foto: thetrumpets.com
foto: thetrumpets.com

​Pilpres ala Korut yang Prabowo Puji, Pernah Jadi Lelucon

Torie Natalova • 06 Agustus 2014 18:56
Jakarta: Curhat Prabowo dalam sidang Mahkamah Konstitusi yang menyebut Pilpres 2014 lebih buruk dibanding ajang serupa di Korea Utara (Korea Utara), memang beda dari yang lain. Dunia justru memandang 'pesta demokrasi' itu sebagai lelucon karena warga negara Korut tidak diberi pilihan capres selain Kim Jong Un seorang. 
 
Pemilu di Korea Utara (Korut) digelar pada 9 Maret 2014. Nama Kim Jong Un tercatat di semua kertas suara, dan warga Korut wajib memilih Kim Jong Un karena hanya dia calon tunggal pemimpin Korut.
 
Terdapat 700 daerah pemilihan dengan satu nama kandidat yang telah ditentukan oleh negara dan itu adalah Kim Jong Un. Biasanya, para pemilih hanya memilih "ya" atau "tidak".

Mau tidak mau, warga Korut harus memilih Kim Jong Un sebagai pemimpin Korut karena jika tidak memilih atau golput, mereka akan dicurigai sebagai orang-orang yang ingin menentang pemerintahan dan akan mendapat masalah di kemudian hari.
 
Sama seperti di Indonesia, Pemilu di Korut digelar setiap lima tahun sekali. Sistem pemilihan ini merupakan yang pertama dilakukan sejak Kim mewarisi kekuasaan sang ayah, Kim Jong Il yang meninggal 2011 lalu.
 
Hanya ada kontestan tunggal dan pilihan yang tersedia untuk dipilih hanya "ya" dan "tidak", langsung saja menjadi lelucon. Tidak butuh waktu lama di media social kala itu bermunculan parodi tentang pilpres ala Korut. Di antaranya adalah surat suara dengan pilihan "yes" dan "torture and death" sertar grafik hasil hitung cepat.
 
Sebelumnya, dalam memberikan kata pengantar saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di MK, Prabowo tidak percaya dirinya dan Hatta Rajasa yang didukung tujuh partai besar bisa memperoleh nol suara di beberapa TPS. Ia pun menyebut pelaksanaan Pilpres di Indonesia lebih buruk daripada pemilu di Korea Utara.
 
"Bahkan di Korea Utara pun tidak terjadi, mereka bikin 97,8 persen. Di kita, ada yang 100 persen, ini luar biasa. Ini hanya terjadi di negara totaliter, fasis dan komunis," kata Prabowo di ruang sidang MK, di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (6/8/2014).
 
Prabowo merasa tak mungkin mendapat nol suara karena didukung oleh 7 partai yang meraih 62 persen suara di Pileg 2014. Dia yakin perolehan suara 100 persen untuk kubu lawan tak mungkin terjadi, sebab, seharusnya, saksi yang dia miliki ikut memberikan suara untuk dirinya di TPS.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LHE)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>