medcom.id, Jakarta: Hasil survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi yang dirilis Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bisa menjadi acuan para pengiklan. Komisioner bidang kelembagaan KPI Ubaidillah mengatakan, pengiklan bisa melihat rating program televisi berasarkan kualitas.
Ubaidillah meminta pengiklan tidak terjebak dengan pemeringkatan dari Nielsen saja. Mantan komisioner KPI DKI Jakarta menuturkan, bila pengiklan melihat program dari kualitas maka industri televisi bisa bersaing memproduksi program-program yang mendidik dan menginformasi.
"Survei ini bisa menjadi ukuran lembaga iklan. Jangan hanya lihat daro Nielsen saja," kata Ubaidillah dalam pemaparan hasil survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi di Hotel Ibis, Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (23/8/2016).
Uabaidillah menyampaikan, nantinya hasil survei bisa menjadi acuan untuk memberikan sanksi pada program-program yang tidak mendidik. Bila program tersebut tidak ada kemajuan, tidak menutup kemungkinan durasi penayangan akan dikurangi.
"Tahapan sanksi mulai dari pemanggilan, lalu klarifikasi, peringatan, pengurangan durasi, sampai penyetopan program," paparnya.
Berdasarkan hasil survey Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Priode Pertama, kualitas sinetron hanya 2,95 dari indeks 4. Sementara program infotainment lebih rendah lagi, hanya mencapai indeks 2,52.
Ketua KPI Pusat Yuliandre Darwis mengatakan, aspek kualitas yang menjadi perhatian adalah penghormatan terhadap kehidupan pribadi dan nilai kesopanan.
"Lalu yang harus diperbaiki adalah norma kesusliaan, dan pengormatan kepentingan publik," kata Yuliandre.
Yuliandre menambahkan, untuk program sinetron aspek yang mendapatkan indeks rendah adalah pembentukan watak, identitas, dan jati diri bangsa Indonesia. Ia menuturkan, sinetron lebih banyak menggambarkan hiper realitas, dan tidak membangun empati sosial.
Sedangkan, program berita memiliki indeks paling tinggi, yakni 3,49. Yuliandre menyatakan, Metro TV menjadi televisi yang banyak menyajikan program berkualitas, salah satunya Mata Najwa.
Kualitas program talkshow, Mata Najwa menduduki peringkat pertama dengan indeks 3,99 dari indeks 4. Menurut 12 panel ahli, Mata Najwa telah memenuhi aspek kualitas Pengawasan, peningkatan daya kritis, kepentingan publik, independen, keberimbangan, tidak menghakimi, menghormati narasumber, dan interaktif.
"Mata Najwa kualitas dan jumah penontonnya sama-sama tinggi," tutur Yuliandre.
Program berkualitas lainnya, ada program Tafsir Almisbah yang masuk dalam ketegori religi. Program Tafsir Almisbah menduduki peringkat pertama dengan indeks 4,19.
Tafsir almisbah telah memenuhi aspek kualitas empati dan kepekaan sosial, toleransi, tidak diskriminatif, damai, menghormati nilai-nilai RAS, partisipasi kebersamaan, dan relevansi topik.
Program berkualitas lainnya ada 1000 Meter yang masuk dalam ketegori Wisata Budaya, Stand UP Komedi, dan 360 dalam kategori berita.
Ketiganya mendapat indeks yang tidak kalah tinggi dari para pesaingnya. 360 mendapat indeks 3,91, 1000 Meter memperoleh indeks 4,11 dan Stand UP komedi dengan indeks 3,49.
Yuliandre berharap, adanya survei tersebut industri televisi bisa menghasilkan tayangan yang bermanfaat, mendidik, dan menginformasi. Para pengiklan juga bisa melihat televisi dari kualitas tayangan bukan hanya dari jumlah penonton.
Hasil survey dilakukan dengan dua cara. Pertama, menggunakan menggunakan metode Multistage Random sampling dengan melibatkan 1200 responden di 12 kota. Teknik penarikan sampel dengan cara Primary Sampling Unit.
Survey ke dua dengan melibatkan 120 panel ahli yang konsen di dunia penyiaran dan jurnalis. Penelitian ini, KPI bekerjasama dengan 12 universitas perguruan tinggi, yakni UIN Kalijaga Jogjakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Univ. Padjajaran, Univ. Dipenegoro, Univ. Airlangga, Univ. Sumatera Utara, Univ, Andalas, Univ Lambung Mangkurat, Univ, Hasanuddin, Univ. Kristen Maluku, dan univ Udayana.
medcom.id, Jakarta: Hasil survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi yang dirilis Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat bisa menjadi acuan para pengiklan. Komisioner bidang kelembagaan KPI Ubaidillah mengatakan, pengiklan bisa melihat rating program televisi berasarkan kualitas.
