Antrean pasien kanker yang mengunjungi salah satu rumah sakit kanker di Jakarta. (Foto: Medcom.id/Whisnu Mardiansyah).
Antrean pasien kanker yang mengunjungi salah satu rumah sakit kanker di Jakarta. (Foto: Medcom.id/Whisnu Mardiansyah).

Derita Pasien Kanker Payudara Setelah Obat Trastuzumab tak Ditanggung BPJS

Deny Irwanto • 22 Mei 2018 05:08
Jakarta: Ceisy Wuntu, perempuan berusia 53 tahun penderita kanker payudara merasa kesulitan setelah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tidak lagi menjamin obat Trastuzumab. Padahal, Trastuzumab merupakan standar terapi yang diakui dunia, bahkan masuk dalam daftar obat esensial WHO. 
 
"Ketika menjalani pemeriksaan dan pengobatan perasaan saya tenang-tenang saja karena saya pegawai negeri sipil dan pasti pengobatan dijamin oleh BPJS Kesehatan. Bahkan ketika beberapa teman dan saudara mengajak saya untuk ikut beberapa asuransi lain saya tidak tertarik karena saya yakin dengan BPJS," kata Ceisy dalam keterangan pers, Senin, 21 Mei 2018.
 
Ibu dua anak asal Manado, Sulawesi Utara tersebut sudah mengabdi sebagai aparatur sipil negara (ASN) sejak 1991. Dia didiagnosa menderita kanker payudara jenis HER2+ pada Februari 2018.

Ceisy sangat tidak menyangka jika BPJS Kesehatan tidak menanggung banyak hal dalam pemeriksaan hingga pengobatan kanker yang dideritanya. 
 
Namun yang paling membuatnya kaget sekaligus sedih adalah obat yang merupakan standar terapi untuk kanker yang dideritanya dan yang disarankan dokter ternyata tidak lagi ditanggung BPJS Kesehatan, sementara sebelumnya obat tersebut ditanggung. 
 
"Dua hari setelah saya melakukan biopsi dan divonis menderita kanker payudara stadium 3B, dokter mengatakan bahwa obat terbaik untuk saya itu adalah Trastuzumab. Untuk kemoterapi pertama saya pada 29 Maret bayar pribadi dulu karena rasanya seperti sudah mau meletus. Saya yakin BPJS Kesehatan nanti akan menanggung. Saya kaget dan sangat kecewa, karena saya pikir obat-obat saya akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan, tapi ternyata tidak. Rasanya hati saya sedih sekali," keluh Ceisy.
 
Ceisy menjelaskan, sampai saat ini dia sudah tiga kali menjalani kemoterapi dengan total biaya Rp29 juta yang harus ditanggung sendiri agar tetap menggunakan Trastuzumab. 
 
"Jadi saya saat ini seperti berspekulasi, sampai di mana saya dan keluarga mampu, sampai kapan keluarga bisa menyediakan itu. Saat ini baru tiga kali sementara harusnya sampai 18 kali. Karena ingin obat yang bagus akhirnya saya bayar sendiri dan kemoterapi ini dengan sistem paket, jadi saya tidak lagi menggunakan obat kemoterapi dari BPJS karena dalam pemeriksaan sebelumnya memberikan efek ke jantung saya," ungkap Ceisy. 
 
Ceisy sempat datang ke kantor BPJS Kesehatan di Cempaka Putih, Jakarta. Dia bertanya mengenai kemungkinan untuk menggunakan Trastuzumab yang bisa ditanggung BPJS Kesehatan.
 
Dia menceritakan bahwa dia terdeteksi sejak Februari 2018 sementara BPJS Kesehatan mencabut Trastuzumab terhitung 1 April 2018 dan pandangannya harusnya masih ditanggung. Namun BPJS Kesehatan bergeming.
 
Ceisy juga sempat berkirim surel ke pimpinan BPJS Kesehatan pada 23 April, namun belum ada tanggapan.
 
Sebelumnya dikutip dari Media Indonesia, BPJS Kesehatan memutuskan tidak lagi menjamin salah satu obat bagi pasien kanker payudara stadium lanjut, yakni trastuzumab. Kebijakan tersebut diambil berdasarkan rekomendasi dari Dewan Pertimbangan Klinis dan akan berlaku mulai 1 April mendatang.
 
"Pasien yang sudah mendapat terapi ini sebelum 1 April akan dijamin hingga periode terapinya selesai. Tetapi untuk pasien yang baru terdiagnosis tidak dijamin," ujar Asisten Deputi Bidang Utilisasi dan Anti-fraud Rujukan BPJS Kesehatan, Elsa Novelia, pada seminar Harapan Penderita Kanker di Era BPJS, di Jakarta, Rabu, 28 Februari 2018.
 
Elsa menjelaskan Dewan Pertimbangan Klinis menilai Trastuzumab tidak efektif untuk terapi kanker payudara stadium lanjut. Karena itu, keberadaan obat tersebut dalam daftar Formularium Nasional (Fornas) ditinjau ulang.
 
"Ada pilihan obat lain. Harganya memang lebih mahal. Tapi kita tidak melihat aspek biaya saja, juga efektivitas obat tersebut," terang Elsa.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(HUS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>