Dosen Himma Disebut tak 'Sehat' secara Sosiologis

22 Mei 2018 14:12 WIB
terorisme
Dosen Himma Disebut tak 'Sehat' secara Sosiologis
Himma Dewiyana Lubis (berbaju merah) di Polda Sumatera Utara. (Foto: Medcom.id/Farida Noris)
Jakarta: Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia Sutarto Hadi mengakui apa yang dilakukan Dosen Universitas Sumatera Utara Himma Dewiyana Lubis tentang teror bom di Surabaya, Jawa Timur, sangat tidak patut. Apalagi Himma merupakan tenaga pendidik salah satu universitas ternama.

Namun, terlepas dari itu, Sutarto melihat apa yang dilakukan oleh Himma tak lebih dari perilaku yang tak sehat secara sosiologis. Pada dasarnya Himma hendak menyampaikan kritik, sayangnya tidak disampaikan pada tempatnya.

"Saya melihat ini dari perspektif yang berbeda. Secara sosiologis (perilaku Himma) adalah kritik yang tidak pada tempatnya, dampaknya jadi ujaran kebencian. Ini harus jadi perhatian semua terutama kalau hendak mengkritik kebijakan pemerintah atau pejabat publik," katanya, dalam Metro Pagi Primetime, Selasa, 22 Mei 2018.


Dalam kasus ini Sutarto mengingatkan bahwa masyarakat harus mampu membedakan media sosial dengan perusahaan media massa. Media sosial bukanlah perusahaan yang memproduksi informasi faktual sebab semua orang bisa menyatakan pendapatnya secara subjektif.

Media sosial juga tidak mempunyai tanggung jawab secara moral dan tanpa pengontrolan, sehingga apa pun yang terdapat di dalamnya menjadi tanggung jawab masing-masing pengguna. 

"Dalam hal ini saya menyebutnya ada mental illness. Kalau orang mengkritik berlebihan tidak pada tempatnya, merespons sesuatu secara berlebihan, itu merupakan ekspresi dari ketidakwarasan," katanya.

Baca juga: Sebut Bom Surabaya Pengalihan Isu, Himma Dinonaktifkan Dari Dosen USU

Apa yang dilakukan Himma, kata dia, hanyalah ekspresi ketidakpuasan terhadap pejabat publik. Himma menghubungkannya dengan hajat besar yang akan berlangsung dalam waktu dekat; Pilpres 2019, sehingga mudah berbuat sesuatu sesuai dengan aspirasi atau afiliasi politik pribadi.

Sutarto menambahkan, di luar konsekuensi pidana yang dihadapi Himma, hal lain yang perlu dilakukan adalah 'menyembuhkan' penyakit sosial itu. Salah satu langkah tepat yang dilakukan adalah teguran dan pemecatan sementara Himma sebagai dosen. 

Lebih lanjut Sutarto juga akan membuat kasus Himma sebagai pelajaran ke depan. Sistem pengawasan akan dibangun terutama berkenaan dengan dosen yang memiliki pemikiran berbeda.

"Kami di Forum Rektor Indonesia punya pokja (kelompok kerja), nanti akan diusulkan bagaimana mencegah dan mengatasi terjadinya hal-hal seperti ini. Karena ini adalah peringatan, kita harus waspada kalau dibiarkan akan ke mana-mana," jelas dia.

Himma Dewiyana Lubis merupakan Dosen Ilmu Perpustakaan di Universitas Sumatera Utara. Ia ditangkap atas dugaan pelanggaran UU ITE lantaran status di akun facebook pribadinya bernada ujaran kebencian.

Himma diketahui mengunggah status teror bom di sejumlah gereja di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu hanyalah skenario. Dia bahkan memasukkan tanda pagar #2019gantipresiden di dalamnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id