Ubaidillah meminta pengiklan tidak terjebak dengan pemeringkatan dari Nielsen saja. Mantan komisioner KPI DKI Jakarta menuturkan, bila pengiklan melihat program dari kualitas maka industri televisi bisa bersaing memproduksi program-program yang mendidik dan menginformasi.
"Survei ini bisa menjadi ukuran lembaga iklan. Jangan hanya lihat daro Nielsen saja," kata Ubaidillah dalam pemaparan hasil survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi di Hotel Ibis, Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (23/8/2016).
Uabaidillah menyampaikan, nantinya hasil survei bisa menjadi acuan untuk memberikan sanksi pada program-program yang tidak mendidik. Bila program tersebut tidak ada kemajuan, tidak menutup kemungkinan durasi penayangan akan dikurangi.
"Tahapan sanksi mulai dari pemanggilan, lalu klarifikasi, peringatan, pengurangan durasi, sampai penyetopan program," paparnya.
Berdasarkan hasil survey Indeks Kualitas Program Siaran Televisi Priode Pertama, kualitas sinetron hanya 2,95 dari indeks 4. Sementara program infotainment lebih rendah lagi, hanya mencapai indeks 2,52.
Ketua KPI Pusat Yuliandre Darwis mengatakan, aspek kualitas yang menjadi perhatian adalah penghormatan terhadap kehidupan pribadi dan nilai kesopanan.
"Lalu yang harus diperbaiki adalah norma kesusliaan, dan pengormatan kepentingan publik," kata Yuliandre.
Yuliandre menambahkan, untuk program sinetron aspek yang mendapatkan indeks rendah adalah pembentukan watak, identitas, dan jati diri bangsa Indonesia. Ia menuturkan, sinetron lebih banyak menggambarkan hiper realitas, dan tidak membangun empati sosial.
Sedangkan, program berita memiliki indeks paling tinggi, yakni 3,49. Yuliandre menyatakan, Metro TV menjadi televisi yang banyak menyajikan program berkualitas, salah satunya Mata Najwa.
Kualitas program talkshow, Mata Najwa menduduki peringkat pertama dengan indeks 3,99 dari indeks 4. Menurut 12 panel ahli, Mata Najwa telah memenuhi aspek kualitas Pengawasan, peningkatan daya kritis, kepentingan publik, independen, keberimbangan, tidak menghakimi, menghormati narasumber, dan interaktif.
"Mata Najwa kualitas dan jumah penontonnya sama-sama tinggi," tutur Yuliandre.
Program berkualitas lainnya, ada program Tafsir Almisbah yang masuk dalam ketegori religi. Program Tafsir Almisbah menduduki peringkat pertama dengan indeks 4,19.
Tafsir almisbah telah memenuhi aspek kualitas empati dan kepekaan sosial, toleransi, tidak diskriminatif, damai, menghormati nilai-nilai RAS, partisipasi kebersamaan, dan relevansi topik.
Program berkualitas lainnya ada 1000 Meter yang masuk dalam ketegori Wisata Budaya, Stand UP Komedi, dan 360 dalam kategori berita.
Ketiganya mendapat indeks yang tidak kalah tinggi dari para pesaingnya. 360 mendapat indeks 3,91, 1000 Meter memperoleh indeks 4,11 dan Stand UP komedi dengan indeks 3,49.
Yuliandre berharap, adanya survei tersebut industri televisi bisa menghasilkan tayangan yang bermanfaat, mendidik, dan menginformasi. Para pengiklan juga bisa melihat televisi dari kualitas tayangan bukan hanya dari jumlah penonton.
Hasil survey dilakukan dengan dua cara. Pertama, menggunakan menggunakan metode Multistage Random sampling dengan melibatkan 1200 responden di 12 kota. Teknik penarikan sampel dengan cara Primary Sampling Unit.
Survey ke dua dengan melibatkan 120 panel ahli yang konsen di dunia penyiaran dan jurnalis. Penelitian ini, KPI bekerjasama dengan 12 universitas perguruan tinggi, yakni UIN Kalijaga Jogjakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Univ. Padjajaran, Univ. Dipenegoro, Univ. Airlangga, Univ. Sumatera Utara, Univ, Andalas, Univ Lambung Mangkurat, Univ, Hasanuddin, Univ. Kristen Maluku, dan univ Udayana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(Des)