pun banyak mendapat serapan budaya dari luar. Misalnya wayang potehi, wayang kulit, yang jika dirunut asal-usulnya bukan budaya asli Indonesia melainkan didapatkan dari budaya negara lain.
Menurut Dia, akulturasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari suatu negara dengan negara lain untuk membangun sebuah hubungan.
"Bagus saja, (artinya) Kita berkembang di tempat lain. Karena itu bentuk Kita bekerja sama, berdiplomasi, berelasi, dengan cara saling tukar kebudayaan. Itu biasa," jelasnya.
medcom.id, Jakarta: Jagat media sosial dihebohkan dengan unggahan akun instagram @missgrandmalaysia yang mengunggah foto pemenang ajang ratu kecantikan Malaysia 2017 Sanjeda John, mengenakan kostum kuda lumping dengan keterangan 'The Kuda Warisan National Costume'.
Unggahan itu oleh warganet dianggap sebagai tindakan mencuri budaya Indonesia. Di mana, kesenian kuda lumping atau lebih dikenal sebagai jaran kepang diklaim oleh Malaysia sebagai bagian dari budaya negara.
Budayawan Radhar Panca Dahana menyebut foto yang diunggah oleh akun intagram @missgrandmalaysia bukanlah hal yang luar biasa. Karenanya dia menilai warganet terutama Indonesia tak perlu bereaksi berlebihan menanggapi hal tersebut.
"Masyarakat kita jadi orang yang norak, jadi orang yang enggak pede, sudah seperti preman senggol sedikit marah padahal enggak apa-apa sebenarnya itu," ungkap Radhar melalui sambungan telepon dalam
Selamat Pagi Indonesia, Senin 10 Oktober 2017.
Menurut Radhar penggunaan kostum kuda lumping bukan tanpa dasar. Harus diakui bahwa ada masyarakat Indonesia dari berbagai suku hijrah ke Malaysia dan menjadi warga negara di sana.
Mereka membawa serta seluruh tradisi dan budayanya ke negara tersebut sehingga penggunaan alat maupun kostum dianggap sebagai konsekuensi dan merupakan hal wajar.
"Mereka menganggap itu sebagai bagian dari budaya, suatu hal yang etis, yang sudah aktual dan faktual di negeri mereka. Dan memang memakainya sebagai bentuk ekspresi dari warga atau penduduknya. Enggak masalah kalau kita berbagi," kata Radhar.
Radhar menilai tindakan saling mengklaim tak perlu dilakukan. Sebab, Indonesia pun banyak mendapat serapan budaya dari luar. Misalnya wayang potehi, wayang kulit, yang jika dirunut asal-usulnya bukan budaya asli Indonesia melainkan didapatkan dari budaya negara lain.
Menurut Dia, akulturasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari suatu negara dengan negara lain untuk membangun sebuah hubungan.
"Bagus saja, (artinya) Kita berkembang di tempat lain. Karena itu bentuk Kita bekerja sama, berdiplomasi, berelasi, dengan cara saling tukar kebudayaan. Itu biasa," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)