Jakarta: AirAsia X mengungkapkan adanya kenaikan tarif tiket sebagai langkah mitigasi menghadapi lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) akibat konflik yang tengah berlangsung dan menyebabkan ketidakpastian global.
Dalam sesi tanya jawab bersama media, Amanda Woo, Chief Commercial Officer of AirAsia X, mengungkapkan bahwa penyesuaian harga tidak lagi dapat dihindari. Menurutnya, tren harga tiket saat ini mengalami kenaikan yang cukup tajam dibandingkan periode sebelum konflik.
"Secara keseluruhan, tarif kami mengalami kenaikan antara 31% hingga 40% dibandingkan sebelumnya," ujar Amanda, Senin, 6 April 2026.
Selain kenaikan tarif dasar, AirAsia juga telah menerapkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sebesar 20% di seluruh grup hanya beberapa hari setelah konflik pecah. Langkah ini diambil karena harga avtur pasar melonjak drastis, lebih dari dua kali lipat.
Strategi Agar Tetap Terjangkau
Meskipun harga tiket naik, pihak manajemen menegaskan bahwa mereka tetap berupaya menjaga predikat sebagai maskapai yang terjangkau. AirAsia memilih untuk tidak menggunakan pendekatan "pukul rata" dalam menetapkan fuel surcharge.
"Kami menganalisis data bahan bakar secara menyeluruh serta laporan yang disusun oleh tim keuangan kami, yang mencakup rincian biaya bahan bakar berdasarkan rute dan jam penerbangan, dan kami tidak menerapkan pendekatan seragam (blanket approach)," tambah Amanda.
Sebagai kompensasi bagi penumpang, AirAsia menurunkan biaya bagasi (baggage fee) untuk pemesanan yang dilakukan sebelum terbang. Strategi ini diharapkan dapat meringankan total biaya perjalanan yang harus dibayar oleh penumpang.
"Kami telah menurunkan tarif biaya bagasi sebelum Anda terbang. Dengan demikian, biayanya menjadi lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya," tutupnya.
Jakarta: AirAsia X mengungkapkan adanya kenaikan tarif tiket sebagai langkah mitigasi menghadapi lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) akibat konflik yang tengah berlangsung dan menyebabkan ketidakpastian global.
Dalam sesi tanya jawab bersama media, Amanda Woo, Chief Commercial Officer of AirAsia X, mengungkapkan bahwa penyesuaian harga tidak lagi dapat dihindari. Menurutnya, tren harga tiket saat ini mengalami kenaikan yang cukup tajam dibandingkan periode sebelum konflik.
"Secara keseluruhan, tarif kami mengalami kenaikan antara 31% hingga 40% dibandingkan sebelumnya," ujar Amanda, Senin, 6 April 2026.
Selain kenaikan tarif dasar, AirAsia juga telah menerapkan biaya tambahan bahan bakar (
fuel surcharge) sebesar 20% di seluruh grup hanya beberapa hari setelah konflik pecah. Langkah ini diambil karena harga avtur pasar melonjak drastis, lebih dari dua kali lipat.
Strategi Agar Tetap Terjangkau
Meskipun harga tiket naik, pihak manajemen menegaskan bahwa mereka tetap berupaya menjaga predikat sebagai maskapai yang terjangkau. AirAsia memilih untuk tidak menggunakan pendekatan "pukul rata" dalam menetapkan fuel surcharge.
"Kami menganalisis data bahan bakar secara menyeluruh serta laporan yang disusun oleh tim keuangan kami, yang mencakup rincian biaya bahan bakar berdasarkan rute dan jam penerbangan, dan kami tidak menerapkan pendekatan seragam (blanket approach)," tambah Amanda.
Sebagai kompensasi bagi penumpang, AirAsia menurunkan biaya bagasi (baggage fee) untuk pemesanan yang dilakukan sebelum terbang. Strategi ini diharapkan dapat meringankan total biaya perjalanan yang harus dibayar oleh penumpang.
"Kami telah menurunkan tarif biaya bagasi sebelum Anda terbang. Dengan demikian, biayanya menjadi lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)