Simulasi mitigasi bencana secara virtual. Antara Foto/Adeng Bustomi
Simulasi mitigasi bencana secara virtual. Antara Foto/Adeng Bustomi

BMKG Gelar Latihan Mitigasi Tsunami IOWave 2020

Nasional tsunami Gempa Bumi Mitigasi Bencana
Media Indonesia.com • 07 Oktober 2020 03:43
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar latihan mitigasi tsunami Indian Ocean Wave Exercise (IOWave) 2020. Pelatihan ini dilakukan dalam rangka merespons sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami.
 
Pelaksanaan IOWave telah disepakati dengan tiga skenario, yaitu di Sunda Trench (Indonesia), Andaman Trench (India), dan Makran Trench (Iran). "Indonesia hanya berpartisipasi dalam skenario Sunda Trench, khususnya di selatan Pulau Jawa dengan gempa bumi magnitudo 9,1 kedalaman 10 km (kilometer)," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2020.
 
Kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan Intergovernmental Coordination Group/Indian Ocean Tsunami Warning Mitigation System (ICG/IOTWMS)-UNESCO ini dilakukan serentak di berbagai negara sepanjang Samudra Hindia. Berbeda dari pelaksanaan pada 2019, IOWave tahun ini disesuaikan dengan kondisi pandemi covid-19 sehingga dilaksanakan melalui virtual table top exercise.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Lumajang Diguncang Gempa Magnitudo 5
 
Menurut Rahmat, IOWave sangat penting dilaksanakan untuk mengevaluasi rantai peringatan dini tsunami dan kesinambungan prosedur operasional standar, serta keterlibatan banyak pihak.
 
Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menekankan pentingnya melaksanakan geladi evakuasi, mengingat berdasarkan data BMKG terjadi lonjakan kejadian gempa dalam beberapa tahun terakhir.
 
"Kejadian gempa bumi sebelum 2017 rata-rata 4.000-6.000 kali dalam setahun, yang dirasakan atau kekuatannya lebih dari 5 sekitar 200 (kali). Namun, setelah 2017 meningkat menjadi lebih dari 7.000 kali dalam setahun. Bahkan 2018 tercatat 11.920 kali kejadian gempa. Ini sebuah lonjakan," jelas Dwikorita.
 
Menurut dia, hal tersebut perlu diwaspadai. Sebab, sebagian besar tsunami yang terjadi di dunia dipicu oleh gempa.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif