Jakarta: Para pencinta astronomi dan pengamat langit di Indonesia bersiaplah menyaksikan pertunjukan langit yang sangat istimewa. Langit malam di akhir bulan Mei 2026 ini tidak hanya menghadirkan fenomena astronomi langka berupa Blue Moon atau Bulan Biru, tetapi juga menjadi sorotan besar karena kemunculannya bertepatan langsung dengan peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta situs astronomi In The Sky, fase purnama Blue Moon ini akan mencapai puncaknya pada hari Minggu, 31 Mei 2026 pukul 08.45 UTC. Jika dikonversi ke waktu Indonesia, maka puncak keindahan bulan bulat penuh ini berlangsung pada:
15.45 WIB (Waktu Indonesia Barat)
16.45 WITA (Waktu Indonesia Tengah)
17.45 WIT (Waktu Indonesia Timur)
Menariknya, waktu puncak astronomi tersebut hanya berselisih beberapa detik saja dengan momentum spiritual umat Buddha. Menurut data resmi Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI, detik-detik Waisak 2026 jatuh pada Minggu, 31 Mei 2026 tepat pukul 15.44.44 WIB, yang biasanya dipusatkan di Candi Borobudur untuk memperingati tiga peristiwa penting, yaitu kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddhartha Gautama.
Mengapa Disebut Blue Moon Padahal Warnanya Tidak Biru?
Meskipun menyandang nama "Bulan Biru", bulan purnama ini sebenarnya tidak akan memancarkan warna biru di langit. Istilah Blue Moon dalam astronomi modern lebih berkaitan dengan sistem penanggalan kalender masehi ketimbang warna fisik bulan itu sendiri.
Secara umum, terdapat dua definisi mengenai Blue Moon, yaitu merujuk pada kemunculan bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender yang sama. Karena siklus bulan berlangsung selama 29,5 hari tidak selaras sempurna dengan jumlah hari di kalender Masehi maka setiap 2 hingga 3 tahun sekali akan ada satu bulan yang memiliki dua kali fase Full Moon.
Sedangkan pada definisi musiman, merujuk pada bulan purnama ketiga yang muncul dalam satu musim astronomi yang memiliki empat kali fase bulan purnama, lazimnya satu musim hanya memiliki tiga kali bulan purnama.
Secara historis, istilah ini diyakini berasal dari ungkapan bahasa Inggris kuno "once in a blue moon" yang menggambarkan sesuatu yang sangat langka atau hampir mustahil terjadi.
Namun, dalam catatan sejarah tertentu, bulan memang pernah benar-benar tampak kebiruan akibat distorsi atmosfer. Hal ini terjadi ketika partikel abu vulkanik super tebal atau asap kebakaran besar menyelimuti langit, contohnya setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Mengenal Sisi Micromoon
Keunikan Blue Moon tahun ini kian bertambah karena ia juga berstatus sebagai Micromoon. Fenomena ini terjadi ketika Bulan purnama berada di titik terjauh dari Bumi dalam orbit elipsnya, atau yang dikenal dengan istilah apogee.
Karena jaraknya yang sedang berada di titik terjauh, penampakan Bulan di langit malam akan terlihat sedikit lebih kecil (sekitar 14% lebih kecil) dan 30% lebih redup jika dibandingkan dengan fenomena Supermoon (saat Bulan berada di titik terdekat/perigee).
Baca Juga :
Mengenal Fenomena Supermoon, Blue Moon, dan Blood Moon
Menurut Seth McGowan, Presiden Adirondack Sky Center di New York, perbedaan ukuran ini memang cukup halus dan mungkin sulit disadari oleh mata telanjang pengamat awam tanpa adanya perbandingan langsung.
Namun, bagi para fotografer lanskap astro atau pengamat langit yang jeli, perbedaan redup dan ukurannya akan tetap terlihat kontras di kamera.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Para pencinta astronomi dan pengamat langit di Indonesia bersiaplah menyaksikan pertunjukan langit yang sangat istimewa. Langit malam di akhir bulan Mei 2026 ini tidak hanya menghadirkan fenomena astronomi langka berupa
Blue Moon atau Bulan Biru, tetapi juga menjadi sorotan besar karena kemunculannya bertepatan langsung dengan peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta situs astronomi In The Sky, fase purnama Blue Moon ini akan mencapai puncaknya pada hari Minggu, 31 Mei 2026 pukul 08.45 UTC. Jika dikonversi ke waktu Indonesia, maka puncak keindahan bulan bulat penuh ini berlangsung pada:
- 15.45 WIB (Waktu Indonesia Barat)
- 16.45 WITA (Waktu Indonesia Tengah)
- 17.45 WIT (Waktu Indonesia Timur)
Menariknya, waktu puncak astronomi tersebut hanya berselisih beberapa detik saja dengan momentum spiritual umat Buddha. Menurut data resmi Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI, detik-detik Waisak 2026 jatuh pada Minggu, 31 Mei 2026 tepat pukul 15.44.44 WIB, yang biasanya dipusatkan di Candi Borobudur untuk memperingati tiga peristiwa penting, yaitu kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddhartha Gautama.
Mengapa Disebut Blue Moon Padahal Warnanya Tidak Biru?
Meskipun menyandang nama "Bulan Biru", bulan purnama ini sebenarnya tidak akan memancarkan warna biru di langit. Istilah Blue Moon dalam astronomi modern lebih berkaitan dengan sistem penanggalan kalender masehi ketimbang warna fisik bulan itu sendiri.
Secara umum, terdapat dua definisi mengenai Blue Moon, yaitu merujuk pada kemunculan bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender yang sama. Karena siklus bulan berlangsung selama 29,5 hari tidak selaras sempurna dengan jumlah hari di kalender Masehi maka setiap 2 hingga 3 tahun sekali akan ada satu bulan yang memiliki dua kali fase Full Moon.
Sedangkan pada definisi musiman, merujuk pada bulan purnama ketiga yang muncul dalam satu musim astronomi yang memiliki empat kali fase bulan purnama, lazimnya satu musim hanya memiliki tiga kali bulan purnama.
Secara historis, istilah ini diyakini berasal dari ungkapan bahasa Inggris kuno "once in a blue moon" yang menggambarkan sesuatu yang sangat langka atau hampir mustahil terjadi.
Namun, dalam catatan sejarah tertentu, bulan memang pernah benar-benar tampak kebiruan akibat distorsi atmosfer. Hal ini terjadi ketika partikel abu vulkanik super tebal atau asap kebakaran besar menyelimuti langit, contohnya setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883.
Mengenal Sisi Micromoon
Keunikan Blue Moon tahun ini kian bertambah karena ia juga berstatus sebagai Micromoon. Fenomena ini terjadi ketika Bulan purnama berada di titik terjauh dari Bumi dalam orbit elipsnya, atau yang dikenal dengan istilah apogee.
Karena jaraknya yang sedang berada di titik terjauh, penampakan Bulan di langit malam akan terlihat sedikit lebih kecil (sekitar 14% lebih kecil) dan 30% lebih redup jika dibandingkan dengan fenomena Supermoon (saat Bulan berada di titik terdekat/perigee).
Menurut Seth McGowan, Presiden Adirondack Sky Center di New York, perbedaan ukuran ini memang cukup halus dan mungkin sulit disadari oleh mata telanjang pengamat awam tanpa adanya perbandingan langsung.
Namun, bagi para fotografer lanskap astro atau pengamat langit yang jeli, perbedaan redup dan ukurannya akan tetap terlihat kontras di kamera.
(
Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)