Peluncuran program  BAZNAS Microfinance Desa (BMD). Foto: Dok. BAZNAS
Peluncuran program BAZNAS Microfinance Desa (BMD). Foto: Dok. BAZNAS

BAZNAS Microfinance Desa Diresmikan di Bogor

Nasional BAZNAS
M Studio • 27 Juli 2018 16:31
Bogor: Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) meluncurkan BAZNAS Microfinance Desa (BMD), sebuah lembaga keuangan mikro non profit yang akan memberikan layanan keuangan mikro, terutama pinjaman dan pembiayaan kepada para pelaku usaha mikro.
 
BMD pertama dibangun di Desa Bojongrangkas, Ciampea, Bogor, Jawa Barat.Hadir dalam peluncuran BMD, Anggota BAZNAS Emmy Hamidiyah, Kepala Divisi Pendayagunaan BAZNAS Randy Swandaru dan pemerintah daerah setempat. Sebanyak 70 pelaku usaha mikro penerima manfaat program ini juga turut hadir di lokasi.
 
Anggota BAZNAS Emmy Hamidiyah mengatakan, BMD didesain untuk memberikan jasa layanan keuangan kepada para pelaku usaha mikro sebagai bagian strategi dalam penanggulangan kemiskinan yang dilakukan BAZNAS.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada tahun pertama, BMD Bojongrangkas menargetkan dapat memperkuat permodalan kepada 400 pelaku usaha mikro di wilayah Bojongrangkas dan sekitarnya.
 
Untuk mendukung pengembangan usaha pelaku usaha mikro, BMD juga menjalankan fungsi pendampingan melalui manajemen pengembangan usaha dan medukung peningkatan kapasitas usaha melalui pelatihan, workshop, dan kegiatan lain yang diperlukan.
 
“Untuk dapat memperoleh hasil optimal, BMD mengembangkan pendekatan Apresiatif Inquiry. Dengan pendekatan ini, pemberdayaan ekonomi masyarakat dilakukan bersama dengan masyarakat melalui pembentukan Kelompok-kelompok Usaha Ekonomi Masyarakat,” katanya.
 
Sementara itu,Kepala Divisi Pendayagunaan BAZNAS Randy Swandaru BMD dilahirkan karena sulitnya akses modal bagi para pelaku usaha mikro. Padahal penggerak ekonomi Indonesia didominasi oleh para pelaku usaha mikro, yaitu sekitar 51,3 juta unit usaha atau 99,97 persen dari seluruh unit usaha yang ada.
 
“Para pelaku usaha mikro umumnya tidak didukung dengan modal sendiri yang memadai. Bahkan tidak jarang modal yang digunakan pelaku usaha mikro adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Randy.
 
Untuk memperoleh akses permodalan, kata dia, para pelaku usaha mikro umumnya terkendala dengan kondisi usaha yang kurang layak dan sesuai standar bank.
 
Hingga akhir tahun 2018, diharapkan dapat dibangun 10 BMD di berbagai kota. BAZNAS terus mencari model microfinance yang lebih relevan dan ideal dalam upaya penguatan masyarakat dari sisi permodalan.
 
Pencarian model tersebut dalam kerangka menghadirkan bentuk rekayasa sosial-ekonomi yang fungsi terbesarnya adalah menjadi entitas berjiwa sosial yang mampu tegak mandiri dan berkelanjutan, menebar kemanfaatan bagi masyarakat melalui fasilitas modal dan keuangan.
 

(ROS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif