Jakarta: Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono, menilai Prof. Dr. M. Sardjito sangat layak untuk mendapat gelar pahlawan nasional seperti yang disyaratkan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2009 tengang gelar tanda jasa dan tanda kehormatan. Menurut
Jakarta: Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono, menilai Prof. Dr. M. Sardjito sangat layak untuk mendapat gelar pahlawan nasional seperti yang disyaratkan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2009 tengang gelar tanda jasa dan tanda kehormatan. Menurut

UGM Nilai Dr Sardjito Layak Dapat Gelar Pahlawan

Nasional pahlawan
inten Suhartien • 28 Februari 2018 01:33
Jakarta: Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono, menilai Prof. Dr. M. Sardjito sangat layak untuk mendapat gelar pahlawan nasional seperti yang disyaratkan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2009 tengang gelar tanda jasa dan tanda kehormatan. Menurutnya, dedikasi dan perjuangan serta penghargaan yang diberikan merupakan bukti Sardjito berhak mendapat gelar sebagai pahlawan nasional.
 
Sardjito, menurutnya, mendapat berbagai penganugerahan seperti Bintang Gerilya atas perannya membela NKRI, Bintang Mahaputera Tingkat I, Bintang Satya Lencana dan Satya Lencana Karya Satya, Bintang Mahaputera Kelas II (Anumerta 1970), Penghargaan Istimewa dari Pemerintah RI atas jasa mengembangkan UGM dan lain-lain.
 
"Belum lagi nama Doktor Sardjito telah dipakai sebagai nama salah satu rumah sakit umum di wilayah Yogyakarta, untuk menghargai jasa Doktor Sarjito pada bidang kesehatan dan pendidikan tinggi khususnya di bidang kedokteran," jelas Mulyono, Selasa 27 Februari 2018

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menuturkan, bidang kesehatan yang digeluti Sardjito menjadi salah satu cara mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan. Saat perang, beber Mulyono, Sardjito membuat makanan multivitamin yang dikenal dengan biskuit Sardjito untuk tentara RI.
 
"Doktor Sardjito juga memindahkan lembaga Institute Pasteur dari Bandung ke Klaten karena alasan keamanan pada tahun 1945," ungkapnya.
 
Setelah dipindahkan ke Klaten, Sardjito memproduksi obat serum dan vaksi untuk kebutuhan kesehatan tentara yang berjuang mempertahanjan kemerdekaan. Selain itu, Sardjito juga merangkap sebagai Ketua Palang Merah Indonesia di Klaten sejak Januari 1946.
 
"Ketika terjadi agresi militer kedua pada Desember 1948, Doktor Sardjito dan PMI Klaten tidak hanya mampu mendistribusikan logistik ke pos-pos palang merah di Klaten tetapi juga menjangkau pos-pos palang merah di daerah Yogyakarta bagian Selatan," bebernya.
 
Mulyono membeberkan, di bidang pendidikan pun Sardjito menjadi rektor pertama di Universitas Gadjah Mada. Itu menjadi tugas berat, lantaran harus menghidupkan universitas minim ruang kuliah, dosen, dan keuangan juga lambatnya sistem birokrasi kala itu.
 
"Naskah dan karya tulis Doktor Sardjito dalam bidang kesehatan maupun pendidikan merulakan aset, tongkat sejarah suatu bidang keilmuan di Indonesia. Sehingga berdasarkan fakta-fakta tersebut, Doktor Sardjito sangat layak untuk mendapat gelar pahlawan nasional," tukasnya.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